Ilustrasi kekerasan dalam rumah tangga (Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id)

Fakta-fakta KDRT Sadis di Depok, Atun Pasrah karena Takut Dipukul

Estimasi Baca:
Kamis, 26 Jul 2018 06:35:45 WIB

Kriminologi.id - Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT yang cukup sadis baru-baru ini terjadi di kawasan Depok, Jawa Barat. Peristiwa itu menimpa ibu beranak satu bernama Atun dan sempat viral di media sosial. Sang suami Prima Hadi Waspada tega menganiaya dan melecehkan istrinya sendiri di tempat umum. 

Kriminologi.id merangkum sejumlah fakta dari peristiwa KDRT yang terjadi pada Senin, 23 Juli 2018 tersebut. Berikut adalah fakta-faktanya. 

1. Jilati Jempol Kaki Suami

Nurul Amelia alias Atun diminta paksa oleh suaminya sendiri, Prima Hadi Waspada, untuk menjilati jempol kakinya. Ketika Atun menuruti permintaan suaminya, tampak ada yang merekam aksi jilat jempol kaki tersebut. Dari rekaman itulah, video itu sempat viral di media sosial. 

“Jilati jempol kaki gue, yang dalem, jilat kuku jempol kaki gue,” kata Prima sembari memaksa Atun.

Menanggapi video tersebut, salah satu tetangga korban yang biasa disapa Bude Elin amat menyayangkan kejadian tersebut. Bude Elin mengaku sedih Adoy tega memperlakukan istrinya seperti itu. 

“Sedih banget saya pas lihat videonya. Itu Adoy maksa-maksa Atun ya di depan anaknya sendiri. Kedengeran suranya kok pas dia bilang. Aduh tega banget itu orang," tutur Bude Elin.

2. Anak Saksikan KDRT

Selama Atun mendapat KDRT dari suaminya Adoy, anak semata wayang mereka berinisial S mengetahui kejadian tersebut. Peristiwa yang disaksikan S itu mulai penganiayaan sampai aksi pelecehan menjilati jempol kaki, anaknya yang berinisial S turut menyaksikan. 

Penyaksian pertama, bermula ketika Adoy mengajak anaknya S pergi ke tempat biliar. Pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB, Adoy meminta Atun untuk menjemputnya. Setelah tiba di tempat biliar yang berada di Jalan Arif Rahman Hakim, Beji, Atun justru diperlakukan kasar oleh Adoy di hadapan anak mereka. 

Seusai dari tempat biliar, penganiayaan yang disaksikan anaknya kembali terjadi. Atun yang kala itu hendak pulang berjalan kaki ditendangi Adoy yang saat itu mengendarai sepeda motor sembari memboncengi anaknya. 

Di tengah jalan, Atun diminta berhenti oleh Adoy. Mereka berhenti ke depan salah satu tempat makan cukup ternama yang menyediakan masakan khas daging babi rica-rica. Di tempat tersebutlah Atun mengalami siksaan bertubi-tubi.

3. Korban Dipaksa Dituduh Selingkuh

Sebelum mendapat penganiayaan dari suaminya sendiri, Atun diketahui dipaksa untuk mengaku berselingkuh oleh suaminya yang saat itu tengah berada di tempat biliar. Sembari dipaksa mengaku, Atun juga mendapat sejumlah kekerasan fisik dari suaminya. Selain itu, sahabat Atun turut pula menjadi korban pemukulan oleh pelaku.   

“Dia dipukulin sama Adoy, di depan anak pertamanya. Karena Atun takut, terpaksa dia ngaku selingkuh, padahal engga, justru Adoy yang selingkuh. Gara-gara Atun curhat sama Fikri, Adoy yang malah nuduh Atun selingkuh," ujar Bude Elin.

4. Ditelanjangi di Tempat Biliar

Tidak cukup sampai di situ, Adoy kembali membawa Atun ke tempat biliar pada malam hari dan meminta istrinya tersebut untuk menanggalkan seluruh pakaiannya. Atun yang ketakutan menagis sembari mencopot satu-persatu pakaiannya.

Ketika diminta melepaskan pakaian, Atun yang ketakutan hanya bisa menangis. Ia diancam hendak dipukul apabila berteriak saat diminta melepaskan pakaiannya. Setelah terlepas, baju milik Atun dibuang Adoy ke luar tempat biliar.  

5. Pria Berdarah Ambon Selamatkan Korban

Beruntung, ketika diliputi ketakutan tanpa busana bagian atas Atun diselamatkan oleh pria berdarah Ambon. Tak diketahui nama pria tersebut. Yang pasti, pria tersebut mengantarkan Atun pulang ke rumahnya dalam kondisi penuh dengan luka memar

"Pas ditemuin sama si orang Ambon ini, Atun emang udah pake celana. Dia (si Ambon) nanya 'kenapa kamu sampe bisa begini, kenapa engga pake baju', si Atunnya jawab 'Saya takut bang, takut dipukul suami saya', gitu katanya," ucap Bude Elin. TD | AS

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500