Infografik Data anak terlibat narkoba. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Alasan Anak Terlibat Peredaran Narkoba, dari Ekonomi Hingga Tertantang

Estimasi Baca:
Minggu, 2 Sep 2018 06:05:23 WIB

Kriminologi.id - Dua orang anak-anak berinisial RE dan AL diduga menjadi bandar dan pengedar narkoba jenis sabu di Makassar, Sulawesi Selatan. AL yang masih duduk di bangku SMP ditangkap polisi, sedangkan RE temannya sesama pengedar yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar masih buron dan belum diketahui keberadaannya. 

Berdasarkan penelitian, keterlibatan anak-anak dalam peredaran narkoba bukan semata karena desakan ekonomi, melainkan ada juga karena tertantang untuk masuk ke dunia terlarang. 

Keterlibatan anak-anak sebagai pengguna ataupun pengedar narkoba sudah lumayan sering. Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau KPAI mencatat selama tahun 2011-2016 terdapat 641 anak terlibat sebagai pengguna narkoba, dan 222 anak sebagai pengedar narkoba.  

Berdasarkan data itu, Sumatera Utara menjadi provinsi dengan anak pengedar narkoba terbanyak di Indonesia yaitu 24 anak. Sedangkan Aceh di posisi kedua dengan 15 anak dan Sumatera Barat berada di belakangnya dengan 14 anak.

	Infografik Data anak terlibat narkoba. Infogradik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kantor regional International Programme on the Elimination of Child Labour (IPEC) -Internasional Labour Organization (ILO) di Bangkok pada tahun 1999-2000 melakukan survey terhadap keterlibatan anak-anak dalam produksi dan perdagangan di Indonesia, Filipina, dan Thailand.

Temuan survey tersebut menunjukkan bahwa anak-anak di Indonesia terlibat dalam produksi dan perdagangan narkoba jenis sabu-sabu. Sedangkan di Filipina, anak-anak terlibat dalam produksi dan perdagangan metamphetamine chloride. Anak-anak Thailand juga terlibat dalam produksi dan perdagangan narkoba jenis metamphetamine tablet atau disebut Yaba.

International Labour Organization atau ILO telah menetapkan keterlibatan anak dalam proses produksi dan perdagangan narkoba merupakan salah satu bentuk terburuk dari pekerja anak. Hal ini dimuat dalam Worst Forms of Child Labour Convention (No.182) pada tahun 1999.

Penelitian Jailson de Souza e Silva dan Andre Urani yang berjudul Investigating Worst Forms of Child Labour No.20, Brazil Children in Drug Trafficking : A Rapid Assessment menemukan bahwa di Brazil, anak-anak pertama kali terlibat dalam perdagangan narkoba sejak umur 8 hingga 16 tahun.

Berdasarkan penelitian tersebut, usia anak pertama kali terlibat dalam perdagangan narkoba paling banyak adalah di usia 13 tahun atau sebesar 27,5 persen. Selanjutnya usia 14 tahun dengan persentase 17,5 persen dan ketiga adalah usia 12 tahun atau sebesar 15 persen. Usia 11 tahun menempati posisi keempat terbanyak dengan 12,5 persen dan usia 15 tahun menempati posisi kelima terbanyak dengan 10 persen. Sedangkan usia 9,10, dan 16 tahun memiliki persentase serupa yaitu 5 persen. Terakhir usia 8 tahun sebesar 2,5 persen.

	Infografik Data anak terlibat narkoba. Infogradik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Polisi menduga motif AL dan RE menjual narkoba karena alasan ekonomi, mereka tergiur akan potensi uang yang bisa di dapat. Penelitian Silba dan Urani yang dilakukan pada tahun 2002 itu juga mengungkap bahwa salah satu faktor penyebab anak terlibat dalam perdagangan narkoba adalah faktor ekonomi. Ini seperti yang disebutkan oleh salah seorang narasumber dalam penelitian tersebut.

“Di rumah, kami hidup dengan kesulitan ekonomi yang sangat parah. Rasanya tidak ada cukup uang untuk segala sesuatunya.” ujar William yang dikutip dari naskah hasil penelitian Silva dan Urani yang berjudul nvestigating Worst Forms of Child Labour No.20, Brazil Children in Drug Trafficking : A Rapid Assessment. 

Selain masalah ekonomi dan tergiur dengan sejumlah uang yang dihasilkan dari perdagangan narkoba, penelitian Silva dan Urani juga menemukan ada empat alasan yang melatarbelakangi anak terlibat dalam perdagangan narkoba.

Posisi pertama ternyata bukanlah faktor ekonomi akan tetapi justru identitas kelompok menjadi faktor yang utama atau sebesar 23 persen. Kebutuhan untuk mencari hal-hal menantang menjadi faktor kedua yang mendasari anak terlibat dalam perdagangan narkoba atau sebesar 16,9 persen.

Faktor ketiga yang mendasari anak terlibat dalam perdagangan narkoba adalah faktor ekonomi dan keinginan untuk membantu perekonomian keluarga sebesar 12,3 persen. Faktor keempat anak terlibat dalam perdagangan narkoba adalah keinginan untuk memiliki kebanggaan dan kekuasaan sebesar 10,7 persen.

Infografik Data anak terlibat narkoba. Infogradik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Keinginan anak-anak yang terlibat dalam perdagangan narkoba tidak berasal dari diri anak-anak itu sendiri. Pengaruh lingkungan keluarga dan lingkungan sosial membentuk motivasi anak-anak hingga akhirnya ikut terlibat dalam perdagangan narkoba dan jaringan kelompok bandar narkoba.

KOMENTAR
500/500