Anak Menonton Video Porno Rentan Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual

Estimasi Baca :

Ilustrasi kekerasan anak. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id - Kriminologi.id
Ilustrasi kekerasan anak. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Kriminologi.id - Anak-anak yang melakukan kekerasan seksual seperti pemerkosaan terhadap anak lainnya, salah satu penyebabnya adalah adanya paparan dari konten-konten pornografi yang terlalu dini baik di telepon pintar atau tayangan lainnya. Selain itu, mereka juga bisa menjadi pelaku kekerasan seksual karena melihat secara langsung hubungan seksual orang dewasa baik secara sengaja atau tidak sengaja.

Kasus pemerkosaan anak yang terjadi di Kampung Cikadu, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat menggemparkan warga. Pasalnya para pelaku pemerkosaan tersebut adalah 6 anak yang masih di bawah umur.

Baca: Pemerkosaan Bocah 7 Tahun oleh 6 Temannya Gemparkan Warga Rumpin

Peristiwa yang terjadi di Rumpin, Bogor menunjukkan bahwa anak-anak saat ini tidak hanya rentan menjadi korban kekerasan seksual orang dewasa, tetapi juga dari teman sepermainannya. Selama ini studi memang masih berfokus pada pemenuhan hak-hak anak dan perlindungan anak dari kekerasan yang dilakukan orang dewasa.

Walaupun permasalahan anak tidak bisa lepas dari orang dewasa, namun fenomena dimana anak melakukan kejahatan tidak bisa dipungkiri. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia menunjukkan selama 2011-2016 ada 9.243 anak di seluruh Indonesia yang berhadapan dengan hukum.

Kasus anak yang berhadapan dengan hukum menjadi peringkat kasus kedua tertinggi dengan persentasi 20 persen dari seluruh kasus yang ditangani KPAI.

KPAI juga mencatat ada 4.234 anak yang terlibat dalam kekerasan seksual baik sebagai pelaku maupun sebagai korban. Menurut data yang sama, ada 1.528 anak yang melakukan kekerasan seksual dimana 1.104 anak pelaku kekerasan seksual dan 424 anak pelaku kekerasan seksual secara online.

Sedangkan anak yang menjadi korban kekerasan seksual jumlahnya memang lebih tinggi yaitu berjumlah 2.706 anak. Anak yang menjadi korban kekerasan seksual secara online berjumlah 826 orang, sedangkan anak yang menjadi korban kekerasan seperti pemerkosaan, pencabulan, sodomi, dan pelecehan seksual lainnya berjumlah 1880 anak.

Pola Kekerasan Seksual yang Dilakukan Anak

Tidak bisa dipungkiri bahwa peristiwa yang terjadi di Rumpin, Bogor menempatkan anak-anak juga sebagai pelaku kekerasan seksual. Walaupun sejatinya anak adalah korban dari tindakan, keputusan, dan kebijakan yang diambil oleh orang dewasa namun pada peristiwa tersebut juga menunjukkan bahwa anak bisa saja menjadi pelaku kekerasan seksual.

Menurut hasil penelitian dalam Office of Juvenile Justice and Delinquency Prevention yang dipublikasikan oleh  Departemen Kehakiman Amerika Serikat pada Desember 2009, ada beberapa karakteristik kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak.

Penelitian yang dilakukan terhadap 13.471 anak-anak pelaku kekerasan seksual di Amerika Serikat menunjukkan 76,1 persen atau sejumlah 10.251 anak melakukannya seorang diri dan 23,9 persen sisanya atau yang berjumlah 3.220 orang melakukannya bersama-sama dengan orang lain.

Beberapa kasus kekerasan seksual yang terjadi di Indonesia dimana pelakunya adalah anak-anak juga menunjukkan bahwa mereka melakukannya dengan ditemani oleh orang lain, baik itu orang dewasa maupun bersama-sama dengan teman seusianya.

Sedangkan jenis kekerasan seksual yang dilakukan oleh anak yang paling sering terjadi menurut penelitian tersebut adalah ciuman, sentuhan, dan belaian yang dipaksakan. Ada 49,4 persen atau 6.654 anak-anak pelaku kekerasan seksual di Amerika Serikat melakukannya.

Sementara itu 24 persen atau berjumlah 3.233 anak-anak pelaku kekerasan seksual melakukan pemerkosaan dan 12,5 persen atau berjumlah 1.683 anak-anak melakukan sodomi. Selain itu ada 4,7 persen atau 633 anak-anak pelaku kekerasan seksual melakukannya dengan menggunakan benda dan sisanya 9,3 persen atau 1.252 melakukan kegiatan seks tanpa adanya pemaksaan.

Sebab Anak Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual

Anak-anak adalah individu yang paling rentan sehingga untuk melihat apa yang menyebabkan anak melakukan kekerasan seksual bukan merupakan hal yang mudah. Sebuah artikel berjudul Do Children Sexually Abuse Other Children? Preventing Sexual Abuse Among Children and Youth yang dipublikasikan oleh Stop It Now menyatakan penyebab anak melakukan kekerasan seksual itu adalah masalah yang kompleks.

Menurut naskah tersebut, penyebab anak melakukan kekerasan seksual juga bisa sangat beragam. Salah satunya karena mereka sebelumnya menjadi korban kekerasan seksual oleh orang lain yang biasanya adalah orang dewasa.

Selain itu, anak bisa menjadi pelaku kekerasan seksual karena telah mengalami pengalaman melihat secara langsung hubungan seksual yang terjadi dan dilakukan oleh orang dewasa baik secara sengaja atau tidak sengaja.

Infografik Faktor-faktor penyebab anak menjadi pelaku kekerasan seksual. Infografik: Dwiangga Perwira/Kriminologi.id

Faktor yang tidak kalah pentingnya menyebabkan anak memiliki perilaku agresif dan melakukan kekerasan seksual adalah paparan konten-konten pornografi yang terlalu dini. Konten pornografi yang dimaksud bisa dalam bentuk foto, video, dan permainan elektronik yang seringkali secara implisit mengandung pornografi.

Anak-anak yang menjadi pelaku kekerasan seksual di Rumpin, Bogor ternyata juga terpapar konten-konten pornografi sejak dini. Tentu saja pelakunya adalah orang dewasa, seperti yang diceritakan oleh salah satu orang tua pelaku bahwa anaknya diperlihatkan video porno oleh seorang tetangganya.

Seorang tetangga para pelaku yang bernama Yarmani (23) kerap menyuguhi anak-anak ini video porno melalui ponsel miliknya. Tindakan ini ternyata luput dari perhatian orang tua para pelaku, sehingga mereka baru mengetahuinya setelah kejadian di Rumpin, Bogor.

Baca: 6 Bocah SD Pemerkosa Temannya di Rumpin Kerap Disuguhi Video Porno

Longgarnya pengawasan yang dilakukan oleh orang tua juga menjadi poin penting dalam menghindarkan anak menjadi pelaku kekerasan seksual. Anak yang memiliki karakter serba ingin tahu dengan lingkungannya dan tidak mendapatkan pengawasan yang benar bisa jatuh ke pengetahuan yang salah. Mereka sering mencari sendiri jawaban-jawaban atas rasa penasaran yang dimilikinya termasuk masalah seksual.

Tulisan M. Flood yang berjudul The Harms of Pornography Exposure Among Children and Young People dalam Jurnal Child Abuse Review nomor 18 tahun 2009 memperlihatkan bahaya pornografi bagi anak. Pornografi merupakan bahan pembelajaran yang sangat buruk bagi anak, anak akan mencontoh dan menerapkannya sendiri. Sehingga anak memang harus dihindarkan dari konten pornografi dan mendapatkan pendidikan tentang seksualitas yang sesuai dengan usianya.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh London-based National Clinical Assessment and Treatment Service (NCats) menemukan bahwa seringkali orang tua atau bahkan guru tidak menghiraukan tanda-tanda awal ketika anak membicarakan tentang seksualitas. Hal ini memang masih menjadi suatu yang tabu untuk dibicarakan dan didiskusikan dengan anak-anak.

Baca: Adegan Video Porno Rentan Dipraktikan Anak 9 Tahun, kata KPAI

Selain itu, penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa anak-anak yang melakukan kekerasan seksual terhadap anak lainnya karena mereka mencontoh tindakan yang dilakukan orang dewasa di lingkungannya.

Anak-anak yang ditelantarkan dan tidak mendapatkan perhatian yang sebagaimana mestinya dari orang tua akan menyebabkan terhambatnya perkembangan anak dan segala hal yang didapatkannya selama masa anak-anak akan membekas dan membentuk diri anak tersebut hingga dewasa. AS

Baca Selengkapnya

Home Sudut Pandang Kata Pakar Anak Menonton Video Porno Rentan Menjadi Pelaku Kekerasan Seksual

KOMENTAR

Tulis Komentar Kamu

Silahkan masuk terlebih dahulu
Silahkan tulis komentar kamu