Seorang polisi dan TNI menyampaikan materi tentang kedisiplinan di hadapan puluhan pelajar saat Pendidikan Pendahuluan Bela Negara Pelajar. Foto: Antara

Bela Negara, Dunia Pendidikan, dan Ekstremisme

Estimasi Baca:
Jumat, 20 Okt 2017 15:00:04 WIB

Kriminologi.id - Kekhawatiran elite politik dari kalangan militer terhadap fenomena kelompok-kelompok ekstrem yang marak di masyarakat memunculkan gagasan untuk menelurkan proyek bela negara di kalangan siswa dan mahasiswa. Setelah mewacanakan pentingnya memasukkan pelatihan bela negara ke dalam kurikulum pendidikan, gagasan itu kini mulai terwujud.

Kepada wartawan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, mengatakan institusi yang dipimpinnya sudah berkoordinasi dengan sejumlah lembaga pendidikan tinggi. Modul yang berisi kegiatan bela negara pun sudah disebar. Dalam penyelenggarannya, modul kegiatan itu digelar selama delapan hari. Empat hari dilaksanakan di dalam ruang kelas dan empat hari sisanya dilakukan di lapangan.

Kegiatan bela negara itu, oleh Ryamizard, dinilai lebih baik dibandingkan dengan sistem perpeloncoan masa orientasi pengenalan kampus, yang biasa dilakukan setelah peresmian penerimaan mahasiswa baru.

Tampaknya konsep bela negara ini dimaknai sebagai nilai yang melibatkan aspek militeristik dengan menggabungkan indoktrinasi ideologis dan olah fisik. Bila konsep ini masuk di ranah pendidikan, dikhawatirkan justru kontraproduktif bagi penumbuhkembangan nilai-nilai yang bermuara pada daya kritik siswa dan mahasiswa.

Baca: Cegah Terorisme, Mahasiswa dan Pelajar Diajak Berliterasi

Itu sebabnya kalangan pengamat pendidikan berpandangan bela negara yang sesungguhnya itu istilah lain dari semangat patriotisme. Tapi, semangat itu akan dengan sendirinya meningkat ketika daya kritis anak muda cukup memadai.

Dengan demikian, di masa orientasi studi, yang dibutuhkan bukannya pemantapan ideologis dan penempaan fisik, melainkan diskusi-diskusi kritis dengan narasumber-narasumber kompeten yang kritis pula.

Apa yang dilakukan sekolah-sekolah favorit di Jakarta seperti Lab School tampaknya pantas jadi program nasional dalam mengisi masa orientasi studi setiap tahun ajaran baru. Di acara-acara orientasi studi pengenalan lingkungan sekolah itulah, kegiatan yang diselenggarakan antara lain memberikan pelatihan jurnalistik, diskusi-diskusi dengan tema-tema yang berkaitan dengan kiat sukses dalam studi.

Program bela negara di perguruan tinggi konon untuk meredam penyebaran ideologi ekstrem. Sepintas, logika penyebaran ideologi ekstrem bisa diredam dengan adanya program bela negara. Namun, jika ditelaah lebih jauh, efektivitasnya bisa dipertanyakan.

Baca: Aman Nusa III, Deteksi Dini Kejahatan Perbatasan Gorontalo-Sulteng

Untuk meredam ekstremisme, ada yang harus dijawab sebelum menawarkan solusinya. Mengapa individu termakan oleh ideologi ekstrem, yang memandang bahwa perbedaan adalah haram adanya? Mengapa mereka meyakini bahwa kebenaran hanya ada pada sang pemilik ideologi ektrem itu? Jawaban atas pertanyaan itu sebetulnya sudah tersedia dalam rekaman peristiwa historis. 

Pertama, kondisi ekonomi yang sulit membuat individu mudah termakan oleh ide-ide tentang Ratu Adil. Kedua, masuknya ide-ide ekstrem ke dalam benak individu karena belum pernah bersentuhan dengan nilai-nilai yang mengagungkan perbedaan dan keterbukaan.

Itu sebabnya, ketika di lembaga pendidikan, baik jenjang menengah maupun tinggi sudah dihuni sejumlah siswa atau mahasiswa yang telah termakan oleh ide-ide ekstrem itu. Solusi yang ditawarkan kemudian bukan mencekoki mereka dengan ideologi tandingan yang konfrontatif, namun memberi kesempatan mereka untuk berinteraksi dalam diskusi-diskusi kritis.

Menyelenggarakan diskusi kritis pun agaknya tak akan memberikan hasil yang efektif jika dilakukan oleh para instruktur yang berlatar belakang pendidikan kemiliteran—yang cenderung mengandalkan kedisplinan dan keseragaman. Barangkali kalangan aktivis yang bergerak di isu-isu dialog antariman lebih pas untuk dijadikan narasumber dalam diskusi tersebut demi meredakan semangat ekstremisme di kalangan siswa dan mahasiswa.

Baca: Infografik: Deretan Teroris Paling Berbahaya di Dunia

Masuknya para pejabat di lingkungan Kementerian Pertahanan untuk memberikan ceramah tentang bela negara di lembaga pendidikan, khususnya di hadapan siswa atau mahasiswa baru, juga kurang menarik bagi siswa dan mahasiswa. Pasalnya, generasi milenial cenderung menghendaki adanya unsur hiburan dan keceriaan dalam aktivitas yang mereka lakukan.

Mendatangkan komedian Indro Warkop di sekolah atau kampus untuk berbicara tentang etos kreativitas hidupnya, sehingga menjadi pelawak terkemuka yang bertahan menghadapi pesaing komedian muda, lebih merangsang daya minat siswa dan mahasiswa.

Selain itu, waktu delapan hari yang dibutuhkan untuk melakukan pelatihan bela negara akan menjadi efektif, jika diisi dengan empat hari diskusi bersama kalangan selebritas berprestasi semisal sutradara Riri Riza, Garin Nugroho, atau produser terkemuka Mira Lesmana, bahkan aktivis lingkungan Nadine Candrawinata.

Untuk kalangan mahasiswa, masa orientasi studi akan lebih bermakna jika diisi dengan mengundang narasumber yang berprestasi di bidang sesuai dengan program studi yang akan digeluti mahasiswa. Tentu kendala terbesar adalah dana yang harus disediakan untuk mengundang tokoh-tokoh terkemuka itu.

Baca: Enam WNI Terduga Jaringan Teroris Kembali dari Turki

Solusi untuk mengatasi kendala itu bisa dilakukan dengan cara kekeluargaan. Misalnya, mahasiswa baru yang mempunyai anggota keluarga atau kerabat yang kebetulan menjadi tokoh atau selebritas bisa menyumbangkan tenaganya untuk mengisi aktivitas semasa orientasi studi itu.

Upaya menghadirkan orang sukses dalam kegiatan masa orientasi studi selalu memberikan inspirasi bagi mahasiswa. Apalagi, jumlah selebritas di Tanah Air saat ini cukup melimpah, baik yang masih aktif  maupun yang sudah lebih banyak di rumah.

Namun, aspek yang tak kalah pentingnya dalam mewujudkan ide menghadirkan selebritas di masa orientasi studi itu, adalah kesediaan sang selebritas untuk tidak terlalu komersial dalam memenuhi undangan menjadi pembicara untuk berbagi pengalaman meraih sukses dalam berkarier. TD
 

*Sangkalan

Tulisan ini dilansir dari Antara. Ditulis oleh M Sunyoto, wartawan senior dan diterbitkan di LKBN Antara, Jumat 20 Oktober 2017.

Penulis: Tito Dirhantoro
Redaktur: Bobby Chandra
Sumber: Antara
KOMENTAR
500/500