ilustrasi miras oplosan berujung maut. Foto: Ist/Kriminologi.id

Bisnis Miras Oplosan yang Timbul Tenggelam dan Toleransi Budaya Teler

Estimasi Baca:
Senin, 23 Apr 2018 05:00:43 WIB
Upaya penertiban miras oplosan sudah sering dilakukan. Nyatanya, tidak berakhir pada matinya bisnis ini. Menekan dengan pajak yang tinggi tidak juga membuat bisnis ini melemah.

Kriminologi.id - Update terakhir, korban tewas akibat menenggak miras oplosan di wilayah Jawa barat sudah mencapai 61 orang dan setidaknya 7 orang telah ditetapkan menjadi tersangka. Apakah kejadian itu merupakan suatu kesengajaan atau hanya kebetulan? Menimbang jumlah korban terus bertambah dan terjadi serentak di beberapa daerah. 

Opini berseliweran merespons kejadian ini. Terutama di media sosial muncul banyak pertanyaan dan tanda tanya besar ada apa di balik peristiwa ini? Para netizen menyebut ada proses kesengajaan di balik peristiwa itu.

Beberapa dari mereka berusaha untuk menghubungkan dengan proses politik yang terkait dengan Rancangan Undang-Undang Minuman Keras. Bahkan ada opini yang menyebutkan kesengajaan dilakukan oleh pihak tertentu agar konsentrasi publik terpecah dengan isu-isu politik yang semakin memanas saat ini. Akankah kasus miras oplosan menjadi komoditi politik?

Bukan barang baru, bisnis miras layaknya bisnis barang mewah. Larangan dan diperbolehkan dengan syarat pembatasan memunculkan banyak dilemma. Miras tidak dilarang tetapi perlu adanya pengendalian dan pembatasan. Palaku bisnis miras harus menyetor pajak yang tinggi sebagai kopensasi atas dilema yang ada.

Kebijakan itu membuat harga miras menjadi tinggi di pasaran. Akibatnya, hanya mereka dari kalangan yang memiliki uang lebih yang mampu membelinya. Berapa pun harganya bukan masalah. Lain halnya bagi mereka dari kalangan yang pas-pasan, terasa berat bila membeli miras legal dengan penghasilan yang terbatas. Apalagi untuk membeli miras yang bermerk dan rasa yang berkualitas.

Tingginya harga jual miras legal mendorong usaha-usaha miras sekala kecil menengah bermunculan memenuhi segmen kelas menengah ke bawah. Produk miras oplosan menjadi alternatif untuk mengatasi kebutuhan pasar yang masih diminati oleh konsumen lokal.

Layaknya home industry, usaha peracikan miras dengan mengoplos berbagai macam bahan dilakukan secara trial and error. Oplosan miras dianggap “jadi” apabila sudah bisa membuat peminum menjadi teler. Umumnya, jenis minuman ini memang sengaja dibuat untuk membuat orang yang inggin teler.

Pelaku pembuat minuman tidak memiliki pengetahuan yang dalam tentang bahaya dan kesehatan bagi manusia. Belum ada  standar baku berapa batasan takaran untuk konsumsi manusia agar kadar bahan tertentu bisa membuat “teler” namun tidak mematikan. Demikian juga, batas masa berlaku miras oplosan tidak terukur. Malahan ada anggapan semakin lama miras oplosan yang disimpan akan semakin nikmat. Serupa dengan proses penyimpanan minuman keras yang terbuat dari buah-buahan.

Jatuhnya korban bukan saat ini saja. Walapun penertiban sudah dilakukan oleh pihak berwenang. Tetapi terlihat bisnis ini hanya tiarap beberapa waktu. Kemudian perlahan-lahan seiring penertiban berkurang, bisnis akan kembali aktif untuk memproduksi dan memasarakannya.

Seringkali penertiban dilakukan ketika telah terjadi jatuh korban. Aparat hanya menyita barang bukti miras dan memenjarakan para operator bisnis. Tetapi tidak ada upaya untuk memastikan matinya proses bisnis miras oplosan. Sehingga bisnis miras oplosan ini tetap saja eksis. Kesimpulannya, sangat bisa dipastikan bisnis ini akan tetap hidup. Walaupun saat ini sudah berjatuhan korban.

Pasang surut bisnis miras oplosan sudah menjadi siklus yang biasa. Seakan ada kesegajaan pembiaran siklus bisnis ini tetap berlangsung. Pemerintah dinilai tidak bertindak tegas untuk benar-benar melarangnya.

Keberadaan usaha ini begitu tersembunyi dan proses transaksinya yang tertutup. Hanya kalangan terbatas yang bisa mengaksesnya. Oleh sebab itu upaya penangan untuk menekan operasi bisnis ini mengalami berbagai hambatan.

Bukan rahasia lagi, di balik mereka banyak orang kuat terlibat mengamankan bisnis tersembunyi ini. Mereka berbagi hasil dari keuntungan bisnis yang telah banyak memakan korban. Tidak semata oleh aparat keamanan yang biasa dan lumrah menjadi beking seperti bisnis illegal serupa lainnya. Tetapi juga aparat birokrat dan orang-orang yang memiliki pengaruh agar bisnis miras oplosan tetap langgeng. Masing-masing mendapat untung. Akhirnya, upaya pemberantasan menjadi susah ketika berhadapan dengan para oknum tersebut.

Secara sosial, susahnya menekan bisnis haram ini tidak terlepas masih didukung oleh budaya masyarakat. Munculnya korban miras berujung meninggal biasanya terjadi pada kegiatan sosial, seperti pesta pernikahan, pesta menyambut tahun baru dan prosesi sosial keagamaan tertentu. Serasa ada yang kurang bila luapan kegembiraan dalam pesta dan perayaan itu tidak berakhir dengan “teler” bersama. Realitanya, masyarakat masih memberikan ruang terjadinya praktik ini. Inilah bentuk toleransi budaya teler yang masih melekatnya di tengah-tengah masyarakat.

Dari sudut pandang para pelaku, mereka merasa ada kebangaan tersendiri apabila berani untuk terlibat minum sampai teler. Pesta teler bersama merupakan manifestasi dari rasa solidaritas pertemanan dan kelompok. Ketika seseorang menolak untuk terlibat pesta miras atau menolak pemberian minuman dianggap kurang menghormati terhadap seorang sahabat.

Eksis dan munculnya pembiaran terhadap bisnis miras oplosan yang kemudian berlanjut pada praktik pesta miras yang berujung pada kematian tidak semata muncul begitu saja. Layaknya proses ekonomi di mana terjadi hukum supply and demand.

Umumnya, miras tidak diperjualbelikan secara bebas. Adanya permintaan pasar yang tinggi membuat harganya menjadi semakin tinggi. Miras oplosan menjadi alternative pilihan bagi mereka yang penghasilannya pas-pasan. Lemahnya pihak-pihak yang memiliki kewenanggan dalam menangani kasus ini juga turut memiliki andil.

Selain proses ekonomi, bisnis miras oplosan diuntungkan dengan proses sosial. Masyarakat masih permisif hingga toleran dengan beredarnya miras olplosan di lingkungannya. Artinya, maraknya miras oplosan tidak terlepas pembiaran oleh masyarakatnya sendiri.

Upaya penertiban miras oplosan sudah sering dilakukan. Nyatanya, tidak berakhir pada matinya bisnis ini. Menekan dengan pajak yang tinggi tidak juga membuat bisnis ini melemah. Sebab startegi penanganan hanya melihat sisi produksi semata. Kolaborasi aparat dan pemerintah harus diperluas agar mampu menjamah pada segemen konsumen dan aktor-aktor yang terlibat dalam bisnis ini. 

Operasi penertiban miras harus mampu mencegah oknum-oknum yang memiliki kewenangan tidak terlibat menjadi beking di dalam bisnis ini. Pemberian hukuman keras bagi oknum-oknum yang terbukti terlibat sebagai beking menjadi satu alternatif untuk membuat mereka takut dan jera tidak lagi menjadi pelindung lagi.

Selain itu, perlu diupayakan penyadaran dan pelibatan secara aktif kalangan masyarakat  untuk merubah  presepsi budaya mereka yang masih permissive dan toleran terhadap pesta teler yang sudah mengakar kuat di lingkungannya

KOMENTAR
500/500