Ilustrasi perdagangan manusia. Ilustrasi: Amin H. Al Bakki/Kriminologi.id

Korban Perdagangan Orang di Cina Kabari Keluarga Sedang Disekap

Estimasi Baca:
Senin, 30 Jul 2018 06:05:35 WIB

Kriminologi.id - Keluarga korban perdagangan orang mengungkapkan bahwa saat ini seorang korban bernama MRD tengah disekap di Cina. Warga korban human trafficking di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat tersebut berharap pihak kepolisian dan pemerintah Indonesia dapat membantu membebaskan korban.

Saat dihubungi Kriminologi.id, Lismawati (49), ibu dari MDR, mengaku bahwa anaknya tengah disekap oleh pelaku di Cina. Informasi tersebut didapat Lismawati dari pesan singkat yang dikirimkan korban pada Selasa 24 juli 2018.

"Selasa kemarin anak saya MRD sms ke kakaknya, mengatakan sedang di Cina dan dalam keadaan disekap. Dan membaca itu saya sedih sekali," kata Lismawati, saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu, 29 Juli 2018.

Menurut warga Kampung Pasanggrahan, Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta ini, sejak pesang singkat hari Selasa tersebut, MRD sering mengirimkan SMS (short message service) setiap hari.

"Katanya kangen ayah, ibu dan kakak. Kami di sini terus berdoa dan berharap segera dipulangkan," kata Lismawati.

Lismawati juga meminta kepada pihak berwenang di Indonesia maupun Cina untuk bisa memulangkan anaknya.

"Tolong pulangkan anak saya dengan selamat, kepada semua pihak tolong bantu kami," kata Lismawati.

Lismawati mengaku, semenjak pesan singkat tersebut dirinya tak bisa membayangkan nasib MRD saat disekap.

"Kami berharap pemerintah pusat ikut turun tangan membantu masalah ini," katanya menegaskan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kamis 26 Juli 2018 lalu, Polda Jabar merilis kasus penjualan manusia, yang berhasil diungkap oleh Jajaran Ditreskrimum Polda Jabar.

Tim Ditreskrimum Polda Jabar, berhasil menyelamatkan enam orang wanita yang ada di penampungan, di wilayah Jakarta Pusat, yakni di Apartemen Green Hills.

Sementara itu ayah korban MRD, Nurhidayat (56) juga mengungkapkan hal yang sama. Dirinya terus dihantui rasa khawatir dan berharap korban pulang ke Indonesia dengan cepat.

"Saya sedih, dan tak menyangka anak saya jadi korban," kata Nurhidayat.

Bahkan menurut Nurhidayat, saat mendengar berita terkait perdagangan orang yang diungkap Polda Jawa Barat pada Kamis, 26 Juli 2018, perasaan dirinya dan istri mengaku hancur.

"Nggak nyangka saja, ada yang tega begitu," kata Nurhidayat dengan suara lirih.

Nurhidayat menjelaskan, jika MRD memang diajak seseorang yang sedang mencari pekerja saat itu.

"Ngakunya kerjanya di Jakarta, memang dapat uang awalnya. Kami sekeluarga tahunya dibawa ke Jakarta," kata Nurhidayat.

Nurhidayat berharap, Polda Jabar dan Pemerintah RI serta pihak yang dapat membantu kepulangan anaknya, sebagai korban trafficking.

"Saya sekeluarga berharap agar pihak Kepolisian, Pemerintah pusat bisa memulangkan MRD dengan selamat kembali ke keluarga, itu saja harapan saya," katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kamis 26 Juli 2018 lalu, Polda Jabar mengungkap kasus penjualan orang. Tim Ditreskrimum Polda Jabar, menyelamatkan enam orang wanita yang ada di penampungan, di wilayah Jakarta Pusat, yakni di Apartemen Green Hills.

Polisi menangkap tersangka TDD alias M selaku broker yang merekrut wanita dalam kasus perdagangan orang yang berasal dari Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Tangerang, dan Kabupaten Bandung.

Dalam rentang Januari 2018 hingga Mei 2018, M melakukan pencarian wanita yang mau menjadi tenaga kerja wanita sebagai pekerja seni di Cina.

Dari pengungkapan itu Polda Jabar menangkap empat pelaku dua di antaranya warga negara Cina dan dua lainnya warga Indonesia.

Pihak Polda Jawa Barat mengatakan, jika Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI Cina berhasil menghubungi 12 wanita asal Indonesia yang menjadi korban perdagangan orang dengan modus kawin kontrak. 

"Penyidik semalam berkomunikasi dengan korban di Cina, menyebutkan bahwa para korban sudah dihubungi pihak KBRI di Cina," kata Umar Surya di Bandung, Jumat, 27 Juli 2018.

Polda Jabar berharap para korban bisa dipulangkan oleh Kemenlu karena nasib mereka juga terkatung-katung. Selain itu jika para korban bisa pulang, maka pengungkapan ini bisa dengam cepat terungkap jaringan sindikatnya. AS

Reporter: Arief Pratama
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500