Ledakan di Masjid Ar-Raudhah, Markaz Bir El-Abd, kota El-Arish, Sinai Utara. Foto: Ist/Kriminologi.id

Bom Mesir, Pengamat: ISIS Anggap Pengikut Tarekat Sesat

Estimasi Baca:
Senin, 27 Nov 2017 15:25:27 WIB

Kriminologi.id - Serangan kelompok ISIS yang menyasar sebuah masjid di kawasan Bir el-Abid, Kota Arish, Mesir, menewaskan 305. Masjid tersebut diketahui merupakan tempat bagi jemaah tarekat Gaririya, sebuah cabang dari ajaran sufisme Islam yang berkembang di Mesir.

Otoritas Mesir mengklaim serangan itu dilakukan militan ISIS di Timur Tengah yang lebih sering disebut Daesh. Para pelaku berada di depan pintu masjid serta 12 jendela masjid itu. Mereka juga menenteng senapan otomatis untuk melakukan serangan. 

Pengamat Timur Tengah Zuhairi Misrawi mengatakan, masjid tersebut merupakan tempat bagi jemaah tarekat Gaririya Ahmadiyah. Menurutnya, warga sekitar di Bir el-Abid menjadikan masjid tersebut sebagai tempat mereka beribadah.

“Di situ satu kampung memang penganut tarekat. Itu biasa di Mesir. Mereka punya masjid,” ujarnya kepada Kriminologi melalui sambungan telepon, Senin, 27 November 2017.

BACA: Korban Bom Mesir Ternyata Mayoritas Pengikut Tarekat

Zuhairi juga menjelaskan, tarekat Gairiya yang berkembang di lokasi kejadian pemboman merupakan cabang dari tarekat Badawiyah, sebuah ajaran sufisme di Mesir.

Terkait kelompok sufi yang disasar oleh ISIS, Zuhairi menjelaskan, kelompok ISIS berpadangan bahwa kalangan penganut tarekat merupakan ajaran sesat.

“Orang ISIS itu dikenal takfiri atau suka mengafirkan kelompok lain. Kalangan tarekat menurut pandangan mereka, sesat. Sufi itu sesat,” katanya.

Lulusan Akidah Filsafat, Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Mesir, itu juga mengatakan, kelompok sufi meyakini adanya seorang yang harus menjadi rujukan dalam beragama. Sementara kelompok ISIS menganggap perilaku seperti itu termasuk syirik.

BACA: Serangan Bom Sasar Masjid, DPR: Dunia Harus Bersatu Cegah Terorisme

Zuhairi juga mengatakan, peristiwa penyerangan masjid tersebut merupakan keteledoran dari pihak keamanan Mesir.

Menurutnya, penyerangan itu terjadi di wilayah yang tidak terpantau oleh pihak keamanan dan intelijen.

“Mereka (penganut tarekat Gaririya) tidak melibatkan kabilah-kabilah (kelompok suku) yang punya sistem keamanan deteksi dini. Sistem kabilah yang tidak hidup. Dalam bayangan mereka tidak mungkin ada penyerangan, apalagi masjid,” kata dia.

Sebuah masjid di Desa Raudah, Kota Arish, Mesir, menjadi sasaran kelompok teror. Sebanyak 305 orang tewas dan melukai 128 orang lainnya.  Otoritas Mesir meyakini serangan itu dilakukan militan ISIS yang kerap disebut Daesh. Diduga kelompok tersebut berjumlah 25 hingga 30 orang dengan membawa bendera Daesh. 

Saat kejadian, kelompok teror itu berada di depan pintu masjid serta 12 jendela masjid itu. Mereka juga menenteng senapan otomatis untuk melakukan serangan. 

BACA: Serangan Bom Masjid di Mesir, MUI: Mereka Menodai Kesucian Islam

Sejumlah saksi yang lolos dari serang itu mengatakan gerombolan bersenjata yang sebagian mengenakan masker penutup wajah dan seragam ala militer, mengepung masjid dengan menghalangi jendela-jendela dan pintu masuk. Mereka kemudian menembakkan senjata secara membabi buta ke dalam masjid.

Saksi juga menyatakan, gerombolan bersenjata itu meledakkan bom pada akhir salat Jumat di masjid yang berlokasi di sebelah barat Kota Arish itu. 

Tak hanya itu, kelompok itu kemudian menembaki jemaah salat yang berusaha kabur, termasuk menembaki ambulans dan membakar mobil untuk memblokir jalan. AS

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500