Ilustrasi pencabulan. Ilustrasi: Pixabay

Farid, Gigolo Muda Langganan Tante-tante, Psikolog: Dampak Salah Asuh

Estimasi Baca:
Selasa, 14 Ags 2018 10:05:30 WIB

Kriminologi.id - Pencabulan siswi SMP berinisial GSP (13) yang dilakukan teman kencannya yakni Farid alias FS (26) di Bandung, Jawa Barat, diduga akibat pola asuh yang salah. Farid diketahui telah mengenal dunia prostitusi saat masih mengenakan pakaian putih-biru alias duduk di bangku SMP. 

Farid telah menerima imbalan uang jutaan rupiah karena memenuhi nafsu teman kencannya itu. Bahkan ia sudah menjadi gigolo yang melayani pemuas seks wanita dewasa. Psikolog anak dari RS Pantai Indah Kapuk, Ine Indriani, mempertanyakan pendidikan moral yang diajarkan orang tuanya kepada pelaku.

Ine menjelaskan sikap tersebut dapat dipicu oleh nilai-nilai yang diajarkan oleh kedua orang tuanya.

"Kita perlu cek value (nilai) yang dia anut dan yang diajarkan di dalam keluarganya seperti apa, moral, karakter dia, termasuk bisnis yang baik ataupun tidak. Jadi, kondisi dia dalam pembentukan value dalam keluarganya itu yang harus dipertanyakan, dan apa yang membuat anak ini jadi missed dan tidak punya aturan, tidak punya batasan sehingga mempengaruhi karakternya," kata Ine, pada Senin, 13 Agustus 2018.

Peran keluarga, kata Ine, sangat penting dalam memberikan dan menumbuhkan nilai-nilai baik pada diri anak. Di antaranya nilai tentang agama maupun batasan-batasan yang boleh dan tidak boleh dilakukan seseorang kepada orang lain.

Selain itu, pengaruh lingkungan pun ikut berkontribusi dalam tumbuh kembang anak, yakni mencapai 80 persen. Apalagi, jika merunut kasus tersebut, Farid mengaku sempat diajari oleh teman ibunya, yang menggunakan jasanya itu. 

Ia pun tidak heran jika usia pelaku saat ini sudah 26 tahun dan sudah termasuk usia dewasa, namun pelaku belum memiliki pola pikir yang matang.

"Sekarang dia sudah dewasa, 26 tahun, logikanya  usia itu termasuk dewasa, harusnya secara attitude dan pola pikir kognitif juga dewasa, tapi ini kan enggak. Secara kognisi dia tahu, tetapi secara bawah sadar belum tentu dia bisa tahu, karena pertumbuhan orang itu ibarat pohon, pohon itu kondasinya adalah akar dan akar dibentuk di dalam kandungan, jadi perlu ditelusuri lagi why (kenapa)-nya," kata Ine.

Ine mengilustrasikan diri seseorang  ibarat pohon. Bila pohon tersebut memiliki pondasi yang tidak bagus, kata Ine, semisal pupuknya kurang, pemberian airnya kurang, maka pohon akan cepat ringkih bila terkena angin.Sebaliknya, bila pondasi dari pohon itu kuat, maka pohon tersebut tidak akan mudah terombang-ambing bila ada pengaruh dari lingkungan luarnya.

"Dari kasus ini pondasinya seperti apa, pohon itu dibentuk oleh keluarga, pendidikan, lingkungan sekitar dan sebagainya, jadi saya mempertanyakan bagaimaan pondasi keluarganya sampai teman ibunya tega anak temannya sendiri dijadikan alat untuk dijadikan seperti itu," kata Ine miris.

https://cdn.kriminologi.id/news_picture_thumb/5b3f710e5e3f9-1530884366-0afd7d657f177e8a072a53b2b626c394.jpg

Ine menjelaskan, kalau dari layer pertama yakni keluarga sudah beres (tidak ada masalah), dan dia masuk ke lingkungan sekolah dan terjadi tindak bullying, maka dia akan kembali ke nilai-nilai keluarga. Karena, anak tersebut, kata Ine, sudah dibekali dengan nilai-nilai keluarga yang kuat.

"Ada yang mengingatkan, ada nilai-nilai yang diterapkan oleh orang tua. Tapi, kalau orang tuanya tidak menerapkan nilai-nilai, maka anak akan bebas, tidak ada batasan, dan itu bisa terbentuk sampai dia usia dewasa sekitar usia 40-an tahun," kata Ine.

Bila seseorang sudah terlanjur terjerumus pada tindakan seperti yang dialami oleh Farid alias FS, proses pemulihannya membutuhkan waktu yang panjang. Syarat pemulihannya, kata Ine, hanya satu, yakni kemauan pada diri orang tersebut.

Sebab, kata Ine, bila seseorang sudah berada di usia dewasa, dan jika ia tidak memiliki keinginan dari dalam diri untuk berubah, maka pemulihan atau perubahan itu tidak bisa dilakukan.

"Pelaku bisa diobati, caranya kalau dia mau. Karena orang dewasa itu kalau bukan keinginan dari dia, sulit dilakukan. Tetapi, kalau dia ada keinginan atau ada niat tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya, itu masih okay, setidaknya dia tahu dia punya masalah dan ingin berubah tapi dia enggak tau caranya bagaimana," kata Ine.

Cara pemulihannya, kata Ine, yakni tidak hanya menjalanni proses rehabilitasi saja, melainkan memerlukan tindakan psikoterapi dan konseling. Selain itu, melihat kembali pengalaman-pengalaman buruk apa yang pernah ia alami adalah penting. Hal ini perlu dilakukan sebab, bila seseorang sudah berada dalam posisi pelaku Farid, artinya, ia memerlukan penanganan secara individual.

"Jadi perlu ada psikoterapi dan perlu bantuan psikiater juga," kata Ine.

Langkah awal pemulihan itu, kata Ine, yakni melakukan assesment atau pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui pribadi seseorang seperti apa dan seberapa jauh keinginan dia untuk berubah.

Setelah itu, mengecek apakah orang tersebut perlu penanganan farmakologi oleh psikiater yakni memberikan obat-obatan tertentu atau tidak. Lainnya, seseorang tersebut perlu menjalani proses konseling atau psikoterapi untuk membantu melepaskan diri dari masalah-masalah yang dulu ia alami.

Pengalaman pahit seseorang semisal menjadi korban aniaya, ikut berpengaruh dalam penyembuhan ini. Maka, pengalaman pahit di masa lalunya itu harus dikeluarkan dari diri orang tersebut.

"Dia bisa kita bantu, tapi enggak bisa sekali atau dua kali konseling aja, perlu berkelanjutan," kata Ine.

Tentang prosentase keberhasilannya, Ine tidak tidak bisa menjamin apakah penyembuhan terhadap seseorang yang sudah terpapar seperti kasus yang dialami Farid akan pulih total sebanyak 100 persen.

Karena sekali lagi, kata Ine, pribadi dan pengalaman setiap individu berbeda-beda. Menurutnya, keinginan kuat dari seseorang untuk sembuh  itulah yang menentukan dan mempengaruhi tingkat keberhasilannya.

Reporter: Yenny Hardiyanti
Penulis: Yenny Hardiyanti
Redaktur: Syahrul Munir
KOMENTAR
500/500