Ilustrasi pencabulan. Foto: Ist/Kriminologi.id

Pemerkosa Remaja Bali Divonis 8 Tahun Bui, Berawal dari Titip Rokok

Estimasi Baca:
Senin, 13 Ags 2018 22:29:20 WIB

Kriminologi.id - Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Bali, menghukum terdakwa Muhamad Yamin Yanuar (19) dan Komang Yudhi Hendrawan (20) dengan hukuman masing-masing delapan tahun penjara. Hukuman tersebut dijatuhi karena keduanya terbukti memerkosa anak berinisial M (15).

“Kedua terdakwa bersalah melanggar Pasal 76 D juncto Pasal 81 ayat 1 Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1,” kata Ketua Majelis Hakim Ida Ayu Nyoman Adnya Dewi di Denpasar, Bali, pada Senin, 13 Agustus 2018. 

Selain menghukum kurungan penjara, hakim juga menjerat kedua terdakwa dengan membayar denda masing-masing sebesar Rp 1 miliar subsider tiga bulan kurungan penjara. Vonis hakim tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa dalam sidang sebelumnya yang menuntut kedua terdakwa selama 10 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar, subsider enam bulan kurungan.

Hakim menilai, perbuatan terdakwa terbukti menyetubuhi M pada 6 Februari 2018 sekitar pukul 17.00 WITA di rumah teman kedua terdakwa yang juga saksi bernama Irfan Alex Saputra di Kawasan Sesetan, Denpasar Selatan.

Aksi kedua terdakwa melakukan pemerkosaan terhadap korban bersama tiga rekannya yang disidangkan dalam berkas terpisah. Persetubuhan dengam anak di bawah umur itu berawal saat terdakwa Amin meminta M datang ke rumah Irfan untuk membawakan satu bungkus rokok.

Permintaan itu disampaikan Amin melalui layanan pesan singkat instagram milik terdakwa. Korban pun memenuhi permintaan itu sambil mengendari sepeda motor menuju lokasi kejadian.

Korban sempat tertahan di lokasi kejadian karena sepeda motornya dipinjam terdakwa Amin yang mengaku pulang ke rumahnya sebentar. Sekitar sepuluh menit kemudian, terdakwa Amin datang lagi ke lokasi kejadian.

Namun, saat korban hendak meninggalkan rumah Irfan, Amin justru melarang korban pulang. Selanjutnya, terjadilah pemerkosaan di tempat itu yang dilakukan secara bergantian oleh kedua terdakwa dan tiga rekan terdakwa lainnya.

Saat diperkosa, korban sempat memberontak. Namun, karena tidak mampu menghadapi lima laki-laki, korban akhirnya tak berdaya. Akibat peristiwa itu, korban menangis dan mengalami trauma psikologis.

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500