Ilustrasi pencabulan. Foto: Ist/Kriminologi.id

Berprestasi Alasan Atlet Tarung Drajat Tak Ditahan Usai Cabuli Remaja

Estimasi Baca:
Selasa, 24 Apr 2018 21:50:21 WIB

Kriminologi.id - Remaja perempuan yang tinggal di Kabupaten Penajam Paser Utara berinisial RS menjadi korban pencabulan AG, seorang atlet tarung drajat yang berprestasi di Provinsi Kalimantan Timur pada 2008. Karena alasan prestasi, pelaku yang berusia 35 tahun itu tak ditahan. Sebab, Polres Samrinda hanya mengenakannya sebagai tahanan luar usai ditahan selama 2 pekan. 

Atas status tersebut, Gabriel, selaku pihak keluarga korban merasa tak terima. Dia hingga kini terus meminta keadilan ke sejumlah pihak, termasuk kepada Bupati Penajam Paser Utara, Yusran Aspar. Gabriel mengatakan, penetapan status tahanan luar bagi AG itu tidak adil. 

“Tak bisa menjadi alasan pelaku pencabulan tersebut mantan atlet Tarung Drajat yang berprestasi di Provinsi Kalimantan Timur, sehingga tak ditahan,” katanya di Penajam Paser Utara, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa, 24 April 2018. 

Gabriel mengatakan, dirinya meminta keadilan kepada Bupati Yusran Aspar karena ingin pelaku dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku. Hal tersebut sebagai upaya penegakkan hukum yang bersifat adil tidak pandang bulu. 

“Kami berharap Bupati ikut mengawal proses hukum kasus pencabulan itu, karena sampai saat ini RS masih trauma dan takut bila mendengar nama pelaku disebut," ujar Gabriel.

Peristiwa pencabulan terhadap RS, atlet tarung drajat asal Kabupaten Penajam Paser Utara itu terjadi pada 28 Januari 2018. Aksi pencabulan itu berlangsung saat sang atlet yang pernah menjuarai kejuaraan di tingkat Provinsi Kalimantan Timur pada 2017 itu tengah menjalani latihan dengan AG di SKOI Samarinda. Modusnya, saat itu pelaku meminta korban memijat di area terlarang.

Atas peristwa pencabulan itu, AG dipecat dari keanggotaan olahraga Tarung Drajat dan PB Kodrat sejak 1 Maret 2018. Menanggapi hal tersebut Bupati Penajam Paser Utara, Yusran Aspar, berharap Polresta Samarinda terus melanjutkan proses hukum terhadap pelaku, sehingga korban mendapat perlakukan yang adil.

Yusran Aspar juga menginstruksikan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Penajam Paser Utara dapat terus mengawal kasus pencabulan itu.

"Petugas P2TP2A harus terus kawal kasus pencabulan itu karena korban berasal dari Kabupaten Penajam Paser Utara, dan diharapkan kepolisian Samarinda dapat terus melanjutkan proses hukum terhadap pelaku," kata Yusran.

Penulis: Tito Dirhantoro
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500