Ilustrasi bayi yang baru dilahirkan. Foto: Pixabay

Nekat Melahirkan di Lantai RS, Majani Dapat Ganti Rp 341 Juta

Estimasi Baca:
Jumat, 23 Mar 2018 08:25:00 WIB

Kriminologi.id - Josephine Majani, akhirnya mendapatkan ganti rugi sebesar, 5 juta shiling atau sekitar atau sekitar Rp 341 juta setelah Hakim Pengadilan Tinggi Bungoma, Kenya memutuskan bahwa pihak rumah sakit telah mengabaikan hak Josephine untuk mendapatkan layanan kesehatan. Josephine melahirkan di lantai rumah sakit pemerintah di Kenya beberapa tahun lalu.

Peristiwa itu berawal pada 2013 saat Josephine Majani, melahirkan bayinya di lantai Rumah Sakit Distrik Bungoma. Pihak rumah sakit menyatakan bahwa tidak ada tempat yang kosong untuk pasien. 

Usai melahirkan bayinya, beberapa perawat menemukan Josephine tergeletak di lantai. Bahkan Josephine mengaku sempat ditampar dan dihina karena dianggap mengotori lantai rumah sakit.

"Saya ditelantarkan, disakiti dan dipermalukan saat berada di Rumah Sakit Distrik Bungoma,” kata Josephine dalam pernyataan, Kamis, 22 Maret 2018.

"Saya berharap keputusan pengadilan hari ini akan memaksa pemerintah untuk melakukan hal yang benar dan memastikan bahwa semua ibu mengandung bisa mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan secara hormat dan bermartabat,” ujar Josephine menambahkan,.

Hakim Pengadilan Tinggi Bungoma, Abida Ali Aroni, yang memutus perkara itu mengatakan bahwa rumah sakit telah mengabaikan hak Josephine untuk mendapatkan layanan kesehatan dan perlakuan yang bermartabat.

Selain itu, pihak berwenang juga dinilai hakim telah gagal memberikan sumber daya yang layak untuk pelayanan kesehatan ibu yang mengandung di seluruh negeri.

Kenya termasuk dalam 10 negara paling berbahaya di dunia bagi perempuan untuk menjalani persalinan. Perserikatan Bangsa-bangsa menyatakan, sebanyak 488 perempuan dari 100.000 persalinan meninggal karena masalah kehamilan. 

Sebanyak 8.000 perempuan Kenya meninggal dunia karena mengalami komplikasi yang berkaitan dengan kehamilan setiap tahun. 

Hal itu dikarenakan kekurangan pendanaan bagi kesehatan ibu, pelatihan dan pengawasan yang tidak memadai terhadap para petugas kesehatan, kecerobohan dan praktik-praktik tidak etis, kata PBB. (ANT)

Redaktur: Achmad Sakirin
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500