Seorang wanita pengungsi Rohingya menggendong anaknya di Kamp Pengungsian Kutupalong, Cox Bazar, Bangladesh, Minggu (1/10/2017). Foto: Antara Foto/Akbar Nugroho

Cerita Wanita Rohingya Disekap, Disiksa dan Diperkosa Tentara Myanmar

Estimasi Baca:
Rabu, 27 Jun 2018 14:55:03 WIB

Kriminologi.id - Laporan terkait adanya dugaan pelecehan seksual terhadap perempuan etnis Rohingya sepertinya bukan isapan jempol belaka. Sebab, laporan terbaru menyebutkan dugaan tersebut benar adanya.

Adalah Dan Johnson, wartawan BBC yang mengungkap kasus tersebut. Ia berhasil mewawancari wanita Rohingya, yang baru berumur 17 tahun.

Dan Johnson menemui wanita tersebut di tempat pengungsiannya di Bangladesh. "Para tentara menangkap saya sebelum saya dapat melarikan diri. Mereka memperkosa saya," katanya.

Setelah ditangkap tentara Myanmar, wanita itu menceritakan, ia disekap selama berhari-hari. Saat disekap itulah, ia kerap disiksa. Tidak hanya itu, ia juga diperkosa berulang kali.

"Malam itu saya diperkosa kembali. Mereka melakukan lagi besok paginya dan sore hari. Mereka membiarkan saya terikat di sana. Jika saya melihat tentara, saya membungkuk dan menyembunyikan diri," katanya dengan nada lirih.

Ia mengaku hanya bisa duduk dan menangis. Beruntungnya, sekelompok orang Rohingya menyelamatkannya. "Mereka membawa saya melintasi perbatasan, ke Bangladesh," ujarnya.

Saat tiba di tempat pengungsian, wanita tersebut mengetahui dirinya hamil. Saat ini, usia kandunganya berumur satu minggu. 

Soal jenis kelamin, wanita ini mengaku perempuan. Mengenai nama, ia mengatakan, belum memberikannya.

"Melakukan aborsi adalah sebuah dosa, demikian juga membiarkannya diadopsi. Mereka yang berdosa. Saya tidak melakukan kesalahan. Saya melahirkan bayi saya", katanya lagi.

Wanita tersebut hanya memiliki kakek dan neneknya. Sedangkan orang tuanya tidak diketahui di mana rimbanya.

Foto: nytimes.com
Foto: nytimes.com

Kepada BBC, sang kakek mengungkapkan, cucunya itu begitu terpukul. Sebab ia hanya berdiam diri di tempat pengungsian. Ia tidak mau keluar menemui pengungsi lainnya.

"Dia bersembunyi di dalam rumah dan kami tidak memberitahukannya kepada siapa pun. Tidak seorang pun melihat dia. Saya mengatakan kepadanya untuk memberikan bayi ke orang lain, tetapi dia mengatakan tidak. Dia mengatakan bayi ini akan hidup sesuai dengan kehendak Allah," ujar sang kakek.

Ribuan wanita Rohingya mengaku mengalami pelecehan seksual. Namun, hingga saat ini pernyataan tersebut belum terbukti kebenarannya. Pemerintah Myanmar, dalam hal ini tentara, menyangkal tuduhan tersbeut.

Yang pasti, berbagai badan kemanusiaan siap menampung bayi-bayi yang tidak diinginkan dan kemungkinan ditelantarkan keluarganya. Sejauh ini jumlah bayi yang mengalami nasib malang tersebut masih kecil. 

Namun organisasi amal Save the Children misalnya mengkhawatirkan stigma masyarakat terhadap anak-anak ini.

"Kekhawatiran kami adalah bahwa anak-anak ini akan besar dengan stigma. Kami menyadari anak manapun yang dilahirkan saat ini akan berisiko distigmakan. Jadi kami bekerja keras untuk menciptakan sistem pendukung pengaman bagi anak-anak ini agar mereka dapat tumbuh dengan baik," kata Daphnee Cook dari Save The Children .

Perasaan berbeda disampaikan seorang wanita yang juga menjadi korban pemerkosaan tentara Myanmar. 

"Bagaimana mereka bisa melakukan hal seperti ini kepada saya? Jika ini tidak terjadi, saya kemungkinan sudah menikah dan hidup normal. Saat menatap bayi saya, yang rasakan adalah cinta," kata ibu belasan tahun korban perkosaan ini. 

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: BBC
KOMENTAR
500/500