Ilustrasi Gangguan Kejiwaan, Foto: pixabay.com

Kasus Tanita Felycia, RSJ: Kartu Kuning Belum Tentu Gangguan Jiwa

Estimasi Baca:
Minggu, 26 Nov 2017 18:05:56 WIB

Kriminologi.id - Pengendara CRV bernama Tanita Felycia yang menabrak sejumlah kendaran bermotor di daerah Sudirman, Jakarta Pusat pada 21 November 2017. Ia dinyatakan polisi mengidap gangguan kejiwaan yang dinamakan bipolar.

Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, 22 November 2017, di Polda Metro Jaya.

“Yang bersangkutan menderita bipolar.” ujarnya

Selanjutnya saat polisi melakukan pemeriksaan dan ternyata pelaku memiliki kartu kuning yang dianggap menguatkan bahwa pelaku mengalami gangguan kejiwaan. Berdasarkan hal tersebut akhirnya Felycia dibebaskan.

Baca: Mengidap Bipolar, Pengemudi CRV Ugal-ugalan Dibebaskan

Menurut Psikolog Universitas Indonesia, Edo S. Jaya menyatakan tidak terlalu paham dengan kartu kuning. Sebab untuk surat keterangan dari psikolog itu bentuknya surat keterangan.

“Pasien bisa minta surat keterangan dari psikolog atau psikiater.” ujarnya

Edo menambahkan untuk kartu kuning kemungkinan besar dikeluarkan oleh rumah sakit jiwa. Ada beberapa rumah sakit jiwa yang cukup besar di Jakarta.

“Ada beberapa, misalnya RSJ Grogol dan RS Sanatorium Dharmawangsa.” kata Edo  

Menelusur kartu kuning yang disebut sebagai bukti kuat atas kondisi kejiwaan seseorang yang terganggu, Kriminologi menghubungi salah satu rumah sakit jiwa tersohor di Jakarta, dulu namanya Rumah Sakit Jiwa Grogol. Namun kini, rumah sakit yang terletak di Jalan DR. Latumenten nomor 1 itu berganti nama menjadi Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Herdjan.

Baca: Idap Bipolar, Tanita Bawa Kabur Mobil Orang Tua

Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Pelaporan, Nurul menyatakan kartu kuning tersebut adalah kartu berobat yang dikeluarkan oleh Rumah Sakit Jiwa, namun warnanya tidak hanya kuning tergantung rumah sakitnya.

“Sebenarnya kartu berobat, hanya saja warnanya tidak hanya kuning. Warnanya beda-beda, bisa biru, hijau, merah. Terserah rumah sakitnya saja.” ujarnya

Sedangkan untuk RSJ Dr. Soeharto Herdjan sendiri tidak lagi menggunakan karton warna-warni sebagai kartu berobat. Rumah sakit ini menggunakan kartu yang bentuknya seperti Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau kartu membership.

“Kami enggak pake warna-warni, kartu berobat kami sudah kaya KTP gitu bentuknya.” kata Nurul.

Menurut Nurul, kartu berobat saja belum tentu menandakan apakah seseorang memiliki gangguan kejiwaan. Sebab bisa saja orang yang datang hanya bertujuan untuk memeriksakan diri saja, tetapi belum tentu mengalami gangguan kejiwaan.

“Kartu berobat belum tentu mengidap gangguan kejiwaan. Bisa saja datang untuk tujuan medical check up. Setelah melakukan pendaftaran di loket rumah sakit juga bisa dapat kartu berobat.” ungkapnya

Baca: Mengenal Bipolar, Penyakit yang Menyelamatkan Pengemudi CRV

Selain itu, untuk mendapatkan surat keterangan mengenai kondisi kejiwaan seseorang lebih rumit prosesnya. Untuk di RSJ Dr. Soeharto Herdjan, pasien harus mengajukan surat permohonan ke rumah sakit untuk mendapatkan resume rekam medis pasien selama ini.

“Kalo di kami, pasien mengajukan surat permohonan untuk dikeluarkan surat keterangan terkait kondisi kejiwaan yang bersangkutan. Kemudian surat permohonan ini akan diproses oleh tim untuk mengeluarkan keterangan dari dokter yang menangani dan resume rekam medis yang bersangkutan.” ujar Nurul.

KOMENTAR
500/500