Ilustrasi Penjara. Foto: Unsplash.com

Tahanan Anak Satu Sel dengan Napi Dewasa Dikhawatirkan Sulit Berubah

Estimasi Baca:
Sabtu, 2 Jun 2018 14:05:58 WIB

Kriminologi.id - Badan Pemasyarakatan Bengkulu khawatir adanya penambahaan jumlah anak berhadapan dengan hukum (ABH) di Lapas Klas II A Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Jumlah anak yang masuk ke lapas tersebut meningkat setiap tahunnya dengan jenis kejahatan berbeda. Selain itu, penahanannya tergabung dengan warga binaan dewasa.

"Jumlah anak yang masuk ke Lapas Klas II A Curup saat ini 25 orang. Setiap tahun jumlahnya terus meningkat dan jenis kejahatannya juga bermacam-macam. Jika tidak ada upaya penanganan dikhawatirkan jumlah mereka akan terus bertambah," kata petugas Bapas Bengkulu, A Mihardi pada Jumat, 1 Juni 2018.

Mihardi menjelaskan, anak yang menjalani hukuman di Lapas Klas II A Curup berasal dari tiga kabupaten yakni Rejang Lebong, Kepahiang, dan Lebong. Mereka, kata Mihardi, harus mendapatkan penanganan mulai dari penyebab melakukan perbuatan melanggar hukum hingga upaya menekan tindak kejahatan yang dilakukan anak.

Saat ini, napi anak tersebut menjalani penahanan dalam lapas dan tergabung dengan warga binaan berusia dewasa. Hal ini dilakukan, mengingat di Bengkulu belum ada lapas anak.

Mihardi mengatakan, pihaknya khawatir jika nantinya warga binaan berusia dewasa itu akan memengaruhi ABH dan akan menyulitkan mereka untuk berubah.

Terkait dengan bertambahnya jumlah ABH yang ditahan bersamaan dengan warga binaan dewasa, Kepala Lapas Klas II A Curup Ahmad Faedhoni mengatakan, kalangan ABH ini sudah mendapatkan hak-hak mereka sebagai anak seperti hak mendapatkan pendidikan, pelayanan kesehatan dan lainnya. 

"Saat ini mereka sudah bisa sekolah melalui program Paket A, B dan C, ke depannya kami juga sudah menjalin MoU dengan Universitas Terbuka. ABH yang sudah tamat dari Paket C atau warga binaan lainnya yang sudah tamat SMA mau kuliah bisa melanjutkan kuliah dari dalam lapas," kata Ahmad.

Selain itu, kata Ahmad, ABH dan warga binaan yang menjalani sanksi hukuman di wilayah itu juga mendapatkan pembinaan keagamaan. Tujuannya, kata Ahmad menambahkan, agar mereka bisa belajar pengetahuan agama dan tidak mengulangi perbuatannya.

Upaya penanganan masalah ABH di Kabupaten Rejang Lebong, kata Ahmad, sudah ada Forum Koordinasi Penanganan Anak Berhadapan Dengan Hukum (FKABH). Forum ini dibentuk berdasarkan Keputusan Bupati Rejang Lebong No.180.435.IX tahun 2017 dan melibatkan berbagai stakeholder di daerah tersebut.

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500