Rumah Kediaman keluarga Naryo, RT 04/02, Abadijaya, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat, yang dijadikan sebagai tempat penadahan bayi Aditya. Foto: Erwin Maulana/Kriminologi.id

Suami Penadah Bayi Aditya Sedih Anaknya Lihat Sang Ibu Ditangkap

Estimasi Baca:
Selasa, 1 Mei 2018 11:00:20 WIB

Kriminologi.id - Sunaryo, istri Unarsih Sulistyowati, pelaku yang diduga menjadi penadah bayi hasil penculikan yang dilakukan Sumiati mengaku bingung usai istrinya ditangkap aparat Polresta Depok terkait kasus itu. Bahkan, Sunaryo mengaku sedih melihat anaknya yang masih duduk di kelas 4 sekolah dasar menyaksikan ibunya ditangkap polisi.

Wajah bingung sekaligus sedih muncul dari raut Sunaryo saat ditemui Kriminologi.id di tempat kerjanya sebagai sopir mobil sewaan di dekat Pasar Agung Jalan Proklamasi, Kelurahan Abadijaya, Sukmajaya, Kota Depok. 

Di tempat itu, Sunaryo sedang berkumpul dengan beberapa sopir lain. Sesekali pandangan kosong dari matanya terlihat saat berbincang dengannya. Sunaryo tak menyangka istrinya terlibat dalam kasus penculikan bayi Aditya.

Setelah penangkapan itu Sunaryo mengaku semakin bingung dan tidak tahu hendak kemana. Anaknya yang masih duduk di kelas 4 SD, bahkan turut menyaksikan ibunya ditangkap polisi.

"Saya sedih, bingung mau gimana lagi. Saya ini cuma sopir, istri saya juga cuma ngurus anak di rumah. Kita ndak tahu apa-apa, mas, ndak tahu gimana caranya ngomong, apalagi ngomong depan polisi saya takut kalo salah omong istri saya langsung ditahan. Anaknya juga lihat pas ibunya ditangkap, kasian, mas," ujar Sunaryo kepada Kriminologi.id, Senin, 30 April 2018.

Setelah istrinya dibawa petugas untuk diperiksa lebih lanjut di Polresta Depok, Sunaryo memutuskan untuk memboyong anak semata wayangnya itu ke rumah mertuanya.

"Ndak tahu lagi mau bilang apa ke anak saya, saya langsung bawa dia ke rumah mertua saya, ke rumah neneknya. Kasihan liatnya,” ujar Sunaryo menambahkan.

Bahkan lebih lanjut Sunaryo mengatakan, dirinya sengaja tidak memberitahukan orang tuanya terkait kasus itu karena merasa kasihan dengan orang tuanya.

“Tapi kalo orang tua saya belum tahu. Saya sih niatnya ndak mau ngasih tahu, mas, takutnya mereka kepikiran," ujar Sunaryo.

Hingga kini, Sunaryo mengaku gelisah berada di tempat kerja milik majikannya. Sunaryo nampak sesekali merebahkan badan di bak mobil pikap yang menjadi mata pencariannya menjadi sopir.

Sesekali pula Sunaryo duduk termenung di teras garasi mobil. Untuk sementara ini, Sunaryo berencana akan meminta izin majikannya untuk menumpang tidur di garasi mobilnya.

Menurut Sunaryo, penangkapan terhadap Sumiati, pelaku yang diduga menculik bayi Aditya terjadi pada Senin pagi, 30 April 2018. Sunaryo terkejut ketika diberi tahu bahwa istrinya ditangkap polisi. 

"Ya pagi tadi itu, pas saya udah di tempat kerja, baru aja mau narik ada yang nyewa pikap buat pindahan kosan. Eh, tiba-tiba ada yang ngasih tahu saya ada banyak polisi dateng ke rumah saya,” kata Sunaryo.

Sunaryo menuturkan bahwa dirinya mengingat betul detik-detik istrinya ditangkap. Bahkan, Dia sempat menitipkan kunci kepada tetangga rumah kontrakannya karena mengantarkan anaknya jajan ke warung.

 “Pas saya pulang kok ya banyak polisi. Saya samperin tiba-tiba ditahan, ada yang nanya gini ke saya: 'bapak siapa, ya saya jawab saya suaminya, kata polisinya bapak sementara rumahnya kami segel karena ibu kena kasus, sumpah saya belum sempat ngobrol sama istri, mas," ujar Sunaryo.

Unarsih Sulistyowati (45) dan Sumiati ditangkap polisi karena dugaan kasus penculikan bayi Aditya di rumah kontrakannya di Jalan Maliki II RT 04/RW 02, Sukmajaya, Depok, Senin, 30 April 2018.

Penangkapan pelaku penculikan bayi Aditya Hamizan Purnomo dilakukan jajaran Polresta Depok, Jawa Barat. 

Bayi Aditya masih mengenakan baju dan kain biru yang digunakan menutupi kepalanya. Pelaku penculikan, Sumiati mengenakan kerudung berwarna ungu sedangkan penadahnya memakai kerudung merah. 

Saat ditemukan, bayi Aditya masih mengenakan kaos yang sama serta kain biru seperti saat terakhir diletakkan Marliana, ibu kandung bayi sebelum diculik. AS

Reporter: Erwin Maulana
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500