Dok. Shanda Puti. Foto: Ist/Kriminologi.id

Pengakuan Terakhir Shanda Puti Sebelum Tewas, Bahagia Mempunyai Anak

Estimasi Baca:
Sabtu, 1 Sep 2018 08:05:06 WIB

Kriminologi.id - Seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil atau STTT Bandung bernama Shanda Puti Denata tewas setelah dibegal di Jalan Pasupati, Bandung, Jawa Barat. Wanita berusia 23 tahun itu tewas setelah menjalani perawatan di RS Santo Borromeus selama 10 jam. 

Kepergian Shanda Puti meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Terlebih, Shanda baru saja dikaruniai seorang anak perempuan yang kini masih berusia satu tahun. Bagi Shanda, kehadiran sang buah hati dalam pernikahannya begitu membahagiakan. 

Hal tersebut diungkapkannya kepada temannya, Alka, ketika mereka tengah mengerjakan tugas akhir skripsi bersama temannya yang lain berinisial EA di sebuah rumah kosan yang berada di Bandung. 

“Ketika saya menikah dan punya anak semua, hal jadi jauh membahagiakan. Bahkan sekecil apa pun hal itu,” demikian pengakuan Shanda untuk terakhir kalinya seperti dikatakan Alka kepada Kriminologi.id pada Jumat, 31 Agustus 2018.

Seperti diketahui, Shanda Puti sebelumnya sempat kritis akibat pendarahan di kepala bagian belakang. Shanda menjadi korban begal di Jalan Pasupati, Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 30 Agustus 2018 dini hari. 

Perempuan asal Purwakarta itu terlempar dari motor yang ditumpanginya saat melintas di turunan jalan layang tersebut. Ia terguling di aspal usai mempertahankan tas miliknya yang ditarik begal. Sedangkan EA, rekannya yang mengendarai motor hanya mengalami luka ringan. 

Aksi pembegalan itu menurut Alka berlangsung cepat. Pelaku memepet dan menarik secara paksa tas yang dipegang korban hingga terjatuh dan kepalanya membentur jalan. 

"EA dan Shanda kemudian ditolong sopir ojek online yang melihat dan membantu. Si sopir ojek online itu meminta bantuan komunitas ojek online untuk membantu teman saya membawa ke rumah sakit terdekat, yakni ke RS Santo Borromeus," tutur Alka.

Reporter: Tito Dirhantoro
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500