Ilustrasi Persekusi. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Korban Persekusi Car Free Day Datangi Komnas Perempuan Cari Keadilan

Estimasi Baca:
Kamis, 3 Mei 2018 19:15:11 WIB
Korban persekusi Car Free Day, Susi Ferawati, beserta anaknya mendatangi Komnas Perempuan. Mereka mencari keadilan agar Komnas Perempuan mendesak kepolisian menyelesaikan kasus yang menimpanya itu.

Kriminologi.id - Korban persekusi pada saat gelaran Car Free Day Jakarta, Susi Ferawati beserta anaknya berinisial D yang masih berusia 10 tahun akhirnya mendatangi Komnas Perempuan. Wanita berusia 39 tahun itu datang untuk melaporkan tindakan persekusi yang dialaminya pada Minggu, 29 April 2018. 

Laporan tersebut diterima langsung oleh Adrina Venny selaku Komisioner Komnas Perempuan untuk sub komisi dan pemantauan. 

"Kami sebagai lembaga independen kami menerima pengaduan dan tadi laporanya sudah lengkap sudah kami terima termasuk dari laporan polisi. Kami akan pelajari dulu," kata Venny di kantor Komnas Perempuan Jalan Latuharhari 4B, Menteng Jakarta Pusat, Kamis, 3 Mei 2018.

Setelah aduan tersebut dipelajari, pihaknya akan membuat surat rekomendasi yang bertujuan mendorong pihak kepolisian untuk mengusut tuntas kasus tersebut. 

"Ya seperti itulah, nanti kita lakukan dengan surat dukungan supaya polisi segera memprosesnya," tuturnya. 

Di hari dan tempat yang sama, Susi Ferawati yang menjadi korban persekusi berharap upayanya mengadukan diri ke pihak Komnas Perempuan dapat membuahkan hasil. Dia berharap segala proses hukum bisa ditegakkan. 

“Jadi orang orang yang memang memperlakukan saya dan yang lain-lain jera. Supaya kita bisa berikan efek jera kepada meraka yang suka mengintimidasi dan membully,” ujarnya.
 
Sebelumnya, Susi Ferawati melapor ke Polda Metro Jaya pada 30 April 2018 dengan Nomor LP/2374/IV/2018/PMJ/Dit. Reskrimum. Isi laporan tersebut menjelaskan jika dirinya mengalami intimidasi berupa verbal dan nonverbal oleh kelompok yang memakai baju hitam bertuliskan #2019GantiPresiden. 

“Kausnya di kasih ya bu, beli dong bu, modal dong bu, bayar dong bu,” seperti yang tertulis dalam laporan tersebut. 

Tidak hanya itu, Susi juga mengalami intimidasi secara fisik. Berdasarkan laporan polisi tersebut dijelaskan jika mulut Susi disodori secara paksa dengan lontong oleh kelompok tersebut.

"Adapun mulut korban disodorkan secara paksa serta mengkibaskan uang kepada korban secara paksa serta mendorong-dorong anak korban," tulis laporan tersebut. 

Hal itu menyebabkan anak Susi menangis karena merasa diintimidasi oleh sekelompok orang tersebut. Perlakuan demikian yang menimpa Susi dan anaknya disinyalir karena menggunakan kaus bertuliskan #DiaSibukKerja.

Atas dasar itu, Susi melaporkan kelompok masyarakat tersebut dengan tuduhan Perbuatan tidak menyenangkan disertai ancaman kekerasan dan pengeroyokan Pasal 77 UU RI NO. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dan Pasal 335 KUHP dan Pasal 170 KUHP.

Reporter: Walda Marison
Penulis: Tito Dirhantoro
KOMENTAR
500/500