Ilustrasi anak SD tewas dibunuh. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Tewaskan Teman SD Sebangku, P2TP2A Dampingi Pelaku dari Sanksi Sosial

Estimasi Baca:
Rabu, 25 Jul 2018 16:45:02 WIB

Kriminologi.id - Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyiapkan psikolog untuk memulihkan kondisi kejiwaan anak yang menjadi terduga penganiayaan temannya hingga akhirnya tewas. Pendampingan itu dilakukan untuk mengantisipasi jika anak mendapatkan sanksi sosial.

"Kami telah menyiapkan psikolog untuk memberi pendampingan terhadap anak di Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut itu untuk memulihkan mentalnya," kata Ketua P2TP2A Kabupaten Garut, Diah Kurniasari Gunawan, Rabu, 25 Juli 2018.

Diah mengatakan, pendampingan terhadap anak dengan kasus penganiayaan itu sebagai bagian untuk menjaga masa depan anak tersebut. Pendampingan kepada anak sebagai terduga pelaku itu, kata Diah, perlu dilakukan untuk menjaga kejiwaannya terutama saat menghadapi sanksi sosial yang dinilai lebih kejam daripada sanksi hukum.

"Biasanya, sanksi sosial bisa lebih kejam, kita hindari ini terjadi, kita juga akan ajak bicara orang-orang di lingkungan rumahnya dan pihak sekolah," kata Diah.

Pihaknya pun menyatakan prihatin atas munculnya kasus kekerasan terhadap anak tersebut. Kasus tersebut, kata Diah, menjadi perhatian P2TP2A dan semua elemen masyarakat untuk menyelesaikannya, agar kejadian serupa tidak jadi lagi.

Dia menuturkan, pihaknya mendapatkan informasi kejadian di salah satu sekolah di Garut tersebut dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Garut. Mereka, kata Diah, kemudian memintanya untuk mendampingi kasus tersebut.

"Kita langsung turun ke lapangan melakukan assessment awal, kita kerjasama dengan PPA Polres dalam menanganinya," ucap Diah.

Dari hasil penanganan sementara, dua anak kelas 6 Sekolah Dasar (SD) yang terlibat itu masih ada ikatan saudara, dan sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Namun jajarannya tetap akan menggali informasi lebih jauh tentang penyebab insiden itu juga memberikan hak-hak anak selama dalam penegakan hukumnya.

"Polres melakukan penegakan hukum, kita menegakkan hak-hak anak, terutama soal pendidikannya," kata Diah.

Sebelumnya dua siswa SD kelas 6 yakni HK (12) dan FN (12) terlibat perkelahian yang dipicu karena tuduhan dari terduga pelaku kepada korban telah menyembunyikan buku pelajaran.

Usai pulang sekolah terduga pelaku yakni HK menganiaya FN dengan menggunakan gunting bekas pelajaran prakarya kesenian di sekolahnya. Korban mengalami luka dan sempat dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis, namun, FN meninggal dunia. AS

Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500