Kapolres Jawa Barat Agung Budi Maryoto (kanan) saat menunjukkan barang bukti kasus perdagangan manusia ke Tiongkok, Kamis, 26 Juli 2018. Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Kawin Kontrak di Trafficking Bukan Modus Baru, Kata Komnas Perempuan

Estimasi Baca:
Jumat, 27 Jul 2018 14:25:04 WIB

Kriminologi.id - Perdagangan orang atau human trafficking diungkap Polda Jawa Barat. Belasan perempuan yang menjadi korban diketahui berasal dari Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Tangerang, dan Kabupaten Bandung.

Menurut Direktur Ditreskrimum Polda Jabar, Kombes Pol Umar Surya Fana, pelaku menggunakan modus kawin kontrak kepada para korbannya. Modus tersebut diyakini polisi sebagai modus baru dalam perdagangan manusia.

Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan menyatakan praktik tersebut bukan modus baru.

“Modus kawin kontrak itu sudah lama sejak dari tahun 2000, hanya bedanya diminta untuk dinikahi,” kata Komisioner Komnas Perempuan Adriana Venny Aryani melalui sambungan telepon, Jumat, 27 Juli 2018.

Menurut Adriana, kasus tersebut pada tahun itu menimpa kebanyakan warga yang berasal dari luar Pulau Jawa.

“dari Kalimantan Barat, Pontianak Singkawang. Terumata yang wajahnya mirip dengan Cina, kalo dulu 2000 itu modusnyadikawin kontrak habis itu dia dieksploitasi tapi dia disuruh jaga toko peternakn babi berisihin kandang. Pokoknya kerja rodi,” kata Adriana.

Menurut Adriana, kasus diungkap Polda Jawa Barat sedikit bergeser dan berujung pada eksplotasi seksual.

“Sedikit bergeser ini tidak buat dikawin tapi dieskpolitasi seksual. Kalo dulu dieksploitasi bekerja kalo sekarang jadi pekerja seks,” ujar Adriana.

Dalam catatan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan, Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2018 merilis data jumlah kekerasan perempuan yang terjadi di Indonesia.

Dalam data tersebut ada 348.446 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan dan ditangani selama 2017. Sementara perdagangan orang yang menimpa perempuan menempati kategori khusus yakni sebanyak 191 kasus atau 5 persen, dan kasus yang menimpa pekerja migran 3 kasus.

Diberitakan sebelumnya, terungkapnya kasus tersebut berawal dari terungkap salah satu korban berinisial Y (16) yang berhasil kabur dari tempat penampungan di apartemen Green Hills, Jakarta. 

Menurut Y, para tersangka yakni TDD dan YH berperan sebagai broker atau pencari perempuan dengan mengiming-imingi para korban agar mau di bawa ke Cina. Selain itu, dua pelaku warga negara Cina berinisial YH dan GCS juga ditetapkan sebagai tersangka.

Para pelaku dijerat Pasal 2, 4, 6, 10 dan 11 Undang-undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang juncto Pasal 88 Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan maksimal 15 tahun atau denda minimal Rp 120 juta dan paling banyak Rp 600 juta. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500