5 Alasan Pembunuh Kerap Masukkan Mayat dalam Kardus

Estimasi Baca :

Ilustrasi mayat wanita (02/05/2018). Ilustrasi: Tribratanews - Kriminologi.id
Ilustrasi mayat wanita (02/05/2018). Ilustrasi: Tribratanews

Kriminologi.id - Penemuan mayat seorang perempuan di dalam kotak kontainer plastik di musala Al Musyarafah Desa Pemakuan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kalimantan Selatan menggegerkan masyarakat. Penemuan mayat oleh jamaah musala yang sedang iktikaf ini terjadi pada pagi hari pukul 05.30 WITA hari Minggu, 10 Juni 2018.

Pria tak dikenal menitipkan kotak kontainer plastik yang ternyata berisi mayat seorang perempuan yang bernama Linda. Pelaku pembunuhan itu diketahui adalah kekasihnya sendiri.

Sebelumnya, penemuan mayat perempuan di dalam kardus juga terjadi di daerah Medan, Sumatera Utara pada 6 Juni 2018. Penemuan mayat tersebut berawal dari kecurigaan masyarakat terhadap sebuah kardus yang ada di atas sepeda motor Honda Scoopy berwarna putih. 

Saksi yang mencurigai sebuah sepeda motor terparkir dan di atas joknya ada sebuah kardus yang terikat lakban merasa curiga dan mencari pemilik sepeda motor tersebut. Namun masyarakat tidak ada yang megaku memiliki sepeda motor tersebut hingga akhirnya dilaporkan pada kepolisian setempat. Setelah dibuka oleh anggota polisi, ternyata kardus tersebut berisikan mayat perempuan.

Penempatan mayat di dalam kotak kardus maupun kotak kontainer plastik seperti yang terjadi pada kedua kejadian tersebut sesuai dengan salah satu konsep bernama CRAVED yang dipaparkan oleh salah satu tokoh Kriminologi.id, Ronald V. Clarke. Konsep CRAVED sebenarnya adalah bagian penjelas dari Teori Aktivitas Rutin bagian sasaran kejahatan.

Dalam tulisannya yang berjudul Hot Products: Understanding, Anticipating and Reducing Demand for Stolen Goods menjelaskan bagaimana suatu target menjadi sasaran kejahatan pencurian. Pada awalnya memang teori dan konsep ini digunakan untuk menjelaskan karaktristik suatu barang curian namun pada perkembangannya, para akademisi juga mengadopsi konsep tersebut untuk menjelaskan suatu perilaku kejahatan.

Seperti yang dilakukan oleh Mohammad Fadil dalam bukunya yang berjudul Mutilasi dalam Perspektif Kriminologi: Tinjauan Teoretis Lima Kasus Mutilasi. Sehingga konsep ini dianggap relevan untuk menjelaskan perilaku para pelaku pembunuhan meletakkan mayat korbannya di dalam kotak ataupun kardus.

Konsep CRAVED menyatakan bahwa ada beberapa karakteristik tertentu dari korban maupun target kejahatan yang menyebabkan seseorang melakukan kejahatan tersebut dengan metode tertentu. CRAVED sebenarnya adalah akronim kata concealable, removable, available, valueable, dan enjoyable yang menjadi karakteristik target maupun korban tertentu.

1. Mudah Menyembunyikan Kejahatan

Concealable mengacu pada kemudahan sesuatu disembunyikan dari pandangan orang lain. Sehingga penggunaan kardus dan kotak kontainer tersebut memenuhi unsur concealable dimana tujuan penggunaan kardus dan kotak tersebut adalah untuk menyembunyikan korban dari pandangan orang-orang yang akan ditemuinya.

2. Mudah Memindahkan Korban

Removable adalah karekteristik yang mengacu pada kemudahan sesuatu untuk dipindahkan dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Penempatan mayat di dalam kardus, kotak, di dalam tas, maupun di dalam koper sebenarnya untuk mempermudah pelaku membawa mayat dan meletakkanya di tempat yang diinginkannya. Penggunaan kardus dan kotak untuk memudahkan pemindahan mayat tersebut memenuhi poin removable.

3. Ketersediaan Alat

Available mengacu pada ketersediaan peralatan yang digunakan oleh pelaku. Kotak kontainer dan kotak kardus adalah dua alat yang digunakan oleh pelaku dalam meletakkan mayat tersebut. Kardus dan kotak kontainer tersebut mudah ditemukan dan didapatkan sehingga pelaku tidak mengalami kesulitan untuk menemukan kedua benda tersebut. Sehingga meletakkan mayat di dalam kardus dan kotak kontainer memenuhi poin available.

4. Mengubur Kenangan

Valuable mengacu pada nilai yang mendasari mengapa pelaku melakukan hal tersebut. Walaupun belum bisa dipastikan nilai apa yang mendasari pelaku di kedua peristiwa tersebut meletakkan mayat di dalam kardus namun terdapat beberapa pendapat terkait pelaku yang menyimpan mayat korbannya di dalam kotak.  

Seperti anggapan bahwa dengan memasukkan mayat tersebut di dalam kotak bagaikan menutup kenangan buruk bahwa pelaku telah membunuh. Pendapat ini bisa juga diterapkan pada kedua pelaku tersebut karena memilih meninggalkan kotak kardus dan kontainer tersebut di tempat yang sebenarnya memiliki kemungkinan lebih besar untuk ditemukan.

Meletakkan mayat di dalam kotak dan kemudian meninggalkannya begitu saja, tidak peduli apakah tempatnya sepi atau tidak, mudah ditemukan atau tidak, dan kemungkinan polisi akan menemukan pelaku atau tidak justru tidak menjadi faktor yang dipikirkan oleh pelaku.

Perilaku ini justru menggambarkan jika pelaku hendak menyegel kenangan buruknya akan membunuh dan meninggalkan kenangan buruk tersebut di suatu tempat. Lee dan Choi menyebutkan dalam tulisannya yang berjudul Serial Murder: An Exploration and Evaluation of Theories dan Perspectives menyebutkan bahwa perilaku pembunuh berantai dapat merepresentasikan sesuatu yang dapat dipandang melalui pendekatan biologi, psikologi, dan sosiologi. 

5. Kepuasan Pelaku

Enjoyable mengacu pada rasa puas dan kesenangan pelaku telah melakukan perbuatan tersebut. Dalam hal ini apakah kedua pelaku merasa puas telah membunuh dan memasukkan korbannya ke dalam kardus atau kotak kontainer. Ini juga belum ditemukan jawabannya karena pelaku pembunuhan terhadap mayat perempuan di dalam kotak kontainer belum ditemukan.  

Disposable mengacu pada kemudahan untuk menghilangkan jejak pelaku dari target ataupun korban. Perilaku memasukkan mayat korban ke dalam kotak dan kardus juga memenuhi poin disposable karena akan menyulitkan kepolisian untuk melacak siapa pelaku pembunuhan tersebut.

Membuang korban tanpa adanya identitas yang melekat dan kemudian dimasukkan dalam kardus dan ditinggalkan di daerah yang tidak mengenal pelaku dan korban merupakan upaya pelaku untuk menghilangkan jejaknya.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tindakan pelaku memasukkan mayat korbannya ke dalam kotak kardus atau kotak kontainer memenuhi konsep CRAVED yang digagas oleh Ronald V. Clarke walaupun ada satu poin yang masih membutuhkan klarifikasi lanjutan. AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar 5 Alasan Pembunuh Kerap Masukkan Mayat dalam Kardus

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu