Lokasi pembegalan payudara di Jalan Swadaya, Depok. Foto: Walda Marison/Kriminologi.id

Begal Payudara Marak, Negara Gagal Edukasi Nilai Seksualitas

Estimasi Baca:
Selasa, 24 Jul 2018 15:12:22 WIB

Kriminologi.id - Pelecehan seksual dengan cara meremas payudara korban di tempat umum yang terjadi di Depok, Jawa Barat, dinilai sebagai dampak bentuk pemahaman nilai seksualitas yang tidak benar. Selain itu hal itu juga sebab dari ketidakmampuan orang tua dan negara dalam mengedukasi nilai seksualitas warganya.

Kriminolog Universitas Indonesia, Prof. Muhammad Mustofa mengatakan fenomena kejahatan tersebut akibat dari kegamangan edukasi dari nilai-nilai seksualitas.

“Pemahaman nilai-nikai seksualitas yang kurang, dampak dari sosialisasi nilai seksualitas yang tidak benar. Karena orang tua gamang menanamkan nilai-nilai seksualitas yang benar pada anaknya,” ujar Mustofa kepada Kriminologi.id melalui sambungan telepon, Selasa, 24 Juli 2018.

Menurutnya, kegamangan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai seksualitas tersebut harus dikikis. Namun akan menjadi persoalan kemudian jika orang tua tidak mampu menanamkan nilai tersebut.

“Ketika orang tua tidak mampu, negara harus mengambil alih melalui edukasi apakah oleh guru. Kalau guru tidak mampu haru ada pendidikan masyarakat yang lebih masal,” ujar Mustofa menjelaskan.

Menurutnya negara harus hadir dalam persoalan itu untuk mengambil alih penanaman nilai tersebut melalui sosialisasi edukasi yang benar terkait nilai seksualitas.

“Karena kalau mengharapkan orang tua, kalau orang tua yang tidak mampu gimana? Dan banyak orang tua juga produk gagal,” ujar Mustofa.

Menurutnya negara dapat mengambil alih penanaman nilai-nilai tersebut kepada masyarakat melalui media film atau lainnya yang massal.

“Melalui sinetron penanaman nilai-nilai yang lebih baik bukan rebutan waris dendan, kan itu yang mendominasi. Itu yang harus menjadi counter-nya. Dan itu harus menjadi program pemerintah. Bikin sinetron yang lebih mendidik,” ujar Mustofa.

Mustofa juga menjelaskan, teori yang paling dominan terkait kejahatan adalah menurutnya kejahatan itu dipelajari. Hal itu kemudian menjadi sikp yang dianggap benar oleh masyarakat. 

“Kalau teori yang paling dominan kan shuterland, kejahatan itu dipelajari. Kemudian menghasilkan sikap dan itu dianggap benar, makanya harus di-counter kejahatan itu keliru,” ucap Mustofa.

Konten-konten pornografi, menurut Mustofa,  walaupun disensor tapi masih dapat diakses oleh masyarakt luas. Menurutnya hal itu harus menjadi perhatian negara.

Sebelumnya diberitakan, ATN menjadi korban begal payudara di Gang Swadaya, Jalan Taman Indah II, Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, Minggu, 15 Juli 2018. 

Kala itu, seorang pria tak dikenal mengendarai sepeda motor matik hitam tiba-tiba meremas payudaranya sebanyak tiga kali. Pelaku juga memperlihatkan alat vitalnya tersebut kepada ATN. Hingga kini pihak kepolisian masih melakukan pencarian terhadap pelaku. AS

Reporter: Achmad Sakirin
Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500