4 Tipe Serangan Ulama oleh Orang Gila, Enggak Ada Aktor di Balik Itu

Estimasi Baca :

Ilustrasi penyerangan orang gila terhadap ulama dan masjid. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi penyerangan orang gila terhadap ulama dan masjid. Ilustrasi: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Empat tipe penyerangan ulama oleh orang dengan gangguan jiwa yang marak terjadi belakangan ini. Polisi menemukan tipe itu setelah melakukan penyelidikan dan penyidikan di seluruh tempat kejadian perkara. 

Peristiwa terakhir penyerangan ulama menimpa imam salat Maghrib di Masjijd Baitul Ridwan, Sidoarjo, Surabaya, Jawa Timur pada, Minggu, 1 April 2018. Adalah Tajuddin, pengasuh Pondok Pesantren dan Madrasah Al Quran Darul Falah 8 dipukul kepalanya dengan benda tumpul. 

Pelaku yang bernama Muhammad Rudiyanto tiba-tiba maju ke depan dan langsung memukul kepala Tajuddin dari belakang saat rakaat kedua. Shalat berjamaah itu pun langsung berhenti dan Rudiyanto diamankan para jamaah.

Masyarakat langsung menduga Rudiyanto mengalami gangguan kejiwaan. Dugaan ini muncul karena begitu maraknya pemberitaan media sosial terkait penyerangan ulama oleh pelaku orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Walaupun hingga saat ini belum dapat dipastikan apakah Rudiyanto mengalami gangguan jiwa atau tidak.

Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Nusantara, Irjen Pol Gatot Eddi Pramono, menuturkan empat tipe peristiwa penyerangan ulama oleh orang dengan gangguan jiwa, yakni riil, rekayasa, penganiayaan bukan ulama dan peristiwa yang sebenarnya tidak ada. 

“Hasil pendalaman yang dilakukan Satgas itu peristiwa penyerangan ulama diklasifikasikan jadi 4," ujar Gatot di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolsian (PTIK) Jakarta pada Rabu, 4 April 2018.

Penyebaran informasi melalui media sosial terkait peristiwa penyerangan ulama oleh orang dengan gangguan jiwa begitu marak dan seakan-akan terjadi di semua daerah di Indonesia. Kepolisian Republik Indonesia mencatat ada 47 peristiwa penyerangan ulama oleh orang gangguan jiwa yang tersebar di media sosial.

Akan tetapi hanya 5 dari 47 peristiwa tersebut yang terbukti dilakukan oleh orang dengan gangguan jiwa. Adapun 5 kasus riil yang pelakunya orang dengan gangguan jiwa dan korbannya adalah ulama.

Sedangkan 4 kasus rekayasa dimana sebenarnya orang dengan gangguan jiwa hanya berdiam di dekat masjid dan kemudian dikatakan sebagai penyerangan ulama.

Sementara itu, 6 kasus lainnya ternyata ditemukan korban sesungguhnya bukan ulama namun sempat viral dengan pemberitaan sebagai ulama. Kemudian 32 kasus penyerangan ulama yang viral juga sebenarnya adalah hoaks atau berita bohong.

“Sedangkan 32 kasus itu tidak ada peristiwanya namun viral di media sosial,” tuturnya saat menjadi pembicara dalam Diskusi publik yang bertajuk Siapa Dibalik Penyerangan Ulama: Kriminal Murni atau Rekayasa.

Sejauh ini hasil penyelidikan kepolisian di lapangan sama sekali tidak menemukan hubungan langsung antara peristiwa satu dengan lainnya dari kasus penyerangan ulama tersebut. Sehingga kabar santer yang menyebutkan adanya rekayasa pada kasus penganiayaan ulama oleh orang dengan gangguan jiwa ini sama sekali tak terbukti. 

"Dari lima kasus penganiayaan yang pelakunya orang dengan gangguan jiwa itu sama sekali tak terhubung antara satu dan lainnya," ujarnya. 

Sebaliknya, polisi telah mendeteksi adanya hubungan antara kelompok dan orang yang menyebarkan berita penyerangan ulama di  media sosial. Hingga saat ini polisi masih melakukan penyelidikan lebih lanjut. MSA

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar 4 Tipe Serangan Ulama oleh Orang Gila, Enggak Ada Aktor di Balik Itu

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu