Rumah korban KDRT di Bojong Lio, Cilodong, Depok, Jawa Barat. Foto: Erwin Maulana/Kriminologi.id

KPAI: Konflik Orang Tua di Depan Anak Berdampak Psikis dan Fisik

Estimasi Baca:
Kamis, 26 Jul 2018 13:55:00 WIB

Kriminologi.id - Kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT cukup sadis baru-baru ini menimpa ibu muda bernama Atun, di kawasan Depok, Jawa Barat. Bahkan video tersebut dan sempat viral di media sosial saat suaminya menganiaya dan melecehkan di tempat umum dan di depan anaknya.

Parahnya KDRT dilakukan Adoy, panggilan pelaku, dilakukan di depan anaknya. Komisioner KPAI Bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak Jasra Putra, mengatakan sekecil apapun kekerasan mempengaruhi psikologis anak.

“Sekecil apa pun kekerasan akan mempengaruhi psikologi tubuh kembang anak, apalagi kekerasan oleh orang terdekat, orang tua. Sebagai profil keteladanan terbaik untuk dia tentu ini akan mempengaruhi psikologis terhadap kekerasan-kekerasan,” ujar Jasra kepada Kriminologi.id, Kamis, 26 Juli 2018.

Menurut Jasra pihaknya menyayangkan kekerasan tersebut yang dipertontonkan oleh orang tua kepada anaknya.

“Bagaimana pun konflik orang dewasa dibatasi, tempatnya jangan di depan anak, karena tidak hanya dia saja yang jadi masalah, anak juga menjadi masalah,” ujar Jasra.

Jasra juga menyarankan orang tua harus berhati-hati jika dalam terjadi pertengkaran dalam keluarga. Pasalnya anak tak hanya akan mengalami kekerasan psikis, namun juga kekerasan fisik.

“Terkadang orang tua yang jadi masalah itu harus hati-hati juga, jangan sampai di samping korban psikis bisa nanti jadi korban kekerasan fisik kepada anaknya,” kata Jasra.

Jasra mencontohkan, sejumlah kasus yang terjadi baik di Tangerang dan Jombang, anak-anak bahkan menjadi korban fisik orang tuanya akibat pertengkaran yang terjadi di rumah tangga tersebut.

“Kasus Tangerang kasus pembunuhan orang tua, kemudian yang terjadi di Jombang, itu awalnya KDRT tapi juga anak menjadi korban. Kita berharap masyarakat terdekat untuk selalu mengawasi. Kalau memang KDRT-nya sudah memiliki pelanggaran hukum kepolisian bisa memproses itu,” kata Jasra.

Diberitakan sebelumnya, penganiayaan terhadap Atun oleh suaminya, Adoy, bermula saat dirinya menjemput di tempat kerjaannya, Senin, 23 Juli 2018 sore. Sekitar pukul 14.00 WIB Atun berangkat bersama SA, anaknya, menumpang ojek online.

Tiba di tempat billiard, yang berada di Jalan Arif Rahman Hakim, Beji, Atun justru diperlakukan kasar oleh Adoy di hadapan anak mereka. Usai dianiaya, Atun kemudian meninggalkan arena biliar dan bergegas pulang. Karena tak punya ongkos Atun berjalan kaki. Ia memutuskan pergi ke rumah sahabatnya. 

Tanpa sepengetahuan Atun, Adoy ternyata membuntutinya. Ketika tiba di sekitar rumah Fikri, Atun justru dipaksa pulang arah oleh suaminya. Di sepanjang jalan itu, Atun ditendang oleh Adoy sambil memboncengin anaknya. Hingga di rumah makan Atun kembali dianiaya hingga dipaksa untuk menjilat jempol kaki Adoy. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500