Menteri Pertahanan Republik Indonesia Ryamizard Ryacudu. Foto: Antara

Asia Tenggara Hadapi Ancaman Teroris Generasi Ketiga Setelah Al Qaeda

Estimasi Baca:
Sabtu, 10 Feb 2018 05:05:14 WIB

Kriminologi.id - Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memaparkan soal ancaman generasi ketiga teroris global setelah Al-Qaeda. Menurutnya, saat ini negara-negara di kawasan Asia Tenggara sedang berhadapan dan menyaksikan langsung generasi ketiga pergerakan teroris global itu.

Ryamizard menuturkan, tiga generasi pergerakan teroris global itu ialah Al Qaeda sebagai generasi pertama yang menyerang Gedung WTC di Amerika Serikat pada 2001 yang kemudian menjadi ancaman di berbagai belahan dunia di Asia, Afrika, Timur Tengah dan Eropa.

Generasi kedua teroris global adalah kehadiran ISIS yang mengumumkan pembentukannya pada Juni 2014 oleh Abu Bakar Al Baghdadi. Sedangkan generasi ketiga teroris global adalah menyebarnya ancaman ISIS ke seluruh belahan dunia. 

Setelah kekalahan ISIS di timur tengah, kelompok separatis bersenjata itu kini mulai menyebar ke wilayah Afrika, Eropa dan Asia Timur termasuk juga ke Asia Tenggara melalui pejuangnya yang kembali ke negara masing-masing.

"Ciri khusus dari ancaman terorisme generasi ketiga ini adalah kembalinya para pejuang ISIS (Foreign terrorist Fighter) dari timur tengah," kata Ryamizard saat mengisi kuliah umum di School of International Studies S.Rajaratnam, Singapura, Kamis, 8 Februari 2018.

Baca: Anak Polisi, Metode Perekrutan Baru ISIS di Indonesia

Menurut Ryamizard, berdasarkan data intelijen di Kementerian Pertahanan, ada sekitar 31.500 pejuang ISIS yang bergabung di Syria dan Irak. Dari jumlah tersebut, 1.000 orang berasal dari Asia Tenggara dimana 800 orang terdata berasal dari Indonesia.

Ancaman radikal dan teroris generasi ketiga ini pun menurutnya memiliki sifat-sifat alamiah, yaitu berbentuk desentralisasi ke dalam wilayah provinsi-provinsi.

Mereka juga berbentuk sel-sel tidur serta operasi yang berdiri sendiri (lone wolf) dan mengalami radikalisasi melalui saluran online, media sosial dan penggunaan teknologi canggih.

"Daulah Islamiyyah Katibah Nusantara yang merupakan aliansi dari Divisi Islamic State Asia Timur yang merupakan penggabungan antara Islamic State Phillipines, Islamic State Malaysia dan Islamic State Indonesia dibawah kendali struktur ISIS Pusat yang dipimpin oleh Abu Bakr al-Baghdadi yang berbasis di Syria dan Irak," tuturnya.

Baca: Pembakaran Polres Dharmasraya dan Tantangan Menjadi Mujahid

Selain soal ancaman teroris generasi ketiga itu, menurutnya, Filipina juga akan tetap menjadi teater yang paling penting bagi ISIS di Asia Tenggara pada masa yang akan datang.

Para rekrutan ISIS yang dilatih di Filipina cenderung menargetkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia untuk menjalankan aksinya.

"Kemudian dari Poso ke Bima dan berlanjut ke Bali sebagai tempat transit. Kemudian bergerak ke Malang, selanjutnya Solo dan Yogyakarta di Jawa Tengah, Tasikmalaya, Jawa Barat berlanjut ke Solo, Jakarta dan Banten di Provinsi Lampung, Riau dan Aceh," jelas mantan Kepala Staf Angkatan Darat era Presiden Megawati Soekarnoputri ini.

Selain perkembangan ISIS di kawasan Laut Sulu dan Filipina Selatan yang terus menghantui, menurutnya yang juga perlu diperhatikan khusus adalah krisis Rohingnya di Rakhine State, Myanmar.

Ryamizard menyinggung program 'Our Eyes' yang diperkenalkan pada tanggal 25 Januari 2018 lalu di Bali. Konsep program tersebut menurutnya murni kerjasama untuk mengatasi ancaman terorisme dan radikalisme di kawasan tanpa adanya agenda politik apapun di dalamnya.

Baca: Pendidikan Karakter Tangkal Intoleransi dan Radikalisme

Ada tiga hal yang menjadi prioritas dalam kerangka kerja "Our Eyes" itu. Yang pertama adalah pemantauan lalu lintas keuangan kelompok teroris ke kawasan Asia Tenggara. Kedua adalah pemantauan pergerakan pejuang ISIS yang kembali ke negaranya masing-masing.

"Kita juga melakukan pemantauan para pejuang ISIS yang kembali dan keluar masuk kawasan. Berdasarkan data kami ada sekitar 31.500 Pejuang ISIS asing yang bergabung di Syria dan Irak, dari jumlah tersebut 1000 berasal dari Asia Tenggara serta 800 dari Indonesia," paparnya.

Sedangkan yang ketiga adalah pemantauan media sosial. Sebab saat ini perlu membentuk kelompok kerja baru untuk mengidentifikasi bagaimana para teroris menggunakan media sosial.

"Kita mesti mengetahui apa yang tengah mereka gunakan, dan cara untuk menghentikan penyebarannya," tutupnya. 

KOMENTAR
500/500