Ilustrasi Perdagangan Orang. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Pengakuan Korban Trafficking, Keluarga Suami CEP Ancam Potong Jari

Estimasi Baca:
Selasa, 31 Jul 2018 14:15:32 WIB

Kriminologi.id - Yuni, keluarga korban perdagangan orang atau human trafficking berharap keponakannya, CEP (23), segera kembali ke tanah air. Pengakuan CEP melalui pesan kepada keluarga menyatakan, jari korban hendak dipotong oleh keluarga suaminya.

CEP merupakan warga Purwakarta, Jawa Barat, yang menjadi korban perdagangan orang ke Cina dengan modus kawin kontrak.

Menurut Yuni, selama menjadi istri siri, CEP kerap disiksa dan disekap oleh suami dan dan keluarganya. Perlakuan kasar suaminya itu disampaikan CEP kepada Yuni melalui percakapan aplikasi berkirim pesan, WhatsApp.

"Dia (CEP) suka WA saya mas. Kadang-kadang dia suka kirim voice note ke saya. Dia bilang sambil nangis-nangis kalau jarinya mau dipotong sama keluarga suaminya," ujar Yuni kepada Kriminologi.id di gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin 30 Juli 2018.

Yuni menunjukan dua rekaman dan voice note kepada Kriminologi.id. Dalam rekaman pertama berdurasi 18 detik, terdengar suara CEP sedang menangis.

"Mama tolong maah... jari Eno mau dipotong mah.. Eno takut maah," kata CEP dalam rekaman tersebut. 

Yuni mengatakan, meski berstatus keponakan, CEP memanggilnya dengan sebutan mama. Kemudian, dalam rekaman kedua berdurasi tiga detik, CEP berkata, "Tolong urusin ma... biar cepet pulang," ujar CEP sambil mengis tersedu-sedu.

Yuni mengatakan CEP kerap diperlakukan kasar oleh suami dan keluargannya. Sambil menunduk, Yuni mengaku tak menyangka keponakannya itu harus bernasib malang. 

Awalnya CEP berniat untuk mengadu nasib sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI) ke Cina. Ia berniat mencari pekerjaan untuk membiayai tiga anaknya yang baru berusia 4 tahun, 3 tahun dan 8 bulan, mengingat CEP telah bercerai dengan suaminya.

Yuni menjelaskan, CEP bertemu dengan sebuah agen di Jakarta yang menjajikan kesempatan bekerja sebagai TKI di Cina. Namun, bukannya dijadikan TKI, agen tersebut menjual CEP kepada orang Cina untuk dijadikan istri siri dengan sistem kawin kontrak.

Yuni mengaku sangat kaget saat mendengar CEP sudah berstatus sebagai istri siri dari seorang warga negara Cina. Ia mengatakan keponakanya itu dihargai sebesar 400 juta oleh agen penyalur. Namun dari Rp 400 juta, agen hanya memberikan CEP uang sebesar Rp 10 juta rupiah.

"Ternyata orang Cina itu membeli ponakan saya Rp 400 juta sama agensinya, terus agensinya memberi ke ponakan saya Rp 10 juta. Bukan langsung, tapi dicicil," ujar Yuni kepada Kriminologi.id di gedung Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat, Senin 30 Juli 2018.

Yuni mengatakan duit Rp 10 juta tersebut diberikan langsung oleh agen kepada dirinya untuk merawat ketiga anak CEP.

"10 jutanya langsung diberikan ke saya. Karena saya yang rawat tiga anaknya di sini," kata Yuni.

Diberitakan sebelumnya, perdagangan orang atau human trafficking diungkap Polda Jawa Barat. Belasan perempuan yang menjadi korban diketahui berasal dari Kabupaten Purwakarta, Kota Sukabumi, Tangerang, dan Kabupaten Bandung.

Menurut pihak kepolisian, pelaku menggunakan modus kawin kontrak kepada para korbannya. Modus tersebut diyakini polisi sebagai modus baru dalam perdagangan manusia yang dibawa ke Cina.

Kasus itu terungkap karena salah seorang korban berhasil melarikan diri dari lokasi penampungan di sebuah apartemen di Jakarta.

Tiga tersangka sudah ditahan Polda Jabar terkait kasus tersebut. Keempat pelaku di antaranya Thjiu Djiu Djun alias Vivi Binti Liu Chiung Syin berperan sebagai perekrut, Yusuf Halim alias Aan sebagai perekrut dan warga Tiongkok, Guo Changshan sebagai perantara di Indonesia ke Cina. MG|AS

Reporter: Walda Marison
Penulis: Marselinus Gual
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500