Ilutrasi: Minuman keras atau beralkohol Foto: Pixabay

April dan Annisa, Wanita Korban Perceraian Rentan Konsumsi Miras

Estimasi Baca:
Selasa, 10 Apr 2018 18:10:53 WIB

Kriminologi.id - Apriliani dan Annisa dua wanita tewas usai pesta minuman keras (Miras) oplosan merupakan korban keretakan rumah tangga. Pernikahan yang dibangun keduanya kandas di tengah jalan karena perceraian. Beban mental wanita korban perceraian ini yang sangat rentan mengonsumsi minuman keras, seperti dalam penelitian di Amerika Serikat.   

April, wanita korban tewas usai mengkonsumsi miras yang dioplos ginseng di Beji, Depok meninggalkan duka mendalam bagi keluarga. April, panggilan akrab Apriliani, meninggalkan seorang anak laki-laki buah pernikahannya dengan Romi, mantan suaminya.

Menurut pengakuan Ibunda Apriliani, anaknya berubah sikapnya sejak bercerai. April kedapatan merokok dan kerap pulang pagi.

"Pas pisah sama Romi, April jadi uring-urinngan, kelihatan banyak masalah. Sering keluar malam, kalau keluar malam sering nongkrong di Soerabi Bandung, sama temen-temennya. Malahan saya pernah lihat dia ngerokok.” ujar Ibunda April.

Akhirnya Apriliani tewas akibat meminum miras oplosan bersama dengan teman-temannya yang biasa nongkrong di Soerabi Bandung tersebut.

Serupa dengan April, Annisa Aldilah juga menjadi korban keganasan miras oplosan di Jatimulya, Bekasi. Rupanya Annisa juga wanita yang gagal mempertahankan rumah tangganya. Ia seorang janda anak satu.

Setelah bercerai dengan mantan suaminya, Annisa mulai dekat dengan laki-laki lain yang berprofesi sebagai buruh pabrik. Menurut penuturan ayah Annisa, sebenarnya anaknya termasuk pendiam sehingga dirinya masih tidak percaya jika Annisa turut menenggak miras oplosan bersama kekasihnya itu.

Fenomena perempuan korban miras oplosan yang telah bercerai menarik perhatian untuk melihat apakah terdapat hubungan antara kondisi rumah tangga korban yang tidak harmonis dengan perilaku mereka meminum minuman keras.

Penelitian yang dilakukan oleh Bogart dkk dalam Journal of Studies on Alcohol and Drugs mengungkapkan bahwa pernikahan memiliki pengaruh dalam perilaku konsumsi minuman beralkohol. Konsumsi minuman beralkohol oleh perempuan yang sudah menikah akan menurun jumlahnya dibandingkan saat sebelum menikah.

Penelitian Bogart dkk yang berjudul Effects of Early and Later Marriage on Women’s Alcohol Use in Young Adulthood: A Perspective Analysis merupakan penelitian longitudinal dengan sampel 1.138 perempuan berumur 18-29 tahun. Setelah 5 tahun kemudian, Bogart melihat perkembangan pola perilaku perempuan yang menjadi sampelnya terkait konsumsi alkohol.

Penelitian itu dilakukan di daerah California dan Oregon, negara bagian di Amerika. Berdasarkan penelitian tersebut disimpulkan bahwa perempuan yang telah menikah akan berkurang konsumsi alkoholnya dibandingkan perempuan yang masih lajang.

Adapun definisi penelitian longitudinal menurut Wikipedia adalah salah satu jenis penelitian sosial yang membandingkan perubahan subjek penelitian setelah periode waktu tertentu. Penelitian jenis ini sengaja digunakan untuk penelitian jangka panjang, karena memakan waktu yang lama.

Hui Liew dalam tulisannya yang berjudul The Effects of Marital Status Transitions on Alcohol Use Trajectories juga menyebutkan di satu sisi perceraian perempuan dengan pasangannya dapat meningkatkan perilaku konsumsi alkohol oleh perempuan sebagai bentuk respons diri terhadap rasa kehilangan dan stres yang melanda perempuan setelah berpisah.

Pernyataan Liew rupanya dibenarkan oleh pendapat Rognmo dkk. Rognmo menulis naskah berjudul More Mental Health Problems After Divorce in Couples with High Pre-Divorce Alcohol Consumption than In Other Divorced Couples: Results from The HUNT-study. Hasil penelitian Liew menunjukkan masalah kesehatan kejiwaan cenderung lebih sering muncul pada perempuan yang mengalami perceraian dibandingkan dengan perempuan yang masih menikah.

Beban mental dan goncangan terhadap kondisi kejiwaan perempuan setelah bercerai menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku perempuan mengkonsumsi minuman keras. Ini juga terlihat dalam kasus yang menimpa April dan Annisa.

Setelah bercerai, keduanya mengalami perubahan perilaku dan karakter yang dimiliki. April menjadi orang yang kerap pulang pagi dan merokok, sedangkan Annisa menjadi pribadi yang mengagetkan karena mengikuti jejak suram sang kekasih barunya dengan menenggak minuman keras.

Kedua perempuan ini adalah korban perceraian dari biduk rumah tangga yang tidak lagi bisa diselamatkan. Keduanya juga memilki tanggung jawab terhadap anak semata wayang hasil pernikahan sebelumnya.

Beban psikologis April dan Annisa pascabercerai dapat mendorong keduanya mengonsumsi miras untuk melupakan semua beban tersebut hingga nyawanya terenggut akibat miras itu sendiri.

KOMENTAR
500/500