Aman Nusa III, Deteksi Dini Kejahatan Perbatasan Gorontalo-Sulteng

Estimasi Baca :

Ilustrasi teroris bersenjata, Foto: Pixabay.com - Kriminologi.id
Ilustrasi teroris bersenjata, Foto: Pixabay.com

Kriminologi.id - Kapolda Gorontalo, Brigjen Rachmad Fudail, mengatakan kepada pasukannya yang tergabung dalam operasi kontijensi Aman Nusa III, untuk mengoptimalkan upaya deteksi dini di wilayah perbatasan. Hal ini dilakukan untuk mencegah masuknya teroris, senjata api ilegal dan barang berbahaya lainnya.

"Deteksi dini penting untuk mengetahui setiap dinamika yang berkembang, serta segala potensi pergerakan pelaku terorisme, sehingga dapat dilakukan langkah antisipasi sedini mungkin guna mencegah timbulnya korban jiwa," kata Rachmad di Gorontalo, Selasa, 17 Oktober 2017.

Baca: Polisi: Terduga Teroris Cirebon Berbaiat ke ISIS

Kepada para Kepala Satuan Wilayah atau Kasatwil dan pengemban fungsi pengawasan serta pengamanan internal, Rachmad memerintahkan untuk turun langsung ke lapangan agar pengawasan bisa dilakukan secara optimal. Dengan begitu, nantinya dapat menentukan tindakan tepat terhadap potensi ancaman yang datang.

"Harus menentukan cara bertindak yang tepat, secara teknis maupun taktis dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang mungkin terjadi saat operasi berlangsung," ucapnya.

Selain itu, Rachmad menekankan kepada seluruh personil untuk menyiapkan fisik dan mental dengan dilandasi komitmen moral dan disiplin kerja yang tinggi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Baca: Sabu-sabu 1,7 Kg dalam Novel Diduga Asal Malaysia

"Optimalkan penggunaan peralatan dan sarana prasarana yang dimiliki untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan operasi yang kita laksanakan," tuturnya.

Dalam operasi kontijensi Aman Nusa III yang dilaksanakan sejak 16 sampai 29 Oktober 2017, Polda Gorontalo mengirimkan 102 personil untuk menjaga perbatasan Provinsi Gorontalo-Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. 

Personil yang dikirim merupakan gabungan Biro Operasional, Direktorat Intelkam, Direktorat Reserse dan Kriminal Umum, Direktorat Sabhara dan Satuan Brimob Polda Gorontalo. Seluruh personil tersebut diterjunkan di wilayah perbatasan antar provinsi.

Baca: Mantan Napi Terorisme Ungkap Strategi Penyebaran Radikalisme di Masjid

Menurut catatan kepolisian Gorontalo, ada ‘jalur tikus’ di wilayah perbatasan antara Gorontalo dengan Sulawesi Tengah. Jalur tikus ini menjadi pintu masuk dan keluar bagi para pelaku terorisme. Meski demikian, jalur ini bukan hanya digunakan untuk hal terkait terorisme, melainkan juga peredaran narkoba dan kejahatan lainnya. Para pelaku kejahatan ini biasanya melintasi Gorontalo untuk menuju Sulawesi Tengah dan daerah lain yang berdekatan.

Jalur tikus ini sebenarnya adalah sungai dengan kedalaman air yang dangkal. Bahkan terkadang air sungai tersebut surut dan mengering. Ketika kering itulah para pelaku kejahatan memanfaatkannya untuk melintas masuk dan keluar wilayah Gorontalo. Pihak kepolisan Gorontalo menemukan jalur tikus ini setelah secara intensif menyisir wilayah perbatasan Gorontalo dengan Sulawesi Tengah.

Untuk mengantisipasi aktivitas kejahatan, karena itu beberapa pos penjagaan dibangun di sana. Pihak keamanan yang berjaga tak hanya kepolisian, tetapi juga melibatkan pihak TNI dan masyarakat setempat. TD

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Intelijen Aman Nusa III, Deteksi Dini Kejahatan Perbatasan Gorontalo-Sulteng

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan tulis komentar kamu