Ilustrasi perdagangan orang. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kawin Kontrak di Cina, 2 Wanita Pakai Dokumen Palsu Tak Bisa Pulang

Estimasi Baca:
Jumat, 3 Ags 2018 13:10:17 WIB

Kriminologi.id - Sebanyak dua dari 12 orang yang menjadi korban perdagangan orang bermodus kawin kontrak bisa pergi ke Cina dengan cara memalsukan sejumlah dokumen. Dokumen yang dipalsukan itu agar keduanya bisa mendapatkan paspor untuk ke Cina. 

Direskrimum Polda Jawa Barat, Kombes Pol Umar Surya Fana, mengatakan dua korban yang diberangkatkan ke Cina pakai dokumen palsu karena masih berusia di bawah umur atau 16 tahun. Akibat pemalsuan dokumen tersebut, kedua korban sulit pulang dari Cina lantaran dianggap melanggar peraturan yang berlaku di Cina. 

“Kalau fisik korban dan penambahan umur kelihatan secara fisik. Kita akan usut terus karena pemalsuan yang dilakukan mulai dari KK, KTP, merubah NIK hingga paspor dan bentuk fisik foto,” kata Umar Surya Fana di Bandung, Jawa Barat, Jumat, 3 Agustus 2018.

Umar menambahkan, dengan memanipulasi dokumen-dokumen tersebut, secara kasat mata terlihat bahwa korban yang berumur 16 tahun dipaksakan menjadi umur 20 tahun. Namun, hal tersebut nyatanya tidak berhasil lantaran fisiknya tak sesuai dengan usia yang dimanipulasi.

“Fisik tidak akan bisa membohongi. Makanya identifikasi ini penting,” kata Umar.

Meski sulit memulangkan kedua korban lantaran terganjal aturan di sana, Umar mengatakan, pihaknya bakal terus berupaya agar kedua remaja tersebut bisa dipulangkan. Kepolisian hingga kini masih terus berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk memulangkan kedua korban dan lainnya yang masih berada di Cina. 

Lebih lanjut, kata Umar, untuk menjerat para tersangka perdagangan orang, pihaknya bakal menjerat pelaku dengan pasal berlapis. Pertama, tersangka dijerat dengan pasal perdagangan orang. Kedua, mengenai pemalsuan dokumen.

“Kalau hanya pemalsuan dokumen hukumannya sangat ringan. Karena itu, kami tambahkan dengan subsider kasus TPPO,” kata Umar.  TD

 

Reporter: Arief Pratama
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500