Ilustrrasi korban begal payudara. Foto: Unsplash.com

Takut, Alasan AT Tidak Segera Lapor Perlakuan Begal Payudara

Estimasi Baca:
Jumat, 20 Jul 2018 21:20:34 WIB

Kriminologi.id - Korban pembegalan payudara di sebuah gang sempit yakni AT mengaku tidak melaporkan langsung kejadian itu kepada kepolisian setempat. Alasannya, karena ketika kejadian berlangsung ia merasa takut.

Saat Kriminologi.id menghampiri rumah kosnya, ia bercerita saat peristiwa itu terjadi pada Minggu, 15 Juli 2018, yang memilih pergi ke rumah Ami untuk menenangkan diri. Kemudian, ia melanjutkan menjajakan kue-kuenya menuju danau kecil di Pedongkelan dengan berjalan kaki. Di pinggir danau itu, ia mulai berani menghubungi orang tuanya.

"Pas nyampe danau di Pedongkelan, kan di situ banyak orang mancing, saya ke situ sambil dagang terus nyari tempat duduk. Pas bisa duduk dan telepon orang tua, saya bilang tentang kejadiannya kayak gimana. Akhirnya, orang tua saya nelepon saudaranya yang di Jakarta Timur. Katanya suruh jemput saya di kos, nanti saya nginep di rumah mereka," ujar AT dengan mata berkaca-kaca.

Setelah menelepon orang tuanya, AT bergegas pulang. Saat itu pukul 10.00 WIB. Setiba di kos, Haji Herman datang beserta adik iparnya, Ami, serta tiga orang teman kos AT. Haji Herman merupakan pemilik kos yang disewa AT.

"Pas nyampe kosan, akhirnya semuanya pada ngumpul. Enggak lama kemudian datang Pak RT, nanyain kronologisnya kayak gimana. Ya udah saya ceritain semuanya," tutur AT.

Korban AT menambahkan, peristiwa pembegalan payudara terhadapnya juga disebarkan di grup Whatsapp oleh sesama penghuni rumah kos. Tidak lama kemudian, salah satu temannya mengirimkan kronologi peristiwa tersebut ke akun Instagram Depok24jam. Sejak itu, kisah AT mulai tersebar luas.

"Pas kejadiannya ramai di Instagram Depok24jam waktu hari Minggu sore (15/07/2018), besoknya (Senin 16/07/2018) ada wartawan Tribun 2 orang datang ke kos buat wawancara saya, ya saya masih takut juga mau bilang apa. Beres wawancara, saya anter mereka ke lokasi kejadian, pas di sana mereka wawancara bu Enci juga," tutur AT. 

Ketika ditanya kenapa ia tidak langsung melaporkan pembegalan payudara yang menimpanya, AT hanya manjawab, saat kejadian ia ketakutan. Selain itu, ia juga belum tahu bagaimana menempuh langkah hukum ke kepolisian.

"Saya takut banget, mas. Boro-boro lapor, mau ngeluarin HP buat foto motornya dia (pelaku) saya enggak sadar, enggak kepikiran. Saya juga enggak tahu langkah hukumnya gimana kalau lapor polisi," ujar AT.

Pada Selasa, 17 Juli 2018 sekitar pukul 09:00 WIB, beberapa wartawan kemudian menemui AT di kos. Karena terkejut mengetahui bahwa AT belum lapor polisi, salah satu wartawan berinisiatif menelepon anggota Polres Kota Depok.

"Salah satu wartawan ada yang nelepon Polres Depok. Kata wartawannya bilang gini 'Pak ini korban belum ada laporan.' Pas siangnya datang dari polres, 1 polisi laki-laki namanya Pak Soni, sama polwan namanya kak Ina. Dari polsek Cimanggis juga ada, namanya Pak Herman," ucap AT.

Ketika petugas Polres Depok dan Polsek Cimanggis tiba, AT langsung dimintai keterangan sementara di teras depan kos. Kemudian, ketiga petugas tersebut mengajak AT kembali ke lokasi kejadian untuk menjalani olah TKP. Setelah olah TKP, korban AT diantar ketiga petugas ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani visum.

"Pas abis olah TKP, saya dianter sama mereka ke RS Polri mau divisum. Katanya harus divisum soalnya ada pemukulan juga ke kepala sama pelakunya. Sorenya saya baru pulang ke kos lagi," kata AT menjelaskan. 

Setiba di kos, AT kemudian diminta datang kembali ke RS Polri Kramat Jati keesokan harinya untuk bertemu dengan pembimbing konseling. 

"Pas nyampe kosan, sama polisi saya juga disuruh ke RS Polri lagi buat ketemu sama pembimbing konseling. Mereka jelasin kalau korban kejadian kayak gini harus ketemu sama pembimbing konseling untuk ngatasin rasa trauma, rasa takut. Emang bener sih, saya ngerasa takut, bawaannya pengen nangis terus," ujar AT.

Menjelang malam hari, AT kemudian dijemput oleh kakak sepupunya dari Ciracas, Jakarta Timur. 

"Malam Rabu kan saya dijemput saudara nginep di sana, di Ciracas. Besoknya baru saya ikutan bimbingan konseling, enggak lama, mungkin cuma 2 jam-an. Pas beres konseling, saya disuruh bilang ke orang Polres Depok sudah bimbingan konseling di RS Polri," kata AT.

Sebelumnya diberitakan, AT menjadi korban begal payudara di Gang Swadaya, Jalan Taman Indah II, Tugu, Cimanggis, Depok pada Minggu, 15 Juli 2018. Kala itu, seorang pria tak dikenal mengendarai sepeda motor matic hitam tiba-tiba meremas payudara kirinya sebanyak tiga kali. Pelaku juga memperlihatkan alat vitalnya tersebut kepada AT. YH

Reporter: Erwin Maulana
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Djibril Muhammad
KOMENTAR
500/500