Rumah yang menjadi lokasi penemuan dua kerangka mayat di Cimahi, Bandung, Jawa Barat, (30/01/2018). Foto: Arief Pratama/Kriminologi.id

Dua Tahun Hidup Bersama Mayat, Psikolog: Kenapa Neneng Dibiarkan?

Estimasi Baca:
Rabu, 31 Jan 2018 18:30:10 WIB

Kriminologi.id - Perilaku Neneng Khodijah (76) yang hampir dua tahun hidup bersama mayat suami dan anak kandungnya itu sulit diterima akal sehat. 

Psikolog dari Universitas Negeri Jakarta Mira Aryani mempertanyakan lingkungan sosial tempat tinggal yang membiarkan aktivitas tidak normal Neneng itu berlanjut dalam waktu lama. 

"Lingkungan sosialnya bagaimana? Hidup dengan mayat tapi tidak ada yang mengingatkan kalau itu tidak normal. Bahkan dari sisi kesehatan sangat membahayakan," ujar Koordinator Prodi S1 Psikologi UNJ kepada Kriminologi, Rabu, 31 Januari 2018.

Baca: Neneng Dapat Petunjuk Simpan Mayat Suami dan Anak Usai Tahajud 40 Hari

Neneng menjalani hidup bersama kerangka mayat Hera Sri Herawati anak Neneng yang meninggal Januari 2016, dan Hanung, suaminya yang meninggal 11 bulan kemudian. 

Kerangka mayat ini disimpan terbaring di ruang tamu rumahnya yang terletak di Kompleks Cijerah II, Gang Nusaindah 6 Blok 13 No 117, Kota Cimahi, Bandung. Neneng pun memperlakukan mayat itu layaknya masih hidup, yakni dengan mengganti selimut yang menutupi kerangkanya.   

Warga sekitar mengenal Neneng sebagai keluarga yang sangat tertutup. Mira memastikan perilaku Neneng yang tinggal bersama dua mayat di ruang tamu selama dua tahun itu tidak normal.

Mira menduga telah terjadi gangguan mental terhadap Neneng.  

Baca: Simpan Kerangka di Rumah, Neneng Takut Dituduh Bohong Dapat Hidayah

"Bisa jadi dia mengalami gangguan psikosis atau skizofrenia. Ini tidak normal," ujar  

Lebih lanjut, Mira menyoroti perilaku Neneng yang percaya terhadap hal-hal yang berbau mistik atau klenik itu semakin memperkuat kalau dirinya sakit alias tidak normal. Memang, ia mengakui percaya terhadap mistik atau klenik ini masih kuat di tengah masyarakat.

Akan tetapi, jika percaya terhadap bisikan atau wangsit itu akan membentuk masyarakat tidak normal.  

"Di masyarakat masih kuat keyakinan terhadap bisikan, atau wangsit itu. Pada akhirnya, kalau dibiarkan nanti masyarakat yang sakit karena percaya demikian," ujarnya. 

Baca: Kerangka Suami dan Anak Dalam Sarung, Neneng: Lagi Tidur, Nanti Bangun

Soal Psikosis, Mira menjelaskan penderitanya itu masih normal. Akan tetapi, pikirannya yang tidak normal. Biasanya si penderita diikuti dengan gejala lain.

Misalnya ia mencontohkan perilaku Neneng yang berbicara dengan dua mayat yang menemaninya sehari-hari. Komunikasi dengan orang tak bernyawa yang dianggap masih hidup.  

"Mayat itu sumber penyakit, dan tidak ada pembenaran dari agama," ujarnya.

Mira menghimbau kepada tetangga sekitar atau pengurus warga lebih peduli terhadap lingkungan sehingga peristiwa seperti ini tidak lagi terulang.  SM

Reporter: Syahrul Munir
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500