Anak dalam Bisnis Narkoba Rentan Alami Kekerasan Pelaku dan Polisi

Estimasi Baca :

Ilustrasi narkoba, Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi narkoba, Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Anak-anak yang masuk dalam pusaran bisnis narkoba ternyata rentan mengalami kekerasan fisik maupun psikis. Tak hanya dilakukan para pelaku bisnis narkoba, anak juga rentan mendapat kekerasan oleh polisi dalam rangka mengorek keterangan lebih jauh terkait kejahatan itu.

Kasus terbaru yang terjadi di Jakarta Selatan, seorang anak dimanfaatkan orang tuanya untuk membawa narkoba di kantong jaketnya. Kasus ini terungkap saat Satuan Narkoba Polres Metro Jakarta Selatan melakukan penangkapan terhadap dua pemuda berinisial S (25) dan IA (18).

Keduanya yang dicurigai akan melakukan transaksi narkoba di daerah Jagakarsa. Polisi tidak menemukan barang bukti di tubuh kedua tersangka saat digeledah. Namun kemudian barang bukti tersebut justru disembunyikan di jaket anak tersangka S.

Baca: Kelabui Polisi, Pengedar Narkoba Gunakan Anak-anak Saat Transaksi

Pelibatan anak dalam transaksi narkoba memang bukan hal yang baru. Sejak bisnis narkoba berkembang pesat pada tahun 1990, terlibatnya anak dalam bisnis tersebut juga menjadi sorotan. Indonesia, Thailand, dan Filipina merupakan tiga negara yang memiliki angka pelibatan anak tertinggi di daerah Asia Pasifik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2009 mencatat ada 1,76 juta pekerja anak di Indonesia dan 20,7 persennya atau sekitar 364 ribu anak terlibat dalam bisnis dan kegiatan ilegal seperti prostitusi dan perdagangan narkoba.

Sementara International Labour Organization (ILO) menyebutkan bahwa mempekerjakan anak dalam memproduksi dan mendistribusikan narkoba termasuk dalam salah satu bentuk pekerjaan paling buruk bagi anak (worst form child labour).

Anak yang terlibat dalam perdagangan narkoba akan menghadapi situasi yang menciptakan ketegangan, ketakutan, dan rawan terjadi konflik. Anak sendiri juga dibayangi risiko dieksploitasi dan dilecehkan baik oleh bandar narkoba maupun oleh polisi.

Bandar narkoba seringkali memaksa anak-anak untuk melakukan apa yang mereka mau dan tak segan menggunakan kekerasan fisik terhadap anak-anak tersebut.

Profesor kriminologi di Universitas Amsterdam, Belanda, Dirk J. Korf bersama peneliti lainnya melakukan penelitian terhadap 457 anak usia 14-17 tahun di Amsterdam, Montreal, Philadelphia, dan Toronto pada tahun 2003. Penelitian ini menunjukkan terdapat 26,6 persen responden atau sekitar 121 anak yang terlibat dalam bisnis narkoba pernah mengalami kekerasan.

Baca: Guru SD Negeri Edarkan Sabu-sabu, Ditangkap di Kamar

Hasil penelitian Dirk yang ditulis dalam naskah Teen Drug Sellers-An International Study of Segregated Drug Markets and Related Violence dan dipublikasikan dalam Jurnal Contemporary Drug Problems tahun 2008 juga menunjukkan bahwa kekerasan digunakan sebagai taktik (violent tactic) dalam memperdaya anak-anak agar terlibat dalam bisnis narkoba.

Anak tidak hanya menghadapi resiko menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh bandar narkoba saja, tetapi juga kekerasan yang dilakukan oleh polisi. Ketika anak tersebut tertangkap, polisi tak jarang melakukan kekerasan fisik maupun psikologis untuk mengorek informasi yang dimiliki si anak.

Laporan Save The Children pada tahun 2016 menunjukkan pengakuan salah satu anak yang ditangkap oleh kepolisian Papua Nugini yang menjadi korban kekerasan polisi. Anak tersebut mengaku telah didorong dan dipukul dengan tongkat oleh polisi saat melakukan pemeriksaan.

Baca: Sindikat Narkoba Terungkap dari Tertangkapnya Pengemudi Ojek Online

Melibatkan anak dalam bisnis narkoba dapat meningkatkan risiko mereka menjadi korban kekerasan. Padahal di dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak tertulis bahwa anak harus mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Oleh karena itu, dibutuhkan keseriusan pemerintah dalam menangani permasalahan ini. AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Anak dalam Bisnis Narkoba Rentan Alami Kekerasan Pelaku dan Polisi

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu