Ilustrasi Aksi Vandalisme. Foto: Pixabay.com

5 Motivasi Vandalisme Ini Keren, Protes Lewat Gambar Hingga Tegang

Estimasi Baca:
Minggu, 8 Jul 2018 07:05:45 WIB

Kriminologi.id - Aksi vandalisme yang terjadi di underpass Mampang-Kuningan dianggap mengganggu pemandangan. Padahal underpass tersebut baru dibuka April 2018, namun kini sudah kotor dipenuhi coretan-coretan tak beraturan.

Tidak hanya coretan inisial nama kelompok atau daerah yang terpampang, tetapi juga gambar-gambar tidak pantas seperti gambar alat kelamin laki-laki pun muncul.

Gambar-gambar inilah yang kemudian dianggap mengganggu bagi warga sekitar. Seperti yang disebutkan oleh salah satu narasumber bernama Ari (26) yang sehari-hari sering berada di sekitar lokasi.

"Bagusnya ditindak biar ada efek jera kepada pelaku corat-coret, enggak enak mas dilihatnya, apalagi gambarnya kelamin," kata Ari, Senin, 2 Juli 2018.

Menurut Ari, lebih baik para pelaku vandalisme ditangkap untuk memberikan efek jera sehingga tidak lagi melakukan vandalisme di fasilitas publik. Menindaklanjuti permasalahan tersebut anggota Kepolisian Resor Jakarta Selatan melakukan penyelidikan dan akhirnya menangkap enam orang yang diduga menjadi pelaku aksi vandalisme di underpass Mampang tersebut.

Ternyata dari keenam orang yang ditangkap, ada dua orang yang masih tergolong remaja karena usianya belum 17 tahun. Kedua remaja tersebut masih duduk di Sekolah Menengah Kejuruan dan masing-masing baru berusia 15 dan 16 tahun.

Dengan pertimbangan hal tersebut Polres Jakarta Selatan akhirnya melakukan diversi pada keduanya. Vandalisme memang identik dengan tindakan yang dilakukan oleh remaja dan dewasa muda.

The Offending Crime and Justice Survey (OCJS) pada tahun 2006 menemukan bahwa 12 persen remaja usia 14-15 tahun pernah melakukan vandalisme dan 32 persen remaja usia tersebut masih melakukannya hingga survey dilakukan.

Selain itu, The Edinburgh Study of Youth Transition in Crime melakukan penelitian terhadap 4.300 remaja dengan rentang usia 12-17 tahun. Hasilnya menunjukkan ada 92 persen dari responden menjawab bahwa mereka pernah melakukan vandalisme dan graffiti terhadap fasilitas publik.

Ellie Bates dalam tulisannya yang berjudul Vandalism: A Crime of Place menyebutkan ada 5 tipe motivasi melakukan vandalisme yaitu;

1. Permainan (Play)

Pelaku vandalisme sebenarnya menganganggap bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebuah permainan. Kegiatan vandalisme adalah kegiatan yang mereka lakukan adalah kegiatan iseng tanpa adanya tujuan khusus. Walaupun sebenarnya kegiatan ini memiliki ancaman pidana karena termasuk dalam kategori tindak pidana ringan.

2. Kesenangan (Pleasure)

Pelaku-pelaku vandalisme ada juga yang melakukannya karena memang merasa senang dan bahkan banyak yang menganggap tindakan corat-coret tersebut sebagai hobi mereka. Inilah kemudian yang mendorong munculnya konsep seni graffiti dimana tindakan corat-coret tersebut dapat dilakukan di media dinding dengan gambar yang artistik tanpa harus merusak fasilitas umum.

Walaupun begitu banyak juga pelaku vandalisme yang melakukannya karena kesenangan namun tetap dilakukan di bangunan fasilitas publik. Hasil coretan pelaku vandalisme yang melakukannya karena kesenangan gambarnya akan jauh berbeda.

Hasil mereka akan menampilkan gambaran yang lebih bercita rasa seni dengan sentuhan teknik-teknik menggambar yang tidak biasa.

3. Ketegangan (Thrill)

Motivasi lain para pelaku melakukan vandalisme adalah untuk mendapatkan sensasi ketegangan setelah melakukannya. Mereka adalah pelaku yang mengetahui bahwa apa yang mereka lakukan adalah melanggar hukum namun mereka dengan sengaja tetap melakukannya.

Perasaan ketegangan itulah yang mereka cari. Pelanggaran terhadap aturan hukum dapat memicu pelepasan hormon adrenalin di dalam tubuh. Proses pelepasan hormon tersebut akan menyebabkan seseorang menjadi bersemangat, spontan dan tidak menganal rasa takut.

Sedangkan setelah prosesnya selesai, tubuh akan terasa lebih segara dan mental jadi lebih fresh. Inilah kemudian yang membuat banyak orang ketaguhan terhadap dampaknya.

4. Kritik (Protest)

Banyak kelompok-kelompok yang menggunakan vandalisme sebagai sarana mereka menyampaikan kritik dan protesnya, khususnya kepada pemerintah baik pemerintah lokal maupun pemerintah pusat. Mereka memilih fasilitas publik juga bertujuan agar aspirasinya dilihat banyak orang termasuk pemerintah.

Hasil vandalisme kelompok pelaku dengan motivasi ini lebih kepada makna yang terkandung dalam setiap gambar yang dibuat. Walaupun ada juga gambaran ataupun tulisan yang secara langsung mengkritik pemerintah.

Gambaran dan tulisan yang dihasilkan kelompok ini juga ada yang memiliki nilai seni yang tinggi dan ada juga yang biasa-biasa saja dan bahkan tidak bernilai seni sama sekali.

5. Penguasaan Wilayah (Territoriality)

Vandalisme yang dilakukan oleh kelompok ini bertujuan untuk memberikan tanda kekuasaan suatu kelompok di suatu daerah. Sehingga para pelakunya seringkali adalah kelompok geng yang tinggal ataupun beroperasi di daerah tersebut.

Ini berguna untuk memberikan peringatan bagi kelompok geng lainnya. Selain itu, vandalisme yang dilakukan oleh kelompok ini biasanya hanya berupa tulisan nama geng ataupun logo geng tersebut.

Vandalisme yang dilakukan dengan motivasi territorial juga bertujuan untuk menunjukkan eksistensi diri maupun kelompoknya kepada masyarakat luas.

KOMENTAR
500/500