Ilustasi tipe orang tua yang tega bunuh anaknya, Ilustrasi: Kriminologi.id

Wanita Bali Bunuh 3 Anaknya Didakwa Hukuman Mati, Sempat Beri Baygon

Estimasi Baca:
Rabu, 6 Jun 2018 20:45:33 WIB

Kriminologi.id - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Gianyar, Bali mendakwa hukuman mati terhadap Putu Septyan Parmadani (33) atas kasus pembunuhan tiga orang anaknya. Guru SD itu diseret ke pengadilan atas dugaan dengan sengaja dan terencana membunuh tiga anak kandungnya yang masih kecil.

JPU Echo Aryanto Pasodung mengatakan, sejak awal pernikahan terdakwa dengan suaminya yakni I Putu Moh Diana (35), sudah tidak harmonis dan sering bertengkar. Bahkan, Echo menambahkan, sang suami pernah minta bercerai.

"Inilah yang menimbulkan kekecewaan dan emosi, hingga terdakwa berniat melampiaskan kemarahannya dengan menghabisi nyawa ketiga anaknya. Termasuk merencanakan membeli racun pembasmi serangga merek Baygon di salah satu minimarket kawasan Desa Sulangai, Kecamatan Petang, yang tak jauh dari rumah terdakwa dan suaminya," kata Echo di persidangan itu, seperti dikutip dari Nusabali.com pada Rabu, 6 Juni 2018.

Dalam persidangan yang berlangsung pada Selasa, 5 Juni 2018, terdakwa didampingi tim kuasa hukumnya berjumlah 11 orang. Sedangkan JPU membacakan dakwaan seorang diri.

Terdakwa diduga membunuh ketiga anaknya yakni Ni Putu Diana Mas Pradnya Dewi (6), I Made Mas Laksmana Putra (4), dan I Nyoman Mas Kresna Dana Putra (2). Lokasi pembunuhan diduga terjadi di rumah terdakwa di Desa Banjar Palak, Kecamatan Sukawati, Gianyar, Bali pada 21 Februari 2018.

Echo melanjutkan, terdakwa pernah bercerita kepada temannya yakni Ni Made Kencana Putri saat mengikuti workshop di Hotel Mahajaya Ubung, Denpasar. 

"Kala itu, terdakwa Putu Septyan mengucapkan kalimat ‘Jeg sube sing kuat asane tiyang hidup. Yen tiyang mati, jeg kal ajak tiyang panak tiyange mati’ (Saya sudah tidak kuat hidup. Kalau saya mati, akan saya ajak sekalian anak-anak saya mati)," kata Echo memaparkan.

Echo pun membacakan cara terdakwa menghabisi nyawa ketiga anaknya. Ia mengatakan, terdakwa membekap mulut ketiga anaknya secara bergilir dengan kedua tangannya. 

“Sebelum melakukan pembunuhan, terdakwa Putu Septyan sempat mencari-cari pensil atau pulpen untuk mengganjal pintu kamarnya yang dalam kondisi rusak,” ujar Echo.

Pembunuhan pertama terdakwa lakukan terhadap anak sulungnya. Korban dibekap di bagian mulut dan hidungnya dengan menggunakan tangan kanan terdakwa selama 10 menit. Sementara tangan kiri terdakwa berusaha memegang kedua tangan korban yang sempat mencoba melakukan perlawanan.

"Setelah anak sulungnya tidak bergerak, terdakwa Putu Septyan lanjut mengecek denyut nadi di pergelangan tangan korban selama 10 menit. Kemudian, terdakwa memeriksa lubang hidung korban selama 10 menit untuk memastikan benar-benar sudah meninggal," kata Echo.

Aksi serupa juga dilakukan terdakwa terhadap anak kedua dan ketiganya. Saat itu, mereka sedang tertidur pulas.

“Posisi telapak tangan kanan terdakwa yang dalam keadaan terbuka, ditumpuk oleh telapak tangan kiri yang juga dalam keadaan terbuka secara bersama-sama menekan keras ke arah mulut serta hidung korban selama 10 menit,” ujar Echo.

Setelah JPU selesai membacakan dakwaannya, anggota majelis hakim Wawan Prastyo langsung bertanya kepada terdakwa. 

“Bagaimana, apakah saudari terdakwa menerima dakwaan dari jaksa?” tanya Wawan. Terdakwa Putu Septyani langsung manggut-manggut. 

Atas dakwaan ini, melalui penasihat hukumnya, Nyoman Yudara, terdakwa menyatakan mengajukan eksepsi. Terdakwa menangis sambil menyandarkan kepalanya ke bahu salah satu pengacaranya, Ni Luh Sukawati.

“Dia menangis setelah persidangan, itu menunjukkan jiwanya tergoncang. Dia tak banyak bicara, ekspresinya sedih,” ujar Somya Putra, salah satu penasihat hukum terdakwa.

Dalam eksepsi nantinya, Somnya menambahkan, pihaknya akan memberikan gambaran yang terang sebelum memeriksa saksi-saksi agar hakim benar-benar obyektif.

Pada kasus ini, JPU mendakwa Putu Septyan dengan Pasal 340 KUHP subsider Pasal 338 KUHP dan Pasal 80 ayat (3) dan (4) Undang-undang RI Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-undang RI Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Kalau Pasal 340 KUHP, ancaman hukumannya ya mati, karena dianggap pembunuhan berencana. Tapi, kami menilai ada sesuatu yang perlu diluruskan secara formil. Makanya, kami sepakat ajukan eksepsi," kata Somya.

Sidang lanjutan dengan agenda pembacaan eksepsi terdakwa Luh Putu Septyan Parmadani akan digelar PN Gianyar, 26 Juni 2018. Seusai persidangan, terdakwa langsung dibawa ke Rutan Gianyar.

KOMENTAR
500/500