Ilustrasi gantung diri. Foto: Ist/Kriminologi.id

Dua Alasan Utama Pilih Gantung Diri Sebagai Metode Akhiri Hidup

Estimasi Baca:
Sabtu, 12 Mei 2018 21:05:21 WIB
Penelitian yang dilakukan oleh sejumlah peneliti di Inggris mengungkap dua alasan utama seseorang memutuskan memilih gantung diri sebagai metode untuk bunuh diri.

Kriminologi.id - Bunuh diri dengan metode gantung diri nampaknya cukup populer di masyarakat Indonesia melihat dari terus berulangnya peristiwa tersebut. Sejak Januari 2018 saja, Kriminologi.id mencatat sedikitnya ada 16 perisitiwa bunuh diri terungkap yang menggunakan gantung diri sebagai metodenya. 

Belum lama ini, seorang remaja bernama Hani bunuh diri di sebuah rumah kosong di Perumahan Wahana Pondok Ungu, Desa Babelan Kota, Bekasi. Remaja berusia 16 tahun tersebut ditemukan tewas tergantung di rumah kosong pada Senin, 7 Mei 2018.

Tidak hanya Hani, seorang pria bernama Daryoso (38) juga ditemukan tewas bunuh diri sehari berselang. Daryoso ditemukan dalam keadaan tergantung di tiang lampu jalan tol JORR KM 30, Kelurahan Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Selasa malam, 8 Mei 2018.

Bunuh diri sendiri merupakan fenomena global. World Heatlh Organization (WHO) mengungkapkan hampir 800 ribu orang mati karena bunuh diri setiap tahunnya, dengan kata lain ada satu orang mati bunuh diri setiap 40 detik.

Tingkat bunuh diri di Indonesia sebenarnya masih tergolong rendah di kawasan Asia Tenggara. Data WHO tahun 2016 menunjukkan Indonesia memiliki tingkat kematian bunuh diri sebesar 3,4 per 100 ribu populasi. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi terendah kedua setelah Maladewa yang memiliki tingkat kematian bunuh diri sebesar 2,3.

Berbicara mengenai metode, gantung diri banyak ditemukan dalam kasus bunuh diri di Indonesia. Menariknya, gantung diri juga didapati sebagai metode yang paling sering digunakan di Inggris, dengan jumlah sekitar 2.000 kematian per tahun.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Lucy Biddle dan sejumlah peneliti Inggris mencoba mencari tahu faktor apa saja yang mempengaruhi seseorang memutuskan menggunakan gantung diri sebagai metode bunuh diri. 

Penelitian yang dituliskan dalam The British Journal of Psychiatry dengan judul Factors influencing the decision to use hanging as method of suicide: qualitative study itu menggunakan metode kualitatif dengan melakukan wawancara semi-terstruktur pada 12 pria dan 10 wanita yang selamat dari percobaan bunuh diri. Dari jumlah tersebut, sebanyak 8 responden pernah melakukan upaya bunuh diri.

Penelitian tersebut mengungkap dua alasan utama seseorang memutuskan gantung diri sebagai metode bunuh diri, yakni sifat antisipasi kematian karena gantung diri dan aksesibilitasnya.

1. Sifat Antisipasi Kematian 

Jenis kematian yang diharapkan dan diantisipasi responden sebagai hasil dari gantung diri adalah penting bagi keputusan mereka tentang apakah akan menggunakan metode ini atau tidak. Hal-hal yang mempengaruhi responden mengambil metode ini, antara lain:

- Kepastian

Responden mempertimbangkan atau memilih untuk melakukan gantung diri karena mereka menganggap ini sebagai metode bunuh diri yang pasti berhasil. Sedangkan mereka mengakui bahwa alternatif metode lain mungkin saja gagal.

- Pengalaman sekarat

Alasan yang menonjol lainnya adalah harapan akan mati dengan sangat cepat. Berbeda dengan metode lain, para responden berpikir bahwa mereka tidak perlu menunggu lama tindakan mereka untuk ‘bereaksi’ setelah dilakukan. Selain itu, dengan gantung diri mereka berpikir hanya akan sedikit merasakan sekarat atau pengalaman rasa sakit karenanya. 

Dengan demikian, gantung diri menjanjikan kesimpulan yang cepat untuk perasaan putus asa. Ide tentang kepastian dan kecepatan metode ini berasal dari keyakinan bahwa gantung diri akan secara instan mematahkan leher mereka.

- Dianggap sebagai metode yang ‘bersih’

Sebagian besar responden memilih metode gantung diri karena mereka menganggapnya sebagai metode yang ‘bersih’ yang tidak akan melibatkan darah atau menyebabkan kerusakan pada tubuh. Hal tersebut dilakukan juga atas pertimbangan tidak ingin meninggalkan gambar yang traumatis bagi mereka yang mungkin menemukan atau mengindentifikasi mereka setelah melakukan bunuh diri.

2. Aksesibilitas

Alasan lain seseorang memutuskan untuk memilih gantung diri sebagai metodenya berkaitan dengan aspek aksesibilitas. Ada dua hal yang mempengaruhinya, yakni akses terhadap sarana/alat dan kemudahan dalam pengimplementasiannya.

- Akses terhadap sarana/alat

Seluruh responden setuju bahwa material untuk gantung diri sangat mudah diakses dan sebagian besar mengetahui berbagai benda umum yang bisa digunakan sebagai penjerat. Aksesibilitas ini telah menjadi faktor yang jelas bagi para responden, kehadiran material di sekitar mereka benar-benar mendorong mereka untuk mempertimbangkan untuk melakukan gantung diri.

- Kemudahan pengimplementasian

Responden juga menganggap gantung diri sebagai metode yang mudah dan sederhana untuk dilakukan. Mereka tidak memerlukan banyak persiapan atau pengetahuan untuk melakukannya. Bahkan, tidak ada dari mereka yang pernah melakukan upaya gantung diri yang menganggap perlu untuk mengumpulkan informasi teknis terkait gantung diri.

Dengan demikian, gantung diri dipandang sebagai metode yang dapat dilakukan dengan cepat dan tanpa memerlukan tingkat perencanaan yang rumit seperti metode lainnya. 

Berdasarkan temuan penelitian di atas, Lucy Biddle dan rekan-rekan menyimpulkan bahwa, sebagai strategi pencegahan, diperlukan adanya pembalikan persepsi mengenai gantung diri sebagai metode yang bersih, tanpa rasa sakit, serta cepat dan mudah untuk dilakukan. RZ

Penulis: Aditia Tjandra
Redaktur: Reza Yunanto
KOMENTAR
500/500