Ilustrasi Tawuran. Foto: Kriminologi.id

Detik-detik Alumni SMAN 29 Tewas Dibacok Saat SOTR, Sempat Ditolak RS

Estimasi Baca:
Senin, 11 Jun 2018 16:10:25 WIB

Kriminologi.id - Alumni SMA Negeri 29 Jakarta, Pedro Leonardo Pamanda, akhirnya tewas meski berhasil kabur dari orang tak dikenal yang membacoknya di bagian punggung. Pria berusia 18 tahun itu menghembuskan nafas terakhirnya setelah ditolak pihak Rumah Sakit Muhammadiyah.

Salah seorang teman korban bernama Gilang, mengisahkan detik-detik kematian Pedro usai mengalami pembacokan. Peristiwanya bermula ketika Pedro dan rekan-rekannya berkonvoi hendak Sahur on The Road atau biasa disingkat SOTR di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Ketika sedang duduk di pinggiran jalan, dia dan temannya tiba-tiba diserang. 

“Dia (Pedro), kan duduknya di sisi yang paling dekat dengan kelompok penyerang itu. Tapi dia tidak dipukulin, cuma dibacok aja punggungnya. Mungkin karena panik jadi dia ngga ngerasa kalau dibacok,” kata Gilang di Jakarta, Senin, 11 Juni 2018.

Menurut penuturan Gilang, dirinya dan teman-temannya semula tak mengetahui kalau Pedro menjadi korban pembacokan. Saat terjadi penyerangan, Pedro sempat lari menyelamatkan diri. Setelah beberapa lama berlari, Pedro memutuskan mengambil sepeda motor miliknya yang sebelumnya diparkir di pinggir jalan.  

Namun, dalam perjalan menuju sekolah SMAN 29 Jakarta yang diperkirakan hanya berjarak kurang lebih 1 kilometer dari lokasi kejadian, Pedro sempat mengeluh kesakitan di bagian punggung kepada seorang temannya. Tak lama kemudian, temannya diminta Pedro untuk mengendarai sepeda motor miliknya.

Belum sampai lokasi tujuan, kata Gilang, tepatnya di kawasan Velbak atau berjarak 500 meter dari lokasi pembacokan, tubuh Pedro lebih dulu tersungkur, di mana salah seorang rekannya kala itu hendak bergantian mengendarai motor milik Pedro.

"Dia jatuh di jalan. Waktu itu belum ada yang sadar kalo Pedro itu dibacok. Waktu Pedro jatuh baru lihat punggung berdarah makanya langsung dibawa ke rumah sakit," kata Gilang.

Selanjutnya, beberapa rekannya membawa Pedro ke Rumah Sakit Muhammadiyah lantaran dinilai paling dekat. Sayang, pihak rumah sakit menolak korban.

Akhirnya, Pedro dibawa ke Rumah Sakit Pusat Pertamina menggunakan mobil. Setibanya di RSPP, nyawa Pedro tak bisa diselamatkan lantaran dalam perjalanan telah banyak mengeluarkan darah.

"Di RSPP saat diperiksa kata dokter, Pedro tidak bisa diselamatkan. Sepertinya dalam perjalanan sudah tidak ada," kata Gilang. TD

Reporter: Rizky Adytia
Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500