Ilustrasi pencabulan. Foto: Ist/Kriminologi.id

Siswi SMK Tewas karena Depresi Akibat Diperkosa, Polisi Tunggu Visum

Estimasi Baca:
Kamis, 12 Jul 2018 12:20:11 WIB

Kriminologi.id - Polres Bogor masih menunggu hasil visum terkait kematian FN remaja berusia 16 tahun yang tewas karena depresi setelah menjadi korban pemerkosaan. FN yang merupakan siswi salah satu Sekolah Menengah Kejuruan di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kabag Humas Polres Bogor, AKP Ita Pustpitalena mengatakan untuk mengetahui hal tersebut, saat ini pihaknya masih menunggu hasil visum dari Rumah Sakit Polri Kramatjati, Jakarta Timur.

"Masih dilakukan penyidikan. Visum sudah dilakukan, tapi belum turun, visum kan gak sehari-dua hari. Paling lama 1 bulan visum bisa keluar dari situ baru bisa diketahui," kata Ita kepada Kriminologi.id, Kamis, 1 Juli 2018.

Ita juga belum dapat mengkonfirmasi terkait kabar yang menyebutkan bahwa dari kemaluan korban sempat mengeluarkan darah ketika jenazah dimandikan. Ita juga belum bisa memastikan penyebab luka tersebut.

"Kita belum bisa memastikan hal tersebut karena apa, karena visum belum keluar, masih menunggu hasil visum dulu," kata Ita.

Saat ini pihak Polres Bogor telah memeriksa saksi terkait kematian FN yang masih berusia 16 tahun, namun Ita tidak bisa mengungkapkan jumlah saksi yang diperiksa.

"Saksi sudah diperiksa, tapi saya belum dapat data berapa saksi yang diperiksa," katanya.

Diberitakan sebelumnya, FN yang menjadi korban pemerkosaan terkuak saat jenazahnya dimandikan. Dari daerah kewanitaan korban mengeluarkan darah.

Hal itu juga diperkuat keterangan sahabat korban yang mengatakan FN sempat bercerita jika dirinya telah diperkosa pada Jumat, 29 Juni 2018, oleh teman-temannya.

FN diperkosa dalam keadaan tak sadarkan diri setelah direcoki minuman keras (miras). Mengingat kondisi FN terus menurun, keluarga pun membawa remaja itu dalam keadaan tak sadarkan diri ke puskesmas. Menurut dokter, FN mengalami depresi berat. Pada Selasa, 3 Juli 2018, FN akhirnya meninggal. AS

Reporter: Rahmat Kurnia
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500