Screenshoot Video porno Bandung. Foto: Ist/Kriminologi.id

ECPAT: Penanganan Eksploitasi Komersial Seks Anak Masih Lemah

Estimasi Baca:
Sabtu, 13 Jan 2018 05:00:23 WIB

Kriminologi.id - Video asusila yang melibatkan anak-anak untuk tujuan komersial mencuat ke publik setelah sutradara dan para pemeran ditangkap polisi. Terbongkarnya kasus tersebut dinilai sebagai suburnya eksploitasi komersial seksual terhadap anak di Indonesia. Sementara penanganan pihak terkait dinilai masih lemah.

Lembaga swadaya masyarakat End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking Of Children For Sexual Purposes (ECPAT) yang bergerak dalam penghentian eksploitasi seksual komersial anak (ESKA), menganggap eksploitasi seksual anak-anak untuk tujuan komersial di Indonesia kian memprihatinkan. Hal itu berkaca pada kasus pembuatan video asusila yang melibatkan anak sebagai pemerannya di Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu.

Menurut koordinator ECPAT Indonesia, Ahmad Sofian, persoalan eksploitasi seksual dalam bentuk digital yang ramai beredar tersebut sudah terjadi sejak tahun 2011 lalu.

Baca: Riset: Pornografi Penyebab Terbesar Kekerasan Seksual Terhadap Anak

Sofian dalam keterangannya melalui sambungan telepon kepada Kriminologi, Jumat, 12 Januari 2018, mengatakan bahwa peredaran konten-konten porno itu berawal dari sejumlah foto yang ditemukan.

“Sejak 2011 konten-konten porno itu sudah ada pada anak-anak itu. Cuma bentuknya tidak dalam video, masih dalam bentuk foto-foto. Anak-anak ini dikomersialisasikan untuk pasar global,” kata Sofian.

Menurutnya, anak-anak Indonesia kerap dijadikan objek eksploitasi oleh para pelaku dalam bisnis pornografi di dunia maya yang kini sedang berkembang. Anak-anak Indonesia yang dieksploitasi secara seksual dalam bentuk video maupun foto itu dan kemudian diedarkan di pasar global.

Baca: 5 Cara Bijak Agar Tak Jadi Korban Revenge Porn

“Kalau di luar negeri bisnis pornografi itu legal sepanjang yang tampil itu di atas usia 18 tahun. Tapi tidak ada identitas bahwa yang bersangkutan masih di bawah 18,” katanya.

Sofian menjelaskan, bisnis eksploitasi seksual terhadap anak-anak itu merupakan kejahatan yang terorganisir. Sementara video yang beredar dan dibuat oleh Faisal Akbar, pelaku yang berperan sebagai sutradara video asusila di Bandung, Jawa Barat, merupakan kecelakaan, karena tersebar secara tidak sengaja.

“Karena ini bisnis yang tertutup tidak ter-blow up. Menurut saya kejadian 2018 ini sebuah kecelakaan karena tersebar tanpa kesengajaan,” katanya.

Baca: ECPAT: Bali Jadi Basis Sindikat Eksploitasi Seksual Komersial Anak

Terkait kejahatan eksploitasi seksual komersial di mana anak-anak menjadi korbannya, kata Sofian, dalam hasil kajiannya mendata sebanyak 80 ribu anak-anak Indonesia menjadi korban baik itu dalam bentuk ekspolitasi seksual, pornografi, video dan perdagangan seksual.

Sofian juga mengkritik pihak kepolisian yang dinilai tidak menunjukkan keseriusan dalam menangani kasus eksploitasi komersial seksual anak. Menurutnya, hal itu terlihat dari terbongkarnya kasus video buatan Faisal itu bukan atas inisiatif kepolisian melainkan dari laporan masyarakat.

“Ini menunjukkan kemampuan kepolisian kita dalam membongkar kejahatan seksual anak itu lemah, berbeda dengan membongkar kejahatan terorisme, narkoba, dan korupsi,” ujarnya.

Baca: 9 dari 10 Wanita di Brussel Pernah Alami Pelecehan Seksual

Menurutnya, hal itu menunjukkan belum adanya komitmen dari pihak kepolisian dalam memberantas kejahatan terorganisasi ini.

“Betul-betul kayak yang diklaim masyarakat. Kayak petugas pemadam kebakaran, nunggu dulu baru mereka datang. Lebih hebat Poskamling mereka keliling,” ujar Sofian.

Sofian juga mengkritik penanganan yang dilakukan penegak hukum atas kejahatan tersebut. Ia menganggap kejahatan atas eksplotasi komersial seksual anak yang belakangan terjadi masuk dalam kategori kejahatan yang serius (serious crime).

Meskipun dirinya tidak menyebut sebagai extra ordinary crime, pemberantasannya terhadpa kejahatan itu harus menggunakan cara-cara yang juga teroganisasi. 

Baca: Marak Kekerasan Seksual, Orang Tua Diminta Awasi Anak Saat Main Ponsel

“Kita tidak bisa menganggap ini sebagai kejahatan biasa. Akhirnya penanganannya juga biasa. Bisnis seks anak itu semua organized crime (kejahatan terorganisasi). Kita kritis terhadap itu. Kita sekarang masih menganggap ini kejahatan biasa,” ujarnya. 

Sehingga, kata Sofian, dalam tubuh kepolisian dalam menangani kasus eksploitasi komersial seksual anak belum menjadi satu unit khusus. Sehingga pihak kepolisian belum bisa mengendus, menginvestigasi. 

Sofian juga menjelaskan terkait basis para pelaku eksplotasi seksual terhadap anak-anak dalam bentuk video, dalam penelitiannya mengatakan bahwa Bali menjadi basis bagi para jaringan pelaku.

“Rata-rata mereka nge-base di Bali karena hit and run gampang. Hampir semua sindikatnya dari berbagai negara berada di sana,” ujar Sofian.

Baca: Produk Hukum Solusi Sikapi Kekerasan Seksual terhadap Perempuan

Menurutnya, selain para sindikat pelaku ekspolitasi seksual anak-anak internasional yang memilih lokasi Bali dipilih sebagai basis juga digunakan untuk membuat konsep video sebelum dibuat oleh para sutradara.

“Karena semuanya online kadang-kadang ada yang bandarnya di bali, kadang-kadang ada di Thailand, di luar. Pesan, kirim, bayar. Tidak mengenal batas-batas wilayah lagi. Di bali mereka ingin memastikan mem-briefing film yang akan mereka buat seperti apa,” ujar Sofian.

Umumnya, para sindikat internasional tersebut melakukan pengiriman hasil rekaman video ekspolitasi seksual anak-anak umumnya menggunakan cara-cara konvensional.

Baca: Kenali Dampak Kekerasan Seksual pada Anak

“Kalau dia ordernya dari Bali mereka antar langsung, karena mereka takut di tengah jalan di-cut. Kalau pengiriman email free bisa ditangkap. Google kan tahu isi inbox mereka. Maka lebih aman diantar langsung. Umumnya menggunakan hardisk masih car-cara konvensional,” ujarnya.

ECPAT merupakan jaringan global organisasi nonpemerintah yang bergerak dalam upaya penghentian eksploitasi seksual komersial anak (ESKA). Kajian EKSA meliputi perdagangan seks anak, pelacuran seks anak, pornografi anak, pariwisata seks anak, dan perkawinan anak. 

Sementara ECPAT Indonesia bekerja bersama di lebih dari 20 organisasi di 11 propinsi di Indonesia untuk menentang praktik ESKA.

Redaktur: Achmad Sakirin
KOMENTAR
500/500