Ilustrasi Dukun gadungan yang melakukan penipuan karena uang. Ilustrator: Kriminologi.id

Sindikat Dukun Palsu Asal Cina Incar Ibu-ibu Tionghoa Banyak Utang

Estimasi Baca:
Rabu, 25 Apr 2018 20:45:03 WIB

Kriminologi.id - Sindikat penipu berjumlah 6 orang terdiri atas 3 pelaku warga negara asing dan 3 warga negara Indonesia diketahui kerap melakukan penipuan dengan mengaku sebagai dukun. Dalam melancarkan aksinya, para dukun gadungan tersebut memiliki kriteria saat mengincar para korbannya, yakni ibu-ibu keturunan Tionghoa. 

Kapolres Metro Jakarta Pusat, Komisaris Besar Roma Hutajulu, mengatakan keenam pelaku penipuan terdiri dari tiga orang warga negara Tiongkok berinisial HSZ, CT, CH. Sedangkan tiga warga Indonesia yakni berinisial A, JW dan E. Mereka diamankan pihak kepolisian di Bandung, Jawa Barat, pada Selasa, 23 April 2018.

"Korbannya biasanya ibu-ibu, ya. Terutama keturunan etnis Cina. Mungkin yang suka bengong-bengong banyak masalah karena utang," kata Roma di Polres Metro Jakarta Pusat, Rabu, 25 April 2018.

Roma menjelaskan, modus kejahatan para pelaku yakni dengan menghampiri korbannya. Jika terdapat kriteria korban yang sesuai, maka mereka langsung melaksanakan aksinya. Kepada para korbannya, sindikat tersebut melalukan penipuan dengan terlebih dahulu mengiming-iminginya dapat membuang sial yang dialami korban. 

Adapun salah satu yang menjadi korban penipuan oleh sindikat berjumlah 6 pelaku ini yakni Junarti Taslim. Peristiwanya bermula saat Junarti sedang berjalan-jalan di Pasar Petojo, Gambir, Jakarta Pusat, pada 3 April 2018. Secara tiba-tiba, tersangka JW dan A menghampiri korban dengan maksud menawarkan jasa dukun tersebut. 

"Tersangka menawarkan jasa kepada korbanya jika mau terbebas dari sial, musibah, bencana harus mengikuti ritual pembersihan harta. Kebetulan korban termasuk keturunan Cina," ujar Roma. 

Dari penawaran itu, korban kemudian tergiur. Selanjutnya, dua pelaku tersebut mengajak korban pergi menemui pelaku lain berinisial E. Kepada korban, pelaku E mengaku sebagai cucu dari pendeta atau dukun tersebut. 

"Tersangka E menginstruksikan jika salah satu keluarga korban akan terkena musibah. Untuk menghindari musibah itu, dia harus membersihkan seluruh hartanya," jelas Roma. 

Kaget mendengar instruksi itu, Korban pun bergegas mengambil seluruh hartanya untuk di bersihkan atau dengan kata lain di berikan kepada tersangka. Bahkan korban rela pergi ke Bali demi mengambil seluruh hartanya. Sesampainya dari bali, korban diantar oleh HSZ dan CT untuk bertemu dengan tersangka E guna memberikan seluruh hartanya dengan harapan bisa terlepas dari sial. 

Saat itu, tersangka E memberikan satu kotak berisi air untuk dimandikan ke badan korban. Air itu pun harus dibuka tiga hari sejak pelaku memberikannya kepada korban. Tiga hari berlalu, E pun membuka bungkusan tersebut. Saat itu, korban kaget dengan barang yang ada didalamnya. 

"Ternyata isinya hanya 4 Indomie rebus rasa kari ayam dan satu bungkus garam," tuturnya. 

Sadar telah ditipu, korban pun langsung melapor ke Polres Metro Jakarta Pusat guna mengadukan peristiwa yang dialaminya. Polisi yang mendapat laporan demikian langsung bergerak cepat menangkap pelaku. Atas perbuatannya, keenam pelaku dijerat Pasal 378 dan atau Pasal 372 tentang Penggelapan dengan ancamana hukuman empat tahun.

Adapun total kerugian yang dialami korban diketahui sebesar Rp 500 Juta. Polisi juga mengamankan barang bukti berupa uang dalam pecahan rupiah dan dolar tiga mobil berikut 21 buku tabungan. 

"Kami masih melakukan pengembangan. Kami belum tahun berapa lama mereka sudah beraksi, " tuturnya. AS

Reporter: Walda Marison
Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500