Ilustrasi Korban Perdagangan Orang, Foto: Pixabay.com

Alasan Kemlu Sulit Pulangkan Korban Perdagangan Orang di Cina

Estimasi Baca:
Senin, 30 Jul 2018 22:20:40 WIB

Kriminologi.id - Lima warga Purwakarta, Jawa Barat, yang menjadi korban perdagangan orang termasuk MRD, remaja berusia 16 tahun, diketahui sulit pulang ke Indonesia setelah dinikahi secara kontrak di Cina. 

Menurut Kementerian Luar Negeri RI, sulitnya para korban pulang karena regulasi pernikahan di Indonesia berbeda dengan yang diterapkan di Cina. Hal tersebut diungkapkan Nurhidayat (53), ayahanda MRD setelah melaporkan kasus perdagangan orang yang menyeret putrinya itu. 

Menurut Nurhidayat, kendala tersebut menjadi topik pembahasan dalam pertemuan dirinya, Ketua DPD Jawa Barat dari Partai Golkar, Dedi Mulyadi, dan Kementerian Luar Negeri. Meski sulit, Nurhidayat berharap setelah ini ada kesempatan bagi anaknya untuk kembali ke Indonesia.

“Saya pinginnya anak saya bisa pulang dari sana (Cina). Makanya saya sama keluarga yang lain mengadu ke sini. Tapi kita tidak tahu bagaimana peraturan pernikahan di sana,” kata Nurhidayat saat ditemui di Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia di Jakarta pada Senin, 30 Juli 2018. 

Nurhidayat mengatakan, dirinya tidak pernah menyangka putrinya menjadi korban perdagangan orang. Apalagi sampai menikah kontrak dengan warga negara lain tanpa persetujuannya.

Menurut pria berusia 53 tahun itu, semua terjadi berawal dari pertemuannya dengan Thjiu Djiu Djun alias Vivi Binti Liu Chiung Syin, yang ketika itu mengajak MRD bekerja. Vivi yang bertindak sebagai agen penyalur tenaga kerja mengiming-imingi MRD bekerja di Jakarta sebagai Sales Promotion Girl atau SPG kosmetik.

“Bapak tak usah khawatir, anak bapak kerja baik-baik. Bukan kerja yang haram-haram. Nah, aku kan percaya dia (Vivi) bila begitu," ujarnya.

Setelah seminggu keberangkatan MRD pada 24 Mei 2018, Nurhidayat mendapat telepon dari anaknya. Alangkah terkejutnya Nurhidayat ketika mengetahui putrinya sudah berada di Cina. 

“Setelah 10 hari, anak saya menangis saat telepon dari Cina. Aku kaget anak di bawah umur, KTP belum punya tanpa izin orang tua bisa pergi ke Cina. Apalagi dengan alasan dia ingin dinikahkan kontrak,” katanya.

Sebelumnya, sejumlah tersangka sudah ditahan di Polda Jawa Barar terkait kasus perdagangan orang tersebut. Para pelaku yang ditangkap di antaranya Thjiu Djiu Djun alias Vivi Binti Liu Chiung Syin berperan sebagai perekrut.

Kemudian Yusuf Halim alias Aan sebagai perekrut dan warga Cina, Guo Changshan sebagai perantara di Indonesia ke Cina. 

Reporter: Walda Marison
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500