Cegah Pernikahan Dini, KPAI Soroti KUA Perbolehkan Nikah di Bawah Umur

Estimasi Baca :

Ketua KPAI Susanto memberikan keterangan pers di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Foto: Walda Morison/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ketua KPAI Susanto memberikan keterangan pers di Kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, Foto: Walda Morison/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Pemicu terjadinya pernikahan anak di bawah umur salah satunya berasal dari orang tua. Padahal, pembinaan yang dilakukan keluarga terhadap anaknya merupakan sesuatu yang penting.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susanto menyoroti Kantor Urusan Agama (KUA) yang menikahkan pasangan di bawah umur. Ia berharap pihak KUA berani menolak pasangan di bawah umur yang meminta izin menikah. 

"Ini tanggung jawab kita memastikan agar anak kita tidak ada anak yang menikah dini. Kita harus memaksimalkan pencegahan itu," ujar Susanto, di kantor KPAI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin, 28 Mei 2018.

Susanto menambahkan, kualitas berpikir keluarga itu sangat menentukan dalam mencegah praktek pernikahan dini. Maka pendidikan keorangtuaan atau parenting skill perlu disosialisasikan dan diperkuat di semua daerah. 

Pendidikan kepada orang tua, kata Susanto, penting dilakukan sebab keluarga merupakan ruang lingkup pertama anak-anak mendapatkan pendidikan.

Selain untuk mencegah pernikahan dini, pendidikan bagi pada orang tua juga dapat mencegah terjadinya tindakan eksploitasi pada anak, mencegah kekerasan terhadap pengasuhan, serta mencegah terkendalanya pemenuhan hak-hak dasar anak.

"Bukan hanya untuk menghimbau agar tidak menikahkan anaknya yang masih di bawah umur saja, tetapi tujuan lainnya untuk menghentikan tindak eksploitasi anak yang kerap dilakukan orang tua," Susanto menegaskan.

Salah satu contoh kasus pernikahan anak di bawah umur itu dengan orang tua sebagai pemicu terjadi di Sulawesi Selatan pada beberapa waktu lalu.

Di sana, kata Susanto, seorang siswi SMP harus rela dinikahkan dengan alasan takut tinggal sendiri di rumah karena sang ibu telah tiada dan sang ayah kerap bekerja keluar kota. 

Susanto membeberkan data dari UNICEF pada tahun 2015 prevalensi perkawinan anak sebesar 23 persen. Bahkan, satu dari lima perempuan yang berusia 20 - 24 tahun telah melakukan perkawinan pertama pada usia di bawah 18 tahun.

Susanto berharap, dengan maraknya pernikahan dini serta dampak negatif yang menyertai, orang tua mampu berperan memberikan pengasuhan terbaik untuk memenuhi kebutuhan anak tidak hanya kebutuhan fisik tetapi psikologis serta memberikan edukasi kesehatan reproduksi kepada anak. YH/

Baca Selengkapnya

Home Renata Remaja Cegah Pernikahan Dini, KPAI Soroti KUA Perbolehkan Nikah di Bawah Umur

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu