Ibu 9 bulan di pengungsian pasca kebakaran Cipinang Muara. Foto: Rahmat Kurnia/Kriminologi.id

Kisah Wassila, Wanita Hamil Tua Selamat dari Kebakaran di Cipinang

Estimasi Baca:
Rabu, 23 Mei 2018 06:00:24 WIB

Kriminologi.id - Raut wajah Wassila (35) terlihat datar. Sorot matanya lemah. Wanita itu sesekali memandang air kali Banjir Kanal Timur (BKT) yang kotor, atau mengusap dahi oleh keringat yang membanjir. Ingatannya kembali ke rumahnya yang ludes terbakar. Semua kenangan itu ada di sana. 

Wassila merupakan salah satu dari sekian penduduk yang kehilangan harta bendanya dalam peristiwa kebakaran di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur, pada Senin, 21 Mei 2018 lalu.

"Itu baju bayi, semua peralatan hancur semua. Padahal saya sudah nyisihkan dari uang berjualan kopi suami saya, tapi bajunya gak sempet diselametin, sekarang mau beli juga gak bisa. Sekarang cuma pasrah aja mas," kata Wassila kepada Kriminologi.id Selasa, 22 Mei 2018.

Wassila dan puluhan penduduk lainnya kini menginap di tenda pengungsian kebakaran Cipinang Muara, Jakarta Timur yang terletak di pinggir kali BKT.

Tidak banyak aktifitas yang dilakukan oleh ibu dua anak ini. Wassila tengah hamil tua. Ia menunggu hari untuk melahirkan anaknya yang ketiga.

Berbeda dengan ibu-ibu yang sibuk mencari sumbangan baju, makanan atau apa saja yang bisa didapat di tenda pengungsian, kegiatan Wassila tak begitu banyak. Ia hanya tidur-tiduran dan merebahkan badan di sebuah tikar yang digelarnya di pinggir Kali BKT. 

Usia kandungan Wassila kini sudah memasuki sembilan bulan. Kata dokter, akhir Mei ini ia akan melahirkan. Sekedar membuang kejenuhan, ia sesekali tidur dan sambil memandang kali kotor BKT.

"Ya kegiatan saya selama di pengungsian cuma duduk, tidur, rebahan itu aja, Mas. Suami saya yang cari bantuan pangan sama pakaian," ujar Wassila.

Saat Kriminologi.id menyinggung kebakaran itu, raut wajah Wassila mulai berubah. Ia seperti kehilangan harapan akibat kebakaran itu. Terlebih pakaian bayi yang telah dipersiapkannya bersama suaminya, Heri, ludes terbakar.

"Bajunya gak sempet diselametin. Sekarang mau beli juga gak bisa," kata Wassila datar.

Menurut Wassila, peristiwa kebakaran itu berlangsung cepat. Saat kejadian, ia tidur di kamarnya, sedangkan suaminya tengah berjualan kopi di pinggir kali BKT.

"Lagi tidur nyium asap, pas buka mata langit-langit rumah udah banyak api. Saya langsung teriak minta tolong, Suami lagi gak ada, lagi jualan kopi di BKT," ujarnya..

Melihat api semakin membesar Wassila kemudian mencoba memadamkan api dengan air seadanya. Namun usahanya gagal lantaran api yang membakar kontrakan semakin membesar.

Wassila mengira kebakaran itu hanya terjadi di kontrakannya. Tak lama Heri memanggil namanya dan membawa ia keluar.

Saat menyelamatkan diri dari kobaran api, Wassila tidak bisa berlari. Suaminya yang berbadan kurus juga tidak bisa menggendong dirinya. Namun secara perlahan Heri bisa membawanya ke tempat yang aman.

"Saya dirangkul gitu kan, jalan juga pelan yang lain pada lari-larian," kata Wassila dengan raut wajah sedih.

Wassila dan Heri belum mengetahui kemana mereka bakal mencari tempat tinggal baru. Selama beberapa hari ke depan mereka tetap bertahan di tempat pengungsian, menunggu kejelasan surat-surat penting yang terbakar.

"Sementara bakal di sini dulu. Pengennya cepet cari kontrakan tapi gimana disuruh (tetap tinggal) di sini. Nunggu surat-surat penting beres dulu, baru cari kontrakan lagi. Kasihan juga istri saya lama-lama di sini," kata Heri di tempat yang sama. MG | RZ

Reporter: Rahmat Kurnia
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500