Pria Bugil dan Indikasi Lemahnya Pengamanan Presiden Jokowi

Estimasi Baca :

Kriminologi.id - Kriminologi.id
Seorang pria bugil diamankan Paspampres di gerbang masuk Istana Negara, Jakarta. Foto: Ist/ Kriminologi.id

Kriminologi.id - Seorang pria ditangkap oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres), Senin pagi, 28 Agustus 2017, sekitar pukul 07.30 WIB. Ada indikasi pria itu berupaya menyusup masuk ke dalam Istana Presiden. Aksi tersebut membuat Paspampres bergegas meringkusnya. Apalagi pria ini sempat menyentuh pagar Istana dan meronta ingin masuk bertemu Presiden Joko Widodo. 

Keberadaan seseorang maupun kelompok yang secara sengaja berada di depan pagar Istana tanpa ada izin dari Paspampres mengindikasikan adanya status bahaya terhadap lingkungan Istana. Tidak ada pengecualian, apakah seseorang itu harus mengenakan pakaian atau tidak.

Brokington Sianturi, 33, pria bugil yang membuat repot Paspampres diberitakan sejumlah media mainstream mengalami gangguan jiwa. Brokington Sianturi mengalami depresi yang begitu berat akibat persaingan dagang dan minta diperkenankan melangsungkan pernikahan di kantor Presiden Joko Widodo.

Mengapa Brokington melangsungkan aksinya di depan Istana? Seharusnya permasalahan sosial-ekonomi yang membuat dirinya depresi bisa di tujukan ke kantor kementerian terkait. Brokington bisa saja melakukan aksi ke kantor Kemeterian Sosial, kantor Kementerian Perdagangan ataupun kantor kementerian lainnya untuk meringankan beban yang sedang dihadapinya.

Namun Brokington begitu cerdas, aksinya begitu efektif memotong panjangnya birokrasi yang ada selama ini. Analisis dari orang waras, pilihan beraksi di depan Istana merupakan pilihan tepat dan strategis. Aksi akan diliput oleh media masa dan selanjutnya cepat menjadi booming di publik bila dibandingkan dengan melakukan aksi di tempat lainnya.

Brokington yang dianggap sebagai penderita gangguan penyakit jiwa ternyata memiliki kalkulasi tepat dan rasional saat memilih tempat dalam melakukan aksi demo di Istana. Jarang ditemui berita ada aksi bugil yang berdemonstrasi di  depan kantor kementerian.

Pilihan untuk Bugil di depan Istana adalah kondisi yang tepat. Ketika memilih berdemo dengan pakaian, masalah akan bertambah rumit. Paspampres akan lebih khawatir dan curiga berlebihan. Jangan-jangan dirinya terindikasi membawa bahan peledak, senjata api atau benda yang membahayakan karena tubuhnya tertutup dengan helai-helai kain

Apalagi sejak aksi serangan bom di kantor kepolisian, pengamanan semakin ketat. Brokington akan disangka sebagai teoris bila memakai baju. Urusan bakal semakin panjang dan pelik. Respons dari Paspampres akan jauh lebih reaktif ketimbang bila dia tidak memakai baju. Bugil adalah strategi terbaik untuk upaya menerobos Istana.

Terbersit prasangka buruk, kasus ini akan menjadi inspirasi bagi para teroris melakukan aksi teror serupa terhadap Istana dengan metode bugil. Mengunakan metode bugil dengan tidak menampakkan senjata api atau bahan peledak apapun akan terlihat tidak membahayakan. Orang awam akan menilainya sebagai orang gila.

Bila para teroris bisa berfikir agak lebih keras lagi dengan usaha merancang bagaimana bahan peledak dan senjata api bisa ditanam dalam tubuh manusia maka akan menformulasikan metode teror lebih cangih yang mengancam target di lingkungan Istana. Ini juga tidak terlepas ada potensi melakukan modifikasi dengan meletakkan senjata dan bahan peledak melalui perantara hewan.

Pria bugil ini bisa melakukan semacam testing the water terhadap pengamananan di lingkungan Istana. Ternyata masih ditemukan celah dan kelemahan dalam pengamanan Istana selama ini. Baik itu tidak sengaja dilakukan Brokington karena disangka mengidap gangguan jiwa, maupun bagi seseorang dan kelompok tertentu yang bermaksud mengancam Istana, kasus ini menjadi studi gratis yang menarik untuk melakukan improvement dan modifikasi.

Upaya Brokington menerobos pagar Istana menunjukkan banyak sisi yang perlu menjadi perhatian.

Pertama, setidaknya indikasi itu  menunjukkan fungsi intelijen Paspampres belum mampu mengidentifikasi aktor dan kegiatan dalam radius kurang dari 1 kilometer di sekitar Istana. Nyatanya, Brokington bisa langsung memegang pagar Istana tanpa bisa terendus secara dini.

Memang dilematis, deteksi dini ini sebenarnya tidak dibebankan sepenuhnya kepada Paspampres semata. Tetapi lembaga-lembaga intelijen lainnya juga seharusnya diharapkan turut membantu untuk mem-back up irisan fungsi tugas pokok yang sama menjaga keamanan negara dalam mendukung tugas Paspampres. Di sini terlihat kebutuhan komunikasi dan koordinasi antaraparat intelijen. Maka kebutuhan untuk komunikasi dan koordinasi antar aparat menjadi sangat vital.

Di sisi lain, kebutuhan untuk upgrade teknologi pendeteksi di lingkungan Istana sangat urgen untuk segera diimplementasikan. Bantuan teknologi akan sangat membantu tugas intelijen. Seperti kebutuhan atas sensor gerak, CCTV long range, deteksi frekuensi terhadap aktivitas dan orang yang bermakud mengancam negara. Teknologi dan peralatan untuk membantu tugas Paspampres perlu diprioritaskan.

Kedua, Pergerakan orang melucuti pakaiannya dan bugil sebelum bergerak ke Istana biasanya memancing perhatian banyak orang. Bugil di tempat umum termasuk tindak porno aksi. Polisi maupun Satuan Polisi Pamong Praja sebenarnya bisa bergerak lebih cepat untuk mengamankannya. Kenyataanya orang telanjang ini malah berkeliaran dan kemudian mendekat ke Istana. Setidaknya terlihat ada dua kelamahan, saluran komunikasi dan bentuk koordinasi antarinstansi masih belum terbentuk dengan baik di antara ketiga komponen, yakni Paspampres, Kepolisian, dan Satpol PP.

Ketiga, lemahnya respons penindakan sebelum masuk area di luar pagar Istana. Respons terhadap Brokington ketika mendekati pagar Istana oleh Paspampres bisa dikatakan kondisi darurat. Idealnya, pria bugil sebelum masuk radius 200 meter di luar pagar Istana harus ada respons cepat dari Paspampres. Tidak lagi menunggu hingga Brokington mendekati pagar Istana. Kasus ini menjadi penting untuk menata ulang pengelolaan pengamanan di lingkungan Istana.

Kasus pria Bugil berupaya menerobos Istana ini  harus menjadi momentum pembenahan pengamanan lingkungan Istana. Terutama fungsi deteksi dini, komunikasi dan koordinasi, serta manajemen pengamanan. Demikian juga dukungan peralatan dan teknologi perlu menjadi agenda prioritas dalam mendukung tugas pokok Pasmpres.  

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Intelijen Pria Bugil dan Indikasi Lemahnya Pengamanan Presiden Jokowi

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu