Kasus Pemerkosaan Anak Kandung, Bagaimana Nasib Hukum Kebiri?

Estimasi Baca :

kekerasan anak, Foto: Pindad.com - Kriminologi.id
kekerasan anak, Foto: Pindad.com

Kriminologi.id - LS, gadis remaja berusia 16 tahun menjadi korban pemerkosaan ayah kandung berinisial MM di pondok Persawahan Leweng, Desa Ruan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, Juli 2017.

Tak hanya memperkosa, aksi senonoh tersebut direkam MM dalam video di telepon selulernya. Sang ibu, Lusiana Laus lah yang pertama kali menguak kejadian itu.

Selain LS, seorang remaja sebut saja namanya Gadis juga menjadi korban pemerkosaan ayah kandung di Desa Kambitin RT 01 Kecamatan Patangkep Tutui, Kabupaten Barito Timur, Provinsi Kalimantan Tengah. Gadis diperkosa ayah kandungnya bernama Kasdi, 39, hingga dua kali hamil.

Kasus ini terungkap berkat laporan sang istri karena suaminya telah menyetubuhi anaknya sendiri. Menurut keterangan pelapor, pemerkosaan ini  terjadi sejak 2013. Saat itu korban masih duduk di bangku kelas 1 SMP.

Baca: Duka Lusiana, Ibu Korban Perkosaan & Aksi Rekam Ayah Kandung

Psikolog Forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan kasus pemerkosan anak kandung--ataupun hubungan seksual dalam keluarga atau incest adalah kejahatan terburuk di dunia. Menurut Reza, kasus LS dan Gadis memang kerap terjadi di ranah privat. Pelaku sering kali datang dari orang dekat seperti ayah, paman, dan sebagainya. Anak atau keponakan sering kali rentan menjadi korban.

"Anak sendiri memang individu rentan, mudah dimanipulasi, mudah diintimidasi, mudah dipaksa bungkam," kata Reza mengomentari kasus LS saat dihubungi Kriminologi, Jakarta, Kamis, 2 November 2017.

Kasus LS dan Gadis termasuk korban pemerkosaan ayah kandung lainnya, kata Reza harus jadi momentum diterapkannya hukum kebiri. Sebab, kata Reza, orang tua atau pelaku yang seharusnya menjadi pihak yang paling dipercaya anak justru menjadi perusak.

"Saya menantang Bu Menteri Yohana Yembise (Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) untuk berjuang sepenuh daya agar pelaku diberikan sanksi pemberatan. Saya malah berharap agar pelaku dihukum mati," ujarnya.

Baca: Ayah Perkosa Anak Tiri Selama Lima Tahun

Secara hukum, aturan orang tua yang memperkosa anaknya dapat dijerat dengan Pasal 294 Kitab Hukum Undang-undang Pidana tentang kejahatan seksual dengan anak. Ancaman pasal ini adalah pidana penjara paling lama tujuh tahun, Namun, dalam praktiknya pelaku dapat dijerat UU Perlindungan Anak tentang kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan.

Kemudian, menanggapi maraknya pelecehan seksual terhadap anak, Presiden Jokowi kemudian mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 tahun 2016 tentang perlindungan anak. Salah satu yang mengundang reaksi dalam Perppu ini adalah aturan mengebiri pelaku pelecehan seksual.

Pada 12 Oktober 2016, DPR, dalam Rapat Paripurna lalu mengesahkan Perppu ini menjadi undang-undang. Dalam Perppu yang disahkan menjadi undang-undang tersebut, tercantum hukuman bagi pelaku kekerasan seksual, antara lain hukuman kebiri, hukuman mati, serta pemasangan chip elektronik bagi pelaku.

Kala itu Menteri Yohana juga mengatakan jika aturan mengebiri langsung diterapkan. Namun demikian, aturan ini tak sedikit mengundang reaksi dan tetap mendapat penolakan. Ikatan Dokter Indonesia atau IDI misalnya, menolak pelibatan anggotanya sebagai eksekutor kebiri.

Baca: 7 Buronan FBI yang Masih Misterius hingga Kini

IDI menyatakan dukungan atas hukuman pelaku kekerasan seksual terhadap anak, namun menolak ikut melaksanakan kebiri sesuai dengan fatwa Majelis Kehormatan dan Etik Kedokteran (MKEK) Nomor 1 Tahun 2016.

Dalam salinan fatwa IDI, disebutkan bahwa dokter terikat dengan sumpah dokter dan kode etik kedokteran yang prinsipnya tidak membolehkan mencederai orang lain atas dasar perikemanusiaan. MG

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kasus Pemerkosaan Anak Kandung, Bagaimana Nasib Hukum Kebiri?

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu