Saat Malaikat Maut Jemput April, Wanita Tewas Usai Pesta Miras Oplosan

Estimasi Baca :

Salah satu korban meninggal dunia akibat miras oplosan di Depok, Jawa Barat. Foto: Ist/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Salah satu korban meninggal dunia akibat miras oplosan di Depok, Jawa Barat. Foto: Ist/Kriminologi.id
Wiwin, ibu Apriliani, satu-satunya wanita yang tewas karena pesta miras oplosan gingseng, menceritakan detik-detik malaikat maut mencabut nyawa anaknya di hadapan keluarganya.

Kriminologi.id - Apriliani (24), warga RT 04/01 Kelurahan Pondok Cina, Beji, Depok meninggal dunia usai menenggak minuman keras bersama teman-temannya. April, begitu sapaan dia, merupakan satu-satunya korban perempuan dari banyak korban laki-laki asal Depok setelah menenggak minuman keras oplosan yang mereka beli dekat Gang Almaliyah, Jalan Komjen Pol M Jasin, Srengseng Sawah, Jakarta Selatan.

Kriminologi mencoba mendatangi rumah April yang terletak di Gang Kapuk, Kelurahan Pondok Cina, Beki, Depok. Rumah kediaman April berdekatan dengan Masjid Al-Hidayah, Gang Kapuk, Pondok Cina. 

Tiba di rumahnya, Kriminologi bertemu dengan kedua orang tuanya, Sulaeman dan Wiwin. Keduanya pun menceritakan kronologi meninggalnya April.

"Waktu hari Sabtu sore (31 Maret 2018), jam 5-an kalau enggak salah, April bilang gini ke saya, 'Mak mau nganterin helm dulu ya, ke Soerabi Bandung, pulangnya entar malem. Saya jawab, 'jangan lama-lama, jangan keluyuran.' Ternyata sampai malam dia enggak pulang-pulang. Pas besoknya (Minggu, 1 April 2018), dia baru pulang, jam 9 pagi. Saya tanyain, 'dari mana nganterin helm semaleman," ujar Wiwin, Rabu 4 April 2018.

Pada Minggu 1 April 2018, sekitar pukul 16.00 WIB, April hendak pergi lagi menemui teman-temannya di tempat makan Soerabi Bandung yang terletak di Jalan Margonda Raya Nomor 477, persis di seberang Apartemen Margonda Residence. Setelah meninggalkan rumah, April baru kembali pulang ke rumahnya pada Senin 2 April 2018, sekitar pukul 05.30 WIB.

"Pas hari Minggu sore harinya, eh dia mau pergi lagi, katanya mau main sama temen-temennya di Soerabi Bandung. Saya tanya, 'mau kemana lagi, jangan keluyuran, jangan malem-malem pulangnya.' Dia jawab, 'iya mak ini mau ketemuan sama temen-temen, biasa di Soerabi Bandung, kan mak juga tahu April emang biasa ketemuan main sama mereka ya di situ (di Soerabi Bandung). Eh, taunya semaleman dia enggak pulang-pulang. Besok paginya, baru tuh dia dateng," imbuh Wiwin.

Ketika April pulang kembali ke rumahnya, kedua orang tuanya merasakan ada sesuatu yang lain dengan wajah April. Mereka melihat wajah April seperti tampak pucat, lemas, dan tidak bersemangat.

"Pas pulang ke rumah kok mukanya jadi beda, keliatan pucat amat, enggak kayak biasanya, lemas. Awalnya saya kira maag dia kambuh. Soalnya kan dia punya maag juga. Kalau enggak makan langsung lemes, tapi dia juga enggak doyan makan nasi. Pas di rumah langsung tidur sampai siang," ujar Wiwin.

Pada sore harinya, sekitar pukul 16.30, Wiwin kaget ketika melihat April hendak merangkak ke kamar mandi untuk buang air kecil. Di tengah kepanikannya, Wiwin segera menolong anak sulungnya bangun ke kamar mandi.

"Enggak tau kenapa, pas saya nengok ke dalam rumah, saya lihat April lagi ngerangkak, saya kaget. Pas saya bantuin bangun, katanya mau buang air ke kamar mandi. Pas kejadian itu saya bener-bener kaget. Selesai dari kamar mandi, saya rebahin dia di tengah sambil saya pangku. Saya elus-elus, badannya gemeteran, katanya mual-mual. Saya kira maag dia kambuh lagi," ujar Wiwin.

Sang ayah, Sulaeman, yang baru pulang kerja di kantor kelurahan ketika tiba di rumah pun kaget ketika melihat raut wajah dan kondisi tubuh April yang berbeda dari biasanya.

"Saya kan kerja di kelurahan, pulang jam 4, pas sampai rumah, kaget lihat April kok mukanya pucet amat, badannya lemes tapi gemeteran. Saya sama ibunya (Wiwin) jagain dia sampai bisa tidur lagi pas habis Maghrib, jam setengah 7 kalau enggak salah," ujar Sulaeman.

Sekitar pukul 21.00 WIB, Sulaeman, Wiwin beserta adik-adik April kaget melihat April tiba-tiba terbangun dan mendongakkan kepalanya ke atas sembari melotot tajam. Ketika keluarganya panik, April menghembuskan napas terakhirnya.

"Pas jam 9 malam, di rumah kan lumayan ramai, nungguin April semua. Tiba-tiba dia bangun, kepalanya diliatin ke atas sambil melotot-melotot, kayak yang kejang-kejang, badannya jadi kaku, mukanya jadi merah banget. Pas dia melotot itu langsung ambruk lagi ke kasur yang di tengah, eh langsung meninggal, ya kaget semua, saya langsung nangis," ujar Wiwin.

April kemudian dimakamkan keesokan hari, sekitar pukul 08.00 WIB, Selasa 3 April 2018. April atau Ani satu-satunya wanita yang meninggal usai menenggak miras bersama tiga rekannya Muljafar, Andri dan Imron. DM

Baca Selengkapnya

Home Renata Wanita Saat Malaikat Maut Jemput April, Wanita Tewas Usai Pesta Miras Oplosan

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu