Ilustrasi Perdagangan Orang. Ilustrasi: Kriminologi.id

Hendrik Tahu Anaknya Jadi Korban Perdagangan Manusia Sejak 2 Bulan

Estimasi Baca:
Senin, 30 Apr 2018 21:10:32 WIB

Kriminologi.id - Sebagai orang tua, Hendrik dan Sukaesih mengaku sudah 2 bulan mengetahui anaknya jadi korban perdagangan manusia. Selama itu, mereka hanya bisa menunggu kabar nasib anaknya yang berusia 16 tahun berinisial W yang kini bekerja sebagai pemandu lagu di Nabire, Papua.

Hendrik mengatakan, setelah mengetahui anaknya berada di Papua selama hampir dua bulan, dirinya begitu sulit untuk menghubungi anak ketiganya itu. Saban berkomunikasi, itu karena yang memulai sang anak yang menghubungi dirinya lebih dulu. 

"Selalu dia yang hubungin saya dari sana (Papua). Kalau saya telpon balik engga bisa, gak ngerti saya," kata Hendrik di rumahnya di Bekasi Utara, Jawa Barat, Senin, 30 April 2018.

Karena saking jarang berkomunikasi dengan anaknya yang selama hampir dua bulan berada di Papua, Hendrik bisa menghitung, berapa kali anaknya memberikan kabar kepada ibunya yang begitu cemas dengan keadaan Weni di Papua.

"Bisa dihitung mas, tiga sampe empat kali itu ngasih kabar, selalu dia kasih kabar, kita gak bisa," katanya.

Hendrik mengatakan, sebenarnya anak ketiganya itu ingin sekali pulang. Namun, hasrat anaknya itu urung terlaksana lantaran terlilit utang. Dari informasi yang diperolehnya, anaknya berutang sebesar Rp 11 juta. Uang tersebut disebut utang anaknya kepada karaoke tempatnya bekerja dan Dewi, seorang germo atau wanita yang membawa korban W ke Papua. 

"Sempet sakit terus dirawat sama bosnya habis Rp 4 juta buat biaya pengobatan. Itu jadi utang, ditambah lagi utang biaya berangkat ke Papua. Jadi, utangnya sekitar Rp 11 juta," katanya.

Seperti diketahui Weni bekerja di Papua setelah dibawa oleh Ika Dewi Ratnawati. Kepada orang tuanya Weni mengaku bekerja sebagai pembantu rumah tangga, namun kenyataanya Weni dijadikan pemandu lagu di sebuah tempat karoke di Nabire, Papua. TD

Reporter: Rahmat Kurnia
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500