Ilustrasi perdagangan orang. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Janda Muda Korban Perdagangan Orang, Kawin Kontrak Tinggalkan 3 Balita

Estimasi Baca:
Selasa, 31 Jul 2018 13:25:36 WIB

Kriminologi.id - Ibu muda berinsial CEP yang hendak mengubah nasib menjadi tenaga kerja di luar negeri ternyata malah menjadi korban perdagangan orang dengan modus kawin kontrak di Cina. Wanita berusia 23 tahun itu terpaksa meninggalkan tiga anaknya yang masih berusia balita.

Berdasarkan keterangan Yuni, bibi korban, tiga balita yang ditinggalkan keponakannya itu masing-masing berusia 4 tahun, 3 tahun dan 8 bulan. Yuni tak menyangka keponakannya turut menjadi korban perdagangan orang dengan modus kawin kontrak.

“Saya taunya dia mau jadi TKI ke Cina. Dia kan ingin punya kehidupan yang layak karena dia punya 3 balita. Umur yang satu 4 tahun, yang kedua 3 tahun yang ketiga 8 bulan. Jadi dia ingin merubah nasib,” kata Yuni kepada Kriminologi.id di Jakarta pada Senin, 30 Juli 2018.

Yuni menjelaskan, keponakannya bisa menjadi korban perdagangan orang berawal ketika CEP berniat mengubah nasib pascacerai dengan suaminya. Ia kemudian mendaftar menjadi seorang TKW. Sayang, karena ketidaktahuannya CEP mendaftar melalui agen penyalur tenaga kerja bodong di Jakarta.

Usai mendaftar, CEP akhirnya diberangkatkan ke Cina pada 7 April 2018. Di Cina, sudah menunggu seorang pria yang sudah memesan perempuan kepada agen tersebut untuk dijadikan istri siri dengan dinikahkan secara kontrak di negaranya.

Yuni pun baru mengetahui keponakannya dijadikan istri siri oleh warga Cina setelah beberapa bulan sejak CEP pergi. 

Yuni mengaku sebenarnya ia tidak terlalu keberatan jika keponakannya dipinang secara siri oleh warga Cina. Terlebih jika perlakuan suami keponakannya itu baik. Namun, alih-alih mendapat perlakuan yang diinginkan, CEP kerap mengalami kekerasan fisik. Tak hanya itu, Yuni juga kerap disekap oleh keluarga suami sirinya tersebut.

“Saya juga berpikir kalau nikah siri untuk baik-baik tidak ada kekerasan, ya silakan saja. Tapi ternyata dia sering dipukuli, dia ga dikasih makan, kamar dikunci. Jadi dia nggak bisa kemana-mana. Kita kalau mau komunikasi juga susah,” katanya.

Karena diperlakukan demikian oleh suaminya, CEP kini tidak pernah lagi menyuplai uang kepada Yuni.

Padahal, selama ini Yuni yang merawat ketiga anak CEP. Hingga saat ini, nasib CEP masih terkatung-katung di Cina menunggu tindakan tegas Kemenlu RI untuk memulangkannya bersama 15 WNI lain yang terjebak di sana. RZ

Reporter: Walda Marison
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500