Dok. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: Kemenag.go.id

Gadis Bercadar Diturunkan dari Bus di Tulungagung, Ini Respons Menag

Estimasi Baca:
Rabu, 16 Mei 2018 15:51:14 WIB
Penggunaan cadar, adalah hak dari masyarakat terutama terkait keyakinan atau pemahaman pengamalan ajaran agama yang dimiliki.

Kriminologi.id - Petugas Perhubungan terpaksa menurunkan gadis bercasar berinisial SAN dari bus umum di Terminal Gayatri, Tulungagung, Jawa Timur. Gadis 14 tahun itu diturunkan karena gerak-geriknya mencurigkan.

Terkait peristiwa itu, Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin meminta masyarakat agar tetap mengedepankan sikap toleransi dan menghormati terhadap penggunaan cadar.

"Mari kita hormati mereka yang bercadar, seperti kita menghormati mereka-mereka yang menggunakan atribut lain di muka umum," kata Lukman ditemui di Masjid Istiqlal, Jakarta usai menghadiri Silaturahim Kebangsaan Pembinaan Ideologi Pancasila, Rabu, 16 Mei 2018.

Penggunaan cadar, menurut politikus PPP ini, adalah hak dari masyarakat terutama terkait keyakinan atau pemahaman pengamalan ajaran agama yang dimiliki.

Lukman juga mengharapkan para pengguna cadar agar memiliki pemahaman sosial ketika berinteraksi di masyarakat. Salah satunya adalah dengan menyesuaikan pemakaiannya di lingkungan tertentu, seperti institusi pendidikan.

"Jadi pemahaman seperti ini, kedua belah pihak harus bisa saling membangun kesadaran untuk saling menghormati," ujar Lukman.

Detik-detik kejadian gadis bercadar yang terekam kamera itu kemudian beredar di media sosial usai diunggah akun Facebook Siti Chohtimah, pada Selasa, 15 Mei 2018. 

"Gara gara memakai cadar, calon penumpang bus diturunkan diterminal Tulungagung oleh petugas" tulis akun tersebut pada keterangan video.

Kepala Terminal Gayatri, Oni Suryanto menjelaskan, SAN diturunkan dari Bus karena tidak menjawab pertanyaan yang dilayangkan petugas. 

"Kejadiannya Senin, 14 Mei kemarin. Datang sekitar pukul 06.00 WIB dan naik ke bus jurusan Trenggalek sekitar pukul 08.00 WIB. Saat itu dia terlihat kebingungan, tapi saat ditanya tidak mau menjawab," kata Oni di Tulungagung, Jawa Timur, Selasa, 15 Mei 2018.

Gadis Bercadar Diturunkan dari Bus Umum di Tulungagung Foto: Facebook
Gadis Bercadar Diturunkan dari Bus Umum di Tulungagung Foto: Facebook

Kecurigaan petugas kian menjadi, lantaran gadis belia itu saat memasuki terminal hingga menaiki bus jurusan Ponorogo tidak memakai alas kaki. Usai diinterogasi, barulah SAN mengaku sebagai santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam, Kelurahan Kampungdalem, Tulungagung. 

Kepada petugas, SAN mengaku ingin pulang ke Ponorogo. Alasannya tidak menjawab pertanyaan petugas ketika sebelumnya ditanya karena SAN tidak ingin usaha pulang kampung tanpa izinnya ketahuan pengurus pondok. 

Akhirnya, Oni mengatakan, pihaknya melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian. Tak berselang lama, aparat Polres Tulungagung datang membawa gadis tersebut. 

"Jadi bukan karena penumpang yang takut dan tak mau wanita itu naik di bus. Tetapi karena mencurigakan, akhirnya diminta turun dulu oleh petugas," ujar Oni. 

"Kami serahkan ke polisi untuk tindakan lebih lanjut. Sebab mereka yang lebih memiliki kewenangan," katanya menambahkan.

Dikonfirmasi terpisah, Kabag Humas Polres Tulungagung, Iptu Sumaji mengatakan, informasi penurunan penumpang dari atas bus Bagong jurusan Trenggalek memang benar. Namun, informasi tersebut telah dipelintir sehingga menjadi hoaks atau informasi bohong.

"Berita yang beredar menjadi seolah ada diskriminasi perlakuan terhadap wanita bercadar di terminal. Padahal tidak begitu," katanya.

Menurut Sumaji, penurunan penumpang SAN lebih dilakukan lantaran santri yang masih duduk di bangku kelas 8 SMP ini membuat penumpang lain ketakutan. Akibatnya, gerak-gerik misterius membuat SAN yang bercadar dan membawa sebuah tas itu dilaporkan penumpang lain kepada petugas Dishub di unit Terminal Gayatri, Tulungagung.

"Keterangan yang bersangkutan juga informasi dari pihak pondok, santri berinisial SAN ini sudah keempat kalinya ini mencoba kabur dari pondok. Tiga kali kepergok pengasuh pondok, ini yang terakhir berinisiatif pakai cadar supaya tidak mudah dikenali," ujar Sumaji. 

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500