Tawuran pelajar di Bantargebang, Bekasi. Foto: Ist/Kriminologi.id

Fakta Tawuran Pelajar SMK Bekasi, Adu Mulut di Medsos hingga Adu Fisik

Estimasi Baca:
Kamis, 30 Ags 2018 07:00:56 WIB

Kriminologi.id - Siswa SMK Karya Bahana Mandiri bernama Indra Permana tewas dalam tawuran antarpelajar di Jalan Raya Sumur Batu, Bantargebang, Kota Bekasi. Indra diduga dibacok dengan senjata tajam jenis celurit oleh SMK Pijar Alam.

Tawuran pelajar hingga merenggut nyawa ini seakan tak pernah habis. Pula penyebabnya kerap karena hal sepele.

Berikut ini Kriminologi.id himpun fakta-fakta tawuran pelajar SMK Bahana Mandiri dan SMK Pijar Bekasi pada Kamis, 16 Agustus 2018 pukul 16.00 WIB:

1. Cekcok di Medsos

Menurut polisi, tawuran antar-SMK Karya Bahana Mandiri (KBM) dan SMK Pijar Alam diawali pertikaian di media sosial pada Rabu, 15 Agustus 2018. Aksi saling ledek tersebut kemudian berujung pada kesepakatan untuk menyelesaikan dengan tawuran.

Ilustrasi: Media sosial Foto: Pixabay
Ilustrasi: Media sosial Foto: Pixabay

Kedua kubu sepakat bertemu pada keesokannya, Kamis, 16 Agustus 2018 pukul 16.00 WIB. Kedua kubu pun bertemu di Jalan Raya Sumur Batu yang sedikit lengang dari lalu-lintas kendaraan bermotor.

Sekitar pukul 16.00 WIB, 15 pelajar SMK KBM mulai berkumpul di sekitar lokasi yang sudah dijanjikan. Mereka mempersiapkan diri dengan membawa berbagai jenis senjata tajam jenis celurit buatan dan stik golf.

Tiga puluh menit kemudian atau pukul 16.30 WIB, para pelajar dari SMK Pijar Alam yang berjumlah 7 orang datang dan langsung menantang 15 pelajar SMK KBM.

Lokasi tawuran di Jalan Raya Pakalan II, Bekasi. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id
Lokasi tawuran di Jalan Raya Pakalan II, Bekasi. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Meski kalah jumlah, 7 pelajar SMK Pijar Alam malah memukul mundur kelompok SMK KBM. Bahkan satu pelajar bernama Indra Permana yang jatuh saat dikejar para pelaku tewas setelah tiga orang pelajar SMK KBM menyabetkan celurit ke kepala, dada dan lengan korban.

2. Peran Alumni

Kapolsek Bantargebang, Kompol Siswo mengatakan, kesepakatan untuk tawuran tak lepas dari campur tangan para alumni dua sekolah. Ketika terjadi pertikaian di media sosial pada Rabu, 15 Agustus 2018, para alumni 'mengompori' pelaku agar bertemu. Para alumni ini bahkan menyediakan celurit yang dibeli seharga Rp 35 ribu.

pelaku tawuran pelajar di bantargebang
Senjata yang digunakan dalam tawuran antar pelajar di Bantargebang, Kota Bekasi, yang tewaskan satu orang. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

3. Joki Tawuran

Berdasarkan penyelidikan, dalam tawuran tersebut terdapat joki yang bertugas untuk menyelamatkan pelajar yang berhasil melukai lawan.

Tawuran pelajar di Bantargebang, Bekasi. Foto: Ist/Kriminologi.id
Tawuran pelajar di Bantargebang, Bekasi. Foto: Ist/Kriminologi.id

Menurut Siswo, joki yang membawa pelajar tidak boleh diserang kelompok lawan. Hal tersebut sudah menjadi kesepakatan di antara  dua kubu yakni SMK Pijar Alam dengan SMK Karya Bahana Mandiri (KBM) sebelum tawuran terjadi.

Siswo menambahkan pihaknya masih menyelidiki apakah joki tersebut merupakan alumni dua sekolah.

4. Serangan Balasan

Empat hari setelah Indra Permana tewas, puluhan pelajar yang diduga berasal dari SMK Karya Bahana Mandiri (KBM), Kota Bekasi mendatangi dan merusak gedung SMK Pijar Alam, Senin, 20 Agustus 2018.

Kepala SMK Pijar Alam, Agus mengatakan, penyerangan terjadi pukul 12.40 WIB. Puluhan pelajar KBM berboncengan sepeda motor melempari bagian depan gedung sekolah dengan menggunakan batu dan petasan.

Menurut Agus, penyerangan tersebut berlangsung secara singkat lantaran puluhan pelajar tersebut diusir warga sekitar sekolah yang kesal dengan ulah para pelajar tersebut.

"Enggak lama penyerangannya, sekitar 5 menitan, dibubarin sama warga sini," katanya.

Gedung SMK Pijar Alam Bekasi dirusak pelajar SMK Karya Bahana Mandiri (KBM). Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id
Gedung SMK Pijar Alam Bekasi dirusak pelajar SMK Karya Bahana Mandiri (KBM). Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Menurut Agus, saat puluhan siswa melempari gedung sekolah SMK Pijar Alam, anak didiknya tidak berada di kelas. Para siswa sedang berada di masjid yang terletak di belakang sekolah.

"Beruntung anak-anak lagi di masjid, kalau anak-anak ada bisa panas lagi itu. Bisa terjadi hal yang tidak diinginkan," tuturnya.

Awalnya, Agus mengaku sama sekali tidak mengetahui alasan puluhan pelajar SMK KBM melakukan penyerangan ke gedung SMK Pijar Alam. Namun setelah diselidiki, ternyata anak didiknya terlibat tawuran dengan SMK KBM.

KOMENTAR
500/500