ilustrasi korban kekerasan perempuan. Foto: unsplash.com

Kekerasan Ekonomi, Kejahatan Paling Umum Terhadap Perempuan

Estimasi Baca:
Minggu, 29 Jul 2018 22:05:58 WIB

Kriminologi.id - Kekerasan terhadap perempuan di Indonesia menjadi perhatian berbagai kalangan. Salah satu sebabnya adalah meningkatnya jumlah perempuan yang menjadi korban kejahatan dari tahun ke tahun. Kekerasan ekonomi adalah kekerasan yang paling umum terjadi pada perempuan Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik atau BPS, pada tahun 2015 persentase jumlah perempuan yang menjadi korban kejahatan adalah 34,8 persen dan mengalami peningkatan pada tahun 2016 menjadi 34,68 persen.

Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) yang dilaksanakan oleh BPS pada tahun 2016 mengungkap bahwa 1 dari 3 perempuan Indonesia yang berusia 15 hingga 64 tahun yang pernah atau sedang menikah pernah menjadi korban kekerasan pasangannya.

Dalam survei tersebut, kekerasan yang dialami perempuan dikategorisasi menjadi empat bentuk kekerasan yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, kekerasan emosional, dan kekerasan ekonomi.

Infografik Kekerasan Ekonomi. Infografik: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Mengacu pada SPHPN, kekerasan ekonomi adalah kekerasan yang paling umum terjadi pada perempuan Indonesia. Ada 24,5 persen perempuan usia 15 hingga 64 tahun pernah mengalami kekerasan ekonomi selama hidupnya. Sedangkan untuk kekerasan emosional adalah 20,5 persen, kekerasan fisik 12,3 persen, dan kekerasan eksual 10,6 persen.

Walaupun memiliki persentase yang paling besar, namun kekerasan ekonomi seringkali tidak menampakkan tanda-tandanya seperti kekerasan fisik maupun seksual. Ada tiga jenis tindakan kekerasan ekonomi yang paling sering terjadi di Indonesia.

Pertama adalah tindakan pasangan melarang istrinya untuk bekerja. Menurut SPHPN, ada 19,5 persen perempuan yang tidak diperbolehkan bekerja oleh pasangannya.

Kedua adalah tindakan dimana suaminya menolak untuk memberikan uang belanja kepada istrinya padahal dia memiliki uang. Menurut survei yang dilakukan ada 5,1 persen perempuan Indonesia usia 15 hingga 64 tahun yang pernah atau sedang menikah pernah mengalami tindakan tersebut.

Ketiga adalah tindakan pasangan yang mengambil uang tabungan tanpa persetujuan perempuan. Banyak kasus yang terjadi di Indonesia, suami dengan semena-mena mengambil uang yang disisihkan oleh istrinya hanya untuk bersenang-senang. Berdasarkan survei yang dilakukan BPS ada 3,6 persen perempuan usia 15 hingga 64 tahun yang pernah atau sedang menikah pernah mengalami peristiwa tersebut.

BPS hanya menyebutkan tiga tindakan yang menandakan terjadinya kekerasan ekonomi terhadap perempuan. Sebenarnya di dalam pasal 9 ayat 2 Undang-Undang Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga disebutkan bagi setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban dibawah kendali orang tersebut termasuk dalam tindakan penelantaran.

Ketidakmandirian perempuan secara ekonomi juga disebut-sebut sebagai salah satu hal yang dapat meningkatkan kerentanan perempuan menjadi korban kekerasan khususnya yang dilakukan oleh pasangannya.

Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT terjadi di Depok, Jawa Barat. Atun menjadi korban kekerasan suaminya yang akrab disapa Adoy. Kekerasan yang paling memilukan adalah saat Adoy hanya memberikan uang belanja kepada istrinya sebesar Rp 50 ribu untuk keperluan belanja seminggu.

Selain melakukan kekerasan ekonomi tersebut suami Atun juga melakukan kekerasan fisik berupa pemukulan dan memperlakukan istrinya secara tidak manusiawi.

KOMENTAR
500/500