Ilustrasi wanita. Foto: Ist/Kriminologi.id

Pengakuan Atun Pendam KDRT Sejak 3 Tahun karena Aib Keluarga

Estimasi Baca:
Kamis, 26 Jul 2018 16:55:19 WIB

Kriminologi.id - Nurul Amelia atau biasa disapa Atun mengaku dirinya menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT yang diakukan suaminya sendiri, Prima Hadi Waspada, lebih dari tiga tahun. Menurut Atun, dirinya sengaja memendam perasaan itu karena merasa KDRT yang dilakukan suaminya merupakan aib keluarga.

Ditemui oleh Kriminologi.id di Kampung Bojong Lio, Sukamaju, Cilodong, Depok, Atun tampak hendak dipijat. Dia mengaku tidak bisa diwawancarai dalam waktu lama.

“Engga berani mas. Sebelumnya saya engga pernah bilang ke orang tua, saya pendam sendiri. Ya jujur sih kalau dia (Adoy) dulu itu emang ngancem-ngancem juga kalau saya bilang, tapi ya saya juga kasihan, mas. Kalau saya lapor ya aib suami saya juga,” kata Atun di Depok, Jawa Barat, pada Kamis, 26 Juli 2018.

Atun mengatakan, dirinya selama ini memilih memendam perasaan karena bingung kepada siapa dia mengadukan keluh kesahnya.

Namun sayang, sikap Atun yang demikian menjadi jalan buat Adoy. Seolah di atas angin, Adoy merasa bahwa Atun rela menerima siksaan darinya karena menunjukkan sikap diam dan pasrah.

"Makanya, dia mikirnya keenakan mungkin, soalnya saya cuma diem-diem aja engga bilang siapa-siapa. Akhirnya, lama-lama dia ngelunjak. Mungkin mikirnya 'bini gue diem ini, engga cerita ke siapa-siapa, yaudah gue terusin', mungkin dia mikirnya gitu," ujar Atun.

Baru setelah terjadinya peristiwa di Oka Biliar, Depok, pada Senin, 23 Juli 2018, Atun memberanikan diri melapor ke polisi.

Menurutnya saat itu Atun benar-benar menerima perlakuan biadab dari suaminya sendiri yang akrab disapa Adoy. Ia selain dipukul, ditendang dan dilempari kunci, juga dipaksa menghisap jempol kaki suaminya.

Bahkan, Adoy juga tega memaksa Atun untuk menanggalkan semua pakaiannya di Oka Biliar. Celakanya, kejadian tersebut disaksikan oleh anak semata wayang mereka yang berinisial S.TD|AS

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500